Pilihan Changan membawa Deepal S05 REEV ke Indonesia memperlihatkan satu hal penting: pasar elektrifikasi di Tanah Air belum seragam kebutuhannya. Bagi sebagian pengguna, mobil listrik murni sudah cocok, tetapi bagi yang masih memikirkan jarak tempuh dan akses pengisian daya, pendekatan range extended terasa lebih masuk akal.
Setiawan Surya, CEO Changan Indonesia, menilai transisi menuju new energy vehicle harus mengikuti kondisi nyata pasar. Karena itu, Changan melihat REEV sebagai jalan tengah untuk konsumen yang ingin merasakan pengalaman berkendara listrik tanpa sepenuhnya bergantung pada charging station.
Di Indonesia, kekhawatiran soal infrastruktur charging dan jarak tempuh masih menjadi dua ganjalan utama bagi calon pengguna kendaraan listrik. Changan membaca kondisi itu sebagai alasan kuat untuk tidak hanya menawarkan satu jenis teknologi elektrifikasi.
Bagi perusahaan, elektrifikasi tidak perlu dipaksa berjalan dengan pola yang sama untuk semua orang. Ada konsumen perkotaan yang cocok dengan BEV, tetapi ada juga pengguna yang masih membutuhkan fleksibilitas lebih besar untuk perjalanan jauh.
Karena itulah REEV diposisikan sebagai jembatan menuju elektrifikasi penuh. Teknologi ini ditujukan untuk meredam range anxiety yang kerap muncul di tahap awal adopsi mobil listrik, sekaligus memberi ruang bagi konsumen yang belum siap sepenuhnya beralih ke BEV.
Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa Changan tidak sedang menempatkan REEV sebagai pengganti BEV. Perusahaan justru melihat BEV tetap relevan untuk wilayah perkotaan dengan akses pengisian daya yang memadai, sedangkan REEV atau PHEV lebih pas bagi pengguna yang butuh cadangan fleksibilitas lebih besar.
Deepal S05 menjadi model yang dipakai untuk membuka babak itu di Indonesia. Mobil ini belum resmi diluncurkan secara penuh, tetapi sudah diperkenalkan dan ditempatkan di bawah Deepal S07.
Di pasar Tiongkok, Deepal S05 bukan model baru karena sudah meluncur pada 2024. Model ini dibangun di atas arsitektur Changan EPA 1, yang menjadi basis pengembangan untuk pendekatan elektrifikasi yang berbeda.
Menariknya, S05 hadir dalam dua jenis tenaga, yakni BEV dan REEV. Varian BEV tersedia dengan penggerak rear wheel drive dan all wheel drive, sedangkan varian REEV hanya memakai penggerak roda belakang.
Pilihan Changan Indonesia pada versi REEV menunjukkan fokus yang cukup spesifik. Yang diutamakan bukan kelengkapan varian, melainkan kecocokan teknologi dengan tahap perkembangan pasar Indonesia saat ini.
Untuk pasar domestik, spesifikasi resmi Deepal S05 REEV memang belum diumumkan. Harga resminya juga masih belum dipublikasikan hingga sekarang.
Namun, gambaran teknis dari model yang sudah beredar di Thailand memberi petunjuk awal. Mobil ini memakai mesin bakar 1.500 cc yang tidak menggerakkan roda secara langsung, melainkan berfungsi sebagai generator untuk mengisi baterai.
Baterai yang digunakan berjenis lithium ferro phosphate atau LFP dengan kapasitas 27,28 kWh. Tenaga utama tetap datang dari motor listrik di roda belakang, dengan output 218 PS dan torsi 320 Nm.
Konfigurasi itu menegaskan karakter dasar REEV yang tetap menonjolkan sensasi berkendara listrik. Mesin bensin hadir sebagai penopang energi, bukan sebagai sumber penggerak utama ke roda.
Kehadiran Deepal S05 REEV membuat pasar elektrifikasi Indonesia memasuki fase baru. Meski menjadi yang pertama, posisinya tidak akan lama sendirian karena BAIC disebut sedang menyiapkan BJ41e untuk diperkenalkan dan berpeluang dipasarkan dalam waktu dekat.
Source: otodriver.com




