Declan Rice Menolak Salahkan Siapa Pun, Arsenal Tetap Satu Meski Gagal Di Final Liga Champions

Declan Rice memilih merespons kekalahan Arsenal dari Paris Saint-Germain dengan nada tenang, meski hasil final Liga Champions itu sangat menyakitkan. Baginya, laga di Puskas Arena bukan soal mencari kambing hitam, melainkan soal menerima bahwa kemenangan dan kekalahan adalah tanggung jawab bersama.

Sikap itu muncul setelah Arsenal gagal membawa pulang trofi usai kalah lewat adu penalti. Pertandingan di Budapest berlangsung ketat sejak awal, dan Arsenal sempat berada di atas angin lewat gol Kai Havertz sebelum PSG membalas melalui penalti Ousmane Dembele.

Laga kemudian berjalan alot hingga babak tambahan tanpa ada gol penentu. Ketika nasib akhirnya ditentukan dari titik putih, Arsenal kalah 3-4 dan harus melihat PSG memastikan gelar Liga Champions kedua mereka.

Momen paling berat datang saat Gabriel Magalhaes menjadi penendang terakhir Arsenal. Eksekusinya melambung di atas mistar, dan kegagalan itu langsung menutup peluang tim asuhan Mikel Arteta untuk merebut trofi perdana di kompetisi elite Eropa tersebut.

Di tengah kekecewaan besar itu, Rice justru menekankan pentingnya menjaga kebersamaan di ruang ganti. Ia berbicara kepada TNT Sport dan menyebut bahwa detail kecil sering kali menjadi pembeda dalam adu penalti.

Rice menggambarkan situasi seperti itu sebagai lotere. Ia juga mengingatkan bahwa beberapa tim terbaik sepanjang sejarah pernah tumbang lewat cara yang sama di final, sehingga kekalahan Arsenal bukan sesuatu yang harus dibebankan kepada satu pemain saja.

“Ini seperti lotere. Beberapa tim terbaik sepanjang sejarah juga pernah kalah lewat adu penalti di final, dan kali ini kami yang merasakannya. Kami menang dan kalah bersama,” ujar Rice.

Ucapan itu memperlihatkan bahwa Rice ingin mencegah ruang ganti Arsenal terpecah oleh satu kegagalan. Ia menilai seluruh tim sudah bertarung sampai akhir dan layak mendapat penghargaan atas cara mereka menghadapi pertandingan yang ketat.

Rice juga memberikan pembelaan kepada Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes yang gagal menuntaskan tugasnya dari titik penalti. Menurutnya, keduanya tetap memiliki peran besar dalam perjalanan Arsenal sepanjang musim.

Ia menegaskan bahwa kontribusi mereka ikut membantu tim menjuarai Liga Inggris pekan lalu. Karena itu, Rice menilai tidak adil jika dua pemain tersebut hanya dilihat dari kegagalan dalam adu penalti di final.

“Kami mencintai mereka dan kami selalu mendukung mereka. Hal seperti ini memang terjadi dalam sepak bola,” ucapnya.

Bagi Arsenal, kekalahan di Budapest memang meninggalkan luka yang dalam. Namun Rice meminta publik melihat musim ini secara utuh, bukan hanya dari hasil pahit di final.

Ia menyebut perjalanan tim tetap luar biasa karena Arsenal kembali menjadi juara Liga Inggris setelah penantian 22 tahun sejak era The Invincibles 2004. Dari sudut pandang itu, kegagalan di Liga Champions tidak menghapus pencapaian besar yang sudah mereka raih.

“Musim yang luar biasa! Saya sangat kecewa, tetapi saya juga mencoba melihat semuanya secara lebih utuh, mengingat dari mana kami memulai perjalanan ini pada Juli lalu dan di mana posisi kami sekarang. Kami akan kembali,” kata mantan kapten West Ham United itu.

Pernyataan Rice menutup malam yang berat dengan nada optimistis. Arsenal memang pulang tanpa trofi Liga Champions, tetapi mereka tetap membawa modal penting berupa kekompakan, pengalaman final, dan keyakinan bahwa perjalanan mereka di level tertinggi Eropa masih belum selesai.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button