Dari Stasiun Kayu Menjadi Simpul Modern, Antwerpen Centraal Menyatukan Sejarah dan Kereta Cepat

Di Antwerpen, sebuah stasiun tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik turun kereta, tetapi juga sebagai penanda wajah kota yang sulit diabaikan. Antwerpen Centraal menonjol karena memadukan peran transportasi antarkota dan internasional dengan tampilan bangunan monumental yang membuatnya dijuluki Katedral Kereta Api.

Julukan itu tidak muncul tanpa alasan. Dari kejauhan, kubah besar setinggi 75 meter, fasad yang megah, serta perpaduan gaya Neo-Renaisans, Neo-Barok, dan Art Nouveau menjadikan stasiun ini tampak lebih seperti monumen kota daripada fasilitas perjalanan biasa.

Dari bangunan kayu ke ikon kota

Jauh sebelum tampil megah seperti sekarang, stasiun pertama Antwerpen dibuka pada Juni 1836. Pada masa itu, bangunannya sangat sederhana karena hanya terbuat dari kayu dan melayani jalur Brussels, Mechelen, dan Antwerpen.

Perannya lalu membesar setelah jalur internasional ke Belanda dibuka pada 1854. Wajah baru yang dikenal kini kemudian dibangun bertahap antara 1895 hingga 1905 untuk menggantikan bangunan lama yang sudah tidak lagi memadai.

Proyek itu dirancang oleh arsitek Louis Delacenserie. Ia menghadirkan jembatan layang yang indah dan area depan luas yang sekarang dikenal sebagai Koningin Astridplein.

Nama alun-alun tersebut diberikan pada 1935 sebagai penghormatan kepada Ratu Astrid. Hingga kini, area itu tetap menjadi pintu masuk utama bagi warga maupun pendatang yang datang ke stasiun.

Ruang dalam yang dirancang untuk fungsi dan kemegahan

Bagian dalam Antwerpen Centraal memperlihatkan atap besi dan kaca raksasa rancangan insinyur Clément Van Bogaert. Struktur itu dibuat lebih dari 40 meter tingginya agar asap lokomotif uap pada masa lalu dapat keluar lebih baik dan tidak mengganggu penumpang.

Kombinasi rangka baja yang fungsional dan detail batu yang dekoratif membuat bangunan ini kerap disebut sebagai salah satu mahakarya arsitektur dunia. Dari Koningin Astridplein, stasiun ini berdiri seperti pusat visual kota yang langsung menarik perhatian.

Kubahnya bahkan sering dibandingkan dengan Pantheon di Roma karena ukurannya yang besar dan dominan. Perbandingan itu mempertegas kesan bahwa fungsi transportasi dan kemegahan arsitektur hadir berdampingan di satu tempat.

Pernah rusak berat, lalu dipertahankan

Pada Perang Dunia II, Antwerpen Centraal mengalami kerusakan berat akibat hantaman roket V-2. Bangunan utamanya tetap berdiri, tetapi atap besinya melengkung dan bergelombang, dan jejak kerusakan itu masih bisa dilihat sampai sekarang.

Kondisi yang terus memburuk sempat membuat stasiun ini hampir dibongkar pada pertengahan abad ke-20. Namun pada 1986, renovasi besar dilakukan untuk menyelamatkan bangunan bersejarah tersebut.

Perbaikan atap memakai bahan khusus yang lebih ringan dan elastis. Elemen bajanya juga dicat ulang dengan warna merah anggur khas, tanpa menambah pilar penyangga baru.

Berubah menjadi simpul transit modern

Sebelum pembaruan besar, Antwerpen Centraal berfungsi sebagai stasiun ujung sehingga kereta harus berbalik arah saat keluar. Situasi itu berubah lewat proyek renovasi antara 1998 hingga 2007 yang mengubahnya menjadi stasiun transit modern.

Terowongan bawah tanah dibangun untuk membelah kota agar kereta cepat seperti Thalys bisa melintas langsung ke kota lain. Transformasi ini mempercepat perjalanan dan mendapat penghargaan bergengsi tingkat Eropa karena berhasil menyatukan teknologi modern dengan bangunan bersejarah.

Struktur barunya kini terdiri dari empat tingkat lantai. Level +1 masih mempertahankan enam jalur kereta lama, sedangkan Level 0 dipakai untuk loket tiket dan area pertokoan.

Dua lantai bawah tanah, Level -1 dan Level -2, menampung delapan jalur tambahan termasuk jalur khusus kereta berkecepatan tinggi. Tata letak itu membuat stasiun bersejarah ini tetap relevan sebagai pusat mobilitas modern.

Gerbang kota yang lengkap dan mudah dijangkau

Letaknya di Koningin Astridplein membuat Antwerpen Centraal mudah dijangkau dari berbagai titik penting di Antwerpen. Stasiun ini berada dekat Queen Elisabeth Hall dan hanya sekitar 10 menit berjalan kaki ke kawasan perbelanjaan serta pusat sejarah kota.

Sebagai stasiun utama, tempat ini juga berperan sebagai gerbang internasional bagi kereta cepat seperti Eurostar yang menghubungkan Belgia langsung ke Belanda dan Prancis. Fungsi itu membuat Antwerpen Centraal tidak hanya penting bagi perjalanan lokal, tetapi juga bagi jaringan lintas negara.

Fasilitas di dalamnya cukup lengkap, mulai dari toko, bar, hingga tempat penitipan bagasi. Akses bagi penyandang disabilitas didukung lift dan eskalator di setiap peron, sementara koneksi ke bus, trem, dan kereta bawah tanah memudahkan perpindahan penumpang.

Antwerpen Centraal telah dilindungi secara resmi sejak 1975. Keindahan arsitekturnya juga membuat stasiun ini kerap muncul dalam budaya populer, termasuk sebagai lokasi syuting film internasional dan video flash mob yang sempat viral.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version