Banyak orang masih mengira jalan menjadi astronaut hanya terbuka bagi pilot. Padahal, misi luar angkasa modern justru membutuhkan kombinasi kemampuan dari banyak bidang, mulai dari sains, teknik, kesehatan, sampai teknologi digital.
NASA menempatkan latar belakang STEM, pengalaman profesional, dan kemampuan bekerja di sistem yang kompleks sebagai bagian penting dalam seleksi astronaut. Karena itu, peluang menuju luar angkasa tidak sesempit bayangan umum, apalagi ketika kebutuhan misi terus berkembang.
Teknologi digital makin menentukan misi modern
Di antara jalur yang paling relevan saat ini, bidang teknologi, komputer, dan robotika menonjol karena misi luar angkasa semakin bergantung pada sistem digital dan otomatis. Keahlian di area ini membantu operasi berjalan lebih mandiri dan mendukung kerja astronaut di lingkungan yang rumit.
Mengutip arXiv, repositori ilmiah yang dikelola Cornell University, kecerdasan buatan dipakai untuk membantu mengelola sistem pesawat dan mendukung operasi misi secara mandiri. Robot juga digunakan untuk tugas berisiko tinggi di lingkungan ekstrem, sehingga peran ahli teknologi dan robotika makin penting.
Ilmuwan tidak hanya bekerja di bumi
Profesi ilmuwan juga punya tempat besar dalam eksplorasi luar angkasa karena banyak misi membawa misi riset, bukan sekadar kru perjalanan. NASA menjelaskan bahwa astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional tidak hanya berperan sebagai kru, tetapi juga sebagai ilmuwan.
Bidang seperti fisika, biologi, kimia, dan astronomi menjadi relevan karena eksperimen di orbit bisa menyentuh kesehatan manusia, mikroorganisme, hingga teknologi baru. Artinya, ruang angkasa juga menjadi laboratorium yang menuntut kemampuan analitis dan riset yang kuat.
Insinyur menjadi penopang sistem yang rumit
Selain sains, latar belakang teknik sangat dekat dengan kebutuhan astronaut karena misi luar angkasa bergantung pada sistem yang kompleks. Kemampuan memahami, mengoperasikan, dan memperbaiki teknologi menjadi salah satu bekal yang sangat dibutuhkan.
NASA menyebut salah satu syarat utama untuk menjadi astronaut adalah latar belakang di bidang STEM, termasuk fisika, biologi, teknik, dan matematika. Dari sini, insinyur mesin, aerospace, maupun elektro termasuk jalur yang paling selaras dengan tuntutan misi.
Pilot tetap menjadi jalur yang paling dikenal
Di tengah banyaknya pilihan profesi, pilot masih menjadi jalur yang paling sering dikaitkan dengan astronaut. Sejak awal program luar angkasa, banyak astronaut memang berasal dari dunia penerbangan, dan NASA menyebut astronaut pertama yang dipilih pada 1959 seluruhnya merupakan pilot militer.
Pengalaman pilot menghadapi situasi ekstrem dan sistem berisiko tinggi menjadi nilai penting. Pilot uji terbang juga terbiasa dengan teknologi yang rumit, sehingga kemampuan itu sangat relevan saat harus mengendalikan wahana antariksa.
Tenaga medis punya fungsi yang tidak kalah penting
Profesi medis juga masuk dalam jalur yang bisa mengarah ke astronaut karena kesehatan kru harus terus dipantau selama misi berlangsung. NASA menyebut gelar kedokteran seperti Doctor of Medicine dapat memenuhi syarat, dan pengalaman residensi juga dihitung sebagai pengalaman profesional.
Peran tenaga medis menjadi vital saat kru berada di lingkungan yang serba terbatas dan jauh dari fasilitas kesehatan lengkap. Mereka harus siap menangani kondisi darurat sekaligus menjaga kondisi tubuh kru tetap stabil selama misi.
Jika dilihat dari seluruh jalur itu, astronaut ternyata tidak dibangun oleh satu keahlian tunggal. Dunia luar angkasa justru mengandalkan kerja bersama pilot, ilmuwan, insinyur, tenaga medis, dan ahli teknologi yang sama-sama menopang misi dari balik layar maupun di orbit.
Source: www.idntimes.com




