Kentang tidak hanya soal umbi yang mengenyangkan, tetapi juga menyimpan kisah evolusi yang jauh lebih rumit dari dugaan umum. Riset terbaru menunjukkan bahwa tanaman ini muncul dari hibridisasi alami antara tomat liar dan tanaman mirip kentang di dataran tinggi Amerika Selatan.
Temuan itu membuat asal-usul kentang tidak lagi dipandang sebagai cerita sederhana tentang satu garis keturunan. Di balik pangan yang akrab di meja makan ini, ada pertemuan genetik kuno yang ikut membentuk salah satu tanaman paling penting dalam ketahanan pangan dunia.
Jejak gen yang sempat membingungkan
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan kesulitan menjelaskan posisi kentang dalam pohon evolusi. Bentuk tanamannya mirip dengan tiga spesies liar dari Chili yang dikenal sebagai Etuberosum, tetapi kelompok ini tidak membentuk umbi seperti kentang.
Di sisi lain, analisis genetik justru memperlihatkan kedekatan kentang dengan tomat. Sandra Knapp, ahli botani riset dari Natural History Museum di Inggris, menyebut kondisi seperti ini sebagai discordance, yaitu ketika penampilan organisme tidak sejalan dengan petunjuk genetiknya.
Kebingungan itu akhirnya dijawab lewat studi yang terbit di jurnal Cell. Lorenzo Rieseberg dari University of British Columbia menyebut temuan ini sebagai “pergeseran besar” dalam biologi evolusi karena menunjukkan bahwa kentang modern lahir dari sejarah yang lebih kompleks daripada perkiraan sebelumnya.
Ratusan genom membuka asal-usul baru
Tim peneliti internasional kemudian menelaah 450 genom kentang budidaya dan 56 spesies kentang liar. Koleksi ini disebut sebagai kumpulan genom kentang liar paling komprehensif yang pernah diteliti sejauh ini.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kentang modern membawa warisan dari dua leluhur berbeda. Sekitar 60 persen genomnya berasal dari Etuberosum, sedangkan 40 persen lainnya berasal dari tomat.
Pola itu ditemukan hampir seragam pada semua sampel yang diperiksa, baik kentang liar maupun kentang budidaya. Karena hasilnya konsisten, peneliti menilai kentang tidak terbentuk dari pertukaran gen yang berulang-ulang, melainkan dari satu peristiwa hibridisasi purba.
Dua gen yang memicu lahirnya umbi
Selain melacak asal-usul genetik, penelitian ini juga mengungkap peran dua gen penting dalam pembentukan umbi. Gen SP6A berasal dari garis keturunan tomat dan berfungsi sebagai sinyal awal yang memicu pembentukan umbi.
Namun SP6A tidak bekerja sendiri. Gen IT1 dari Etuberosum ikut mengatur pertumbuhan batang bawah tanah, sehingga keduanya dapat menghasilkan ciri khas kentang berupa umbi penyimpan cadangan energi.
Kombinasi itu memberi keuntungan besar bagi tanaman. Umbi membuat kentang mampu bertahan dalam kondisi lingkungan yang keras dan tetap menyimpan energi untuk tumbuh kembali saat situasi membaik.
Pegunungan Andes dan penyebaran kentang
Para peneliti menilai pembentukan kentang berumbi berkaitan erat dengan pengangkatan cepat pegunungan Andes. Perubahan geologi ini menciptakan lingkungan baru yang mendorong munculnya tanaman dengan kemampuan menyimpan nutrisi di bawah tanah.
Umbi juga memberi kentang cara berkembang biak yang efisien. Dari satu umbi, tunas baru bisa tumbuh melalui reproduksi aseksual, sehingga penyebaran tanaman ini berlangsung lebih cepat dan tidak selalu bergantung pada biji.
Kemampuan tersebut membantu kentang meluas di Amerika Selatan sebelum akhirnya menyebar ke berbagai wilayah dunia melalui aktivitas manusia. Dalam konteks pangan global, keberhasilan adaptasi ini menjelaskan mengapa kentang bisa menjadi tanaman yang sangat produktif dan mudah menyesuaikan diri.
Arah baru bagi riset pertanian
Temuan tentang asal-usul kentang tidak hanya penting untuk memahami masa lalu, tetapi juga relevan bagi pengembangan tanaman di masa depan. Sanwen Huang, profesor di Agricultural Genomics Institute di Shenzhen dan salah satu penulis studi, menyebut timnya kini tengah mengembangkan hibrida kentang baru yang bisa diperbanyak melalui benih.
Pendekatan itu dinilai dapat mempercepat pemuliaan tanaman dan membuka peluang lahirnya varietas baru yang lebih efisien. Peneliti juga melihat potensi tomat sebagai “rangka sintetis” dalam biologi molekuler, sehingga kajian ini memberi arah bagi inovasi pertanian yang lebih maju.
Kisah kentang memperlihatkan bahwa pangan yang terlihat sederhana ternyata lahir dari perpaduan gen yang sangat tua. Dari tomat liar, tanaman mirip kentang, dan kondisi ekstrem di Andes, terbentuk umbi yang kemudian menjadi bagian penting dari pangan dunia.
Source: www.idntimes.com