Dari Kursi Kementerian Ke Arah Politik Keras, Ben Gvir Makin Menentukan Wajah Israel

Gelombang kemarahan terhadap Itamar Ben Gvir tidak hanya datang dari lawan politik di dalam Israel. Aksinya yang baru-baru ini beredar luas kembali menegaskan bahwa ia adalah salah satu figur paling keras dan paling memecah belah di pusat pemerintahan Israel.

Sebagai Menteri Keamanan Nasional, Ben Gvir kini berada di posisi yang membuat setiap langkahnya punya dampak politik besar. Ia tidak tampil sebagai tokoh kompromi, melainkan sebagai wajah dari menguatnya arus sayap kanan ekstrem yang terus mendorong kebijakan keras terhadap Palestina.

Dari pinggiran ke ruang pengambilan keputusan

Ben Gvir masuk Knesset pada 2021 sebagai ketua partai Jewish Power. Setahun setelah itu, ia menembus kabinet setelah beraliansi dengan partai Zionisme Religius yang dipimpin Bezalel Smotrich.

Perjalanan itu menempatkannya jauh lebih dekat ke pusat kekuasaan Israel dibanding masa-masa sebelumnya. Dari kursi menteri, ia membawa pandangan politik yang sejak awal lekat dengan gagasan aneksasi Tepi Barat dan dukungan terhadap pemindahan paksa penduduk Arab ke negara tetangga.

Ia tinggal di permukiman radikal di Tepi Barat yang diduduki, wilayah tempat sekitar tiga juta warga Palestina hidup. Dari sana, Ben Gvir terus mendorong pendekatan yang memperkuat kendali Israel atas wilayah pendudukan.

Aksi yang terus memancing reaksi keras

Nama Ben Gvir berulang kali menjadi sorotan karena tindakan yang dianggap provokatif. Ia pernah merayakan pengesahan undang-undang hukuman mati bagi warga Palestina dengan sebotol sampanye, lalu pada kesempatan lain merayakan ulang tahunnya dengan kue berhias simbol tiang gantungan.

Ia juga kerap tampil di lokasi yang sangat sensitif secara politik dan keagamaan. Di kompleks Al-Aqsa, yang oleh umat Yahudi disebut Temple Mount, ia beberapa kali melontarkan slogan keras, termasuk “Hidup rakyat Israel!”.

Kritik terhadapnya datang dari banyak arah. Sejumlah pengamat menilai ia memanfaatkan jabatan untuk menekan kepolisian dan ikut memperbesar ketegangan di titik-titik rawan.

Video yang memicu tekanan baru

Kecaman terbaru muncul setelah Ben Gvir mengunggah video pada Rabu, 20/5. Dalam rekaman itu, ia tampak bersama puluhan aktivis armada bantuan ke Jalur Gaza yang ditahan dalam posisi berlutut, tangan terikat, dan dahi menempel ke tanah.

Video tersebut memancing reaksi keras dari berbagai pihak di Eropa. Italia dan Spanyol mendesak Uni Eropa agar menjatuhkan sanksi terhadap Ben Gvir, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga menegurnya.

Ben Gvir tidak menunjukkan penyesalan. Ia justru menyebut gambar-gambar itu sebagai sumber kebanggaan besar, sikap yang kembali memperlihatkan bagaimana ia merespons kritik dengan tantangan terbuka.

Mengeras setelah perang Gaza pecah

Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang di Gaza pecah, nada politik Ben Gvir semakin tajam. Ia mendorong warga sipil untuk dipersenjatai, menyerukan emigrasi penduduk Gaza, dan mengusulkan pembangunan kembali permukiman Israel di wilayah kantong itu.

Sikap keras itu juga terlihat dalam pernyataan publik lain. Pada November lalu, ia menyatakan dukungan penuh kepada pasukan Israel yang menembak mati dua warga Palestina dari jarak dekat setelah mereka menyerah di Jenin, Tepi Barat.

Di platform X, Ben Gvir menulis, “Teroris harus mati!”. Pernyataan itu mempertegas citranya sebagai politisi yang menjadikan bahasa ekstrem sebagai bagian dari sikap politiknya.

Akar ideologi yang panjang

Retorika Ben Gvir tidak lepas dari pengaruh rabi ekstremis Meir Kahane. Ia juga pernah mendukung gerakan Kach, yang kemudian dilarang di Israel setelah simpatisannya, Baruch Goldstein, membunuh 29 jemaah Palestina di sebuah masjid di Hebron pada 1994.

Ben Gvir pernah memajang potret Goldstein di ruang tamunya sebelum menurunkannya ketika mulai masuk ke politik arus utama. Riwayat pribadinya juga diwarnai benturan panjang dengan hukum, termasuk lebih dari 50 dakwaan atas tuduhan penghasutan kekerasan atau ujaran kebencian saat ia masih muda.

Ia mengklaim bebas dari 46 dakwaan dan kemudian belajar hukum untuk membela dirinya sendiri. Kepada AFP pada 2022, ia mengatakan dirinya telah berubah, meski tidak sepenuhnya meninggalkan pandangan lama, dan mengakui pernah ingin mengusir semua orang Arab tanpa meminta maaf atas ucapannya itu.

Kombinasi antara jabatan, ideologi keras, dan gaya bicara konfrontatif membuat Ben Gvir tetap menempati posisi penting dalam politik Israel. Di saat banyak tokoh berusaha meredam ketegangan, ia justru terus menjadikan konfrontasi sebagai bagian dari identitas politiknya.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button