Dari Kuliner Murah ke Wisata Akhir Pekan, Waduk Sonorejo Menarik Ribuan Pengunjung

Arus pengunjung ke Waduk Sonorejo di Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan, kini menunjukkan perubahan yang mencolok. Setiap akhir pekan, kawasan ini disebut bisa dipadati ribuan orang yang datang untuk menikmati suasana waduk sekaligus kuliner di sekitarnya.

Keramaian itu ikut menghadirkan pergerakan kendaraan yang padat di area sekitar pujasera. Motor dan kereta kelinci terlihat silih berganti melintas, menandai bahwa waduk ini tidak lagi sekadar ruang tenang di pinggiran desa, melainkan tujuan singgah baru bagi warga dari berbagai daerah.

Dari kuliner sederhana ke tujuan akhir pekan

Daya tarik utama Waduk Sonorejo lahir dari gabungan yang sederhana tetapi efektif. Pengunjung datang bukan hanya karena pemandangan waduk, tetapi juga karena sentra makanan dan minuman yang tumbuh di sekitarnya.

Sejumlah warga dari Bojonegoro, Blora, Ngawi, hingga Yogyakarta disebut ikut berkunjung, terutama pada Sabtu dan Minggu. Pola kedatangan itu menunjukkan bahwa kawasan ini mulai dikenal melampaui lingkup lokalnya.

Kesan pengunjung dan harapan pengembangan

Salah satu pengunjung, Eka Mellinia dari Kecamatan Sumberrejo, mengaku baru pertama kali datang ke lokasi tersebut. Ia menilai kesan awalnya cukup baik, terutama karena harga makanan dan minuman terasa ekonomis.

Eka juga melihat area dekat waduk masih tergolong bersih, meski tetap ada sampah yang terlihat. Menurut dia, kawasan ini sudah layak direkomendasikan sebagai wisata lokal di Kota Ledre, tetapi pengelola masih perlu menambah inovasi agar daya tariknya makin kuat.

Ia menyebut beberapa wahana air sebagai contoh pengembangan yang dinilai cocok untuk kawasan itu, seperti perahu, bebek pancal, dan sepeda pancal air. Tambahan fasilitas semacam itu dinilai dapat membuat kunjungan tidak hanya bertumpu pada kuliner.

Jejak pengembangan sejak 2023

Kepala Desa Sonorejo, Sundoko, menjelaskan bahwa konsep wisata desa ini mulai digarap sejak 2023. Proposalnya sendiri sudah masuk ke desa pada 2020, setelah ia menjabat pada akhir 2019.

Menurut Sundoko, perhatian publik terhadap Waduk Sonorejo mulai menguat setelah unggahan tentang Pecel Pincuk Waduk Sonorejo menyebar di media sosial. Dari titik itu, pengembangan kawasan bergerak lewat TWS atau Taman Waduk Sonorejo, lalu berlanjut ke AWS atau Angkringan Waduk Sonorejo.

Sundoko juga mengatakan sempat ada rencana memakai nama Pesona Sonorejo sebagai ikon kawasan. Namun, bangunan yang berdiri di lahan Solo Valley masih berstatus semi permanen karena wilayah tersebut berada dalam perjanjian kerja sama dengan BBWS.

Aktivitas warga ikut terdorong

Di tengah status lahan yang belum sepenuhnya permanen, pengelola tetap membuka ruang pemanfaatan yang lebih luas. Waduk Sonorejo juga terbuka untuk camping dan outbond, sehingga pilihan aktivitas pengunjung tidak hanya bergantung pada wisata kuliner.

Skema sewa yang diterapkan pun disebut cukup ekonomis untuk memberdayakan warga sekitar. Bangunan dipatok Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan, sedangkan lapak pedagang seperti pentol, siomay, dan dagangan sejenis dikenai sekitar Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per hari.

Tidak ada sewa lahan dalam skema yang berlaku saat ini. Kebijakan itu membuat pelaku usaha kecil di sekitar waduk ikut merasakan pergerakan wisata yang terus tumbuh, terutama saat akhir pekan.

Dengan kombinasi pemandangan waduk, harga makanan yang relatif terjangkau, dan peluang usaha bagi warga, Waduk Sonorejo terus berkembang menjadi ruang wisata yang ramai dibicarakan. Kawasan ini kini berdiri sebagai contoh bagaimana pujasera sederhana dapat berubah menjadi magnet baru bagi pengunjung dari berbagai daerah.

Source: radarbojonegoro.jawapos.com
Exit mobile version