Dari Gejolak Global ke Meja Makan, Harga Pangan Jatim Tertekan Cuaca dan Lonjakan Permintaan

Harga pangan di Jawa Timur belum menunjukkan tanda benar-benar stabil, terutama pada komoditas yang dekat dengan kebutuhan harian rumah tangga. Di tengah situasi itu, Wiwin Sumrambah dari Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim menilai tekanan harga muncul dari gabungan faktor global, permintaan yang meningkat, dan cuaca ekstrem yang mengganggu produksi.

Tekanan tersebut membuat pasar menjadi lebih sensitif ketika pasokan terganggu. Karena itu, gejolak kecil di sisi produksi atau distribusi dapat cepat mendorong harga kebutuhan pokok bergerak naik.

Efek global ikut terasa di dapur rumah tangga

Wiwin melihat situasi geopolitik dunia ikut memberi dampak ke harga bahan bakar minyak. Dampaknya tidak berhenti di sektor energi, tetapi merambat ke biaya distribusi dan produksi pangan.

Ketika ongkos distribusi naik, harga barang pokok di pasar ikut terdorong. Pola ini membuat kenaikan harga pangan di daerah tidak hanya ditentukan oleh kondisi panen, tetapi juga oleh faktor luar yang sulit dikendalikan dari level lokal.

Permintaan bertambah, pasar makin mudah bergejolak

Selain tekanan dari luar negeri, kebutuhan pangan di dalam daerah juga ikut naik. Wiwin menyoroti meningkatnya permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis melalui Dapur SPPG.

Menurut dia, permintaan yang lebih besar membuat harga lebih mudah bergerak saat pasokan tidak stabil. Dalam kondisi seperti ini, pasar menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi, terutama pada komoditas yang stoknya tidak selalu aman.

Cuaca yang tidak menentu dalam beberapa bulan terakhir juga memperburuk situasi. Kondisi itu berdampak langsung pada hasil pertanian dan membuat produksi petani terganggu.

Sejumlah komoditas masih naik

Data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok atau Siskaperbapo Jawa Timur menunjukkan beberapa harga masih bergerak naik selama Mei 2026. Beras premium tercatat di kisaran Rp14.870 per kilogram, sementara minyak goreng kemasan premium mencapai Rp21.714 per liter.

Di sisi lain, harga daging sapi paha belakang berada di level Rp124.156 per kilogram. Cabai dan minyak goreng juga menjadi komoditas yang mengalami fluktuasi cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Inflasi pangan belum mereda

Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di provinsi itu. Pada April 2026, inflasi tahunan Jawa Timur tercatat 2,85 persen, dengan beras, minyak goreng, tahu, tempe, dan tomat masih mengalami kenaikan harga.

Sebelumnya, BPS Jawa Timur juga mencatat inflasi Maret 2026 sebesar 0,39 persen. Pada periode itu, kenaikan harga cabai dan daging menjadi pemicu utama.

Bagi Wiwin, rangkaian data tersebut menunjukkan gejolak harga pangan belum sepenuhnya reda. Ia menilai pemerintah provinsi perlu bergerak cepat agar tekanan harga tidak semakin luas dirasakan rumah tangga.

Dorongan langkah pengendalian dari bawah

Fraksi PDI Perjuangan meminta Pemprov Jatim menyiapkan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga. Langkah itu dinilai penting agar lonjakan di pasar tidak terus membebani masyarakat.

Wiwin juga mendorong pemerintah daerah memperluas bantuan bibit tanaman pangan kepada masyarakat. Bantuan tersebut, menurut dia, tidak seharusnya hanya menyasar petani, tetapi juga warga umum agar bisa ikut menanam kebutuhan pangan sendiri.

Sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan, PDI Perjuangan mengembangkan program Posko Pangan di Kabupaten Jombang. Melalui program itu, kader partai dan masyarakat menanam berbagai tanaman pangan alternatif pengganti beras di lahan yang disiapkan.

Wiwin menilai ketahanan pangan perlu dibangun dari tingkat keluarga dan masyarakat. Dengan begitu, rumah tangga tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar saat harga sedang bergejolak.

Source: pdiperjuangan-jatim.com
Exit mobile version