Di banyak titik Jawa Barat, penyembelihan hewan kurban justru berubah jadi kerja ekstra yang menguras tenaga. Dari sapi yang kabur ke kebun, menyeruduk warga, sampai menghilang ke hutan, momen Idul Adha 1447 di sejumlah daerah menghadirkan ketegangan yang tidak terduga.
Situasi paling berat bahkan terjadi di Kabupaten Sukabumi saat seekor sapi kurban lari ke kawasan hutan dan semak belukar. Pencarian berlangsung semalaman dengan bantuan senter, sementara warga harus membuka jalan di antara rerumputan liar yang tingginya sampai dada orang dewasa.
Kabur ke hutan, ditemukan di tepi sungai
Sapi besar itu mengamuk lalu lari ke hutan di Desa Mekarjaya, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, pada Selasa sore. Saat pencarian berlanjut hingga malam, panitia dan warga menyisir area gelap yang minim penerangan.
Keesokan paginya, hewan itu ditemukan di area sungai berarus deras. Sapi tersebut bersembunyi di balik semak-semak lebat di tebing bibir Sungai Citarik sebelum akhirnya dipindahkan dan disembelih di lokasi penemuan.
Proses penangkapan juga tidak sederhana. Warga harus menyeberangi sungai berbatu dengan arus yang sangat deras, sementara beberapa pria turun ke air memakai tongkat bambu untuk menahan hantaman arus.
Tasikmalaya jadi lokasi lari terjauh
Di Kabupaten Tasikmalaya, kepanikan juga sempat terjadi di Kampung Cipatangga, Desa Puspasari, Kecamatan Puspahiang. Seekor sapi mendadak mengamuk saat hendak diturunkan dari mobil bak terbuka, lalu berlari kencang sejauh 4 kilometer dan masuk ke area perkebunan.
Warga yang mengejar justru diseruduk hingga beberapa orang terjatuh dan nyaris terluka. Perburuan berlangsung dramatis sampai sapi itu akhirnya bisa dilumpuhkan.
Panitia menyebut hewan tersebut tidak bisa melangkah lebih jauh karena masuk ke kebun dengan kontur tanah miring. Di lokasi lain di Tasikmalaya, suasana juga sempat ricuh saat seekor sapi cokelat mengamuk di Kampung Padaluyu, Desa Puspahiang.
Sapi itu meronta berulang kali ketika hendak disembelih dan nyaris menendang warga di sekitarnya. Kondisi baru terkendali setelah panitia menarik tali di bagian kaki sapi sampai hewan itu jatuh.
Bagi warga setempat, kejadian seperti ini bukan hal yang asing saat Idul Adha. Meski sempat memicu kepanikan, insiden tersebut tidak menimbulkan korban luka serius.
Bandung dan Sumedang ikut merasakan paniknya
Peristiwa serupa juga muncul di Kota Bandung. Di RT 01 RW 04, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, seekor sapi putih mengamuk saat hendak disembelih dan membuat dua warga mengalami luka ringan.
Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 10.30 WIB saat sapi diturunkan dari truk. Diduga hewan tersebut stres lalu menyerang kerumunan warga sebelum akhirnya bisa diantisipasi.
Lurah Ledeng Andhika Satrya menyampaikan lokasi penyembelihan berada di lahan kosong, sehingga tidak berdampak ke permukiman. Ia juga menyebut sapi langsung dibius ketika mengamuk agar situasi cepat terkendali.
Di Kabupaten Sumedang, sapi kurban pemberian Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir juga sempat membuat panik. Hewan itu hampir masuk ke area pelayanan pembuatan SIM dan BPKB Satlantas Polres Sumedang saat proses penyembelihan berlangsung.
Seorang tukang jagal bernama Bulat mengalami luka ringan di bagian tangan. Sejumlah fasilitas, termasuk tiang pembatas jalur ujian SIM, ikut rusak berserakan karena sapi terus memberontak.
Sapi besar butuh tenaga lebih banyak
Di Kota Sukabumi, perhatian warga tertuju pada sapi bernama Predator, bantuan kemasyarakatan dari Presiden RI Prabowo Subianto. Sapi jenis simental itu berbobot sekitar 1,2 ton dan diserahkan ke Pondok Pesantren Miftahussa’adah di Cigunung, Kecamatan Warudoyong.
Karena ukurannya sangat besar, penyembelihan sapi tersebut membutuhkan tenaga ekstra. Tiga petugas jagal dibantu tujuh santri untuk melumpuhkan hewan itu dengan menarik tali tambang di bagian kaki.
Pimpinan pondok pesantren H Ismatullah mengatakan proses penyembelihan ditangani orang yang profesional. Ia juga menyebut tim sudah disiapkan agar pekerjaan berjalan lancar.
Rangkaian kejadian di berbagai daerah itu menunjukkan bahwa kurban tak selalu berjalan tenang di lapangan. Di beberapa titik Jawa Barat, petugas dan warga harus bergerak cepat menghadapi hewan yang lepas kendali, mulai dari halaman penyembelihan hingga ke kebun, lahan kosong, dan hutan.
Source: www.detik.com