Danau Karo Dan Benteng De Brill Dijaga Bersama, Warga Kawasi Menegaskan Jejak Obi

Di tengah kawasan industri yang terus berkembang di Pulau Obi, warga Desa Kawasi dan Harita Nickel memilih menaruh perhatian pada jejak sejarah yang tidak kalah penting dari aktivitas tambang. Danau Karo dan Benteng De Brill menjadi dua penanda utama yang kembali disorot lewat kegiatan Jelajah Warisan Budaya di Kawasan Industri Obi.

Kegiatan itu diikuti lebih dari 30 warga Kawasi pada Sabtu, 23 Mei 2026. Melalui kunjungan lapangan tersebut, warga diajak melihat langsung situs yang dianggap menyimpan nilai sejarah, budaya, dan lingkungan bagi masyarakat Obi.

Warisan yang tidak berdiri sendiri

Jelajah Warisan Budaya dirancang sebagai ruang pertemuan antara masyarakat, pemerintah desa, dan perusahaan. Dua tokoh pemuda Desa Kawasi, Jofi Cako dan Teo Jurumudi, memandu jalannya kunjungan bersama tim perusahaan.

Jofi menilai kegiatan semacam itu penting karena warisan budaya di Kawasi dan Pulau Obi tidak hanya berkaitan dengan masa lalu. Menurut dia, warisan itu adalah milik lintas generasi yang perlu dijaga bersama.

Bagi warga, kunjungan seperti ini juga memberi cara baru untuk melihat wilayah yang selama ini hidup berdampingan dengan aktivitas industri. Jalur yang disiapkan menghubungkan lokasi-lokasi yang punya makna sejarah, budaya, dan lingkungan bagi masyarakat setempat.

Danau Karo sebagai ruang hidup dan ingatan

Salah satu tujuan utama rombongan adalah Danau Karo, danau alami yang lama dikenal sebagai sumber air bersih bagi desa-desa di lingkar Pulau Obi. Di mata warga Kawasi, danau ini bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga ruang yang menyimpan nilai budaya dan spiritual yang diwariskan turun-temurun.

Di lokasi tersebut, peserta mendapat penjelasan mengenai pemanfaatan Danau Karo sebagai salah satu sumber air untuk operasional industri. Perusahaan juga menjelaskan pemantauan kualitas air yang dilakukan secara berkala, disertai program penghijauan dan revegetasi di sekitar kawasan danau.

Tetua adat Desa Kawasi, Otniel Datang, menyebut masyarakat mengenal Danau Karo dengan nama lokal Talaga Diki-Diki dan Talaga Ma Hilo dalam bahasa Tobelo. Ia menjelaskan bahwa sebutan itu terkait kebiasaan warga lama mengambil getah damar di sekitar danau untuk kebutuhan penerangan.

Jejak keluarga dan pandangan warga

Kedekatan warga dengan Danau Karo juga tampak dari kisah yang disampaikan Teo Jurumudi. Ia mengungkap bahwa keluarganya dahulu termasuk sekitar sepuluh kepala keluarga yang pernah tinggal di pulau kecil di tengah danau.

Bagi Teo, pengalaman itu membuat Danau Karo memiliki ikatan emosional yang kuat dengan sejarah keluarga dan masyarakat Kawasi. Karena itu, ia menilai kunjungan langsung penting agar generasi muda mengenal situs-situs bersejarah yang ada di Pulau Obi.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa Kawasi, Reinhard Siar, juga mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia mengatakan warga bisa melihat sendiri bahwa area sekitar Danau Karo masih terjaga, airnya jernih, dan lingkungan di sekitarnya tetap hijau.

Reinhard menambahkan bahwa danau itu juga memberi manfaat bagi daerah melalui pajak air permukaan yang dibayarkan perusahaan. Menurut dia, kondisi di lapangan menunjukkan situasi alam di sekitar kawasan tidak seperti isu yang kerap muncul dari luar.

Benteng De Brill dan perhatian pada situs sejarah

Dari Danau Karo, rombongan melanjutkan perjalanan ke Benteng De Brill. Benteng peninggalan kolonial Belanda itu dibangun pada 1674 di Pulau Obi dan dahulu dipakai untuk menjaga monopoli perdagangan rempah-rempah.

Sebelum kembali ditemukan, benteng tersebut sempat tertutup vegetasi. Pada awal operasional Harita Nickel di Obi, situs itu dibersihkan dan kemudian tercatat sebagai cagar budaya di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Maluku Utara bersama Harita Nickel.

Status itu menunjukkan bahwa situs sejarah di kawasan industri tetap mendapat perhatian dalam pengelolaan wilayah. Bagi warga Kawasi, kehadiran industri tidak menghapus pentingnya ruang-ruang yang menyimpan memori kolektif Pulau Obi.

Komitmen menjaga area bernilai budaya

Head of Technical Support Harita Nickel, Dian Kristiyanto, menjelaskan bahwa perusahaan menjalankan operasional pertambangan dengan memperhatikan keselamatan, lingkungan, sosial kemasyarakatan, dan kepatuhan terhadap regulasi. Ia menegaskan bahwa Danau Karo dan Benteng De Brill dipandang sebagai area yang memiliki fungsi lingkungan sekaligus nilai sejarah.

Dian mengatakan perusahaan menetapkan batas dan perimeter khusus untuk melindungi area tersebut dari aktivitas pertambangan maupun smelter. Perlindungan itu dilakukan agar kelestarian situs dan kawasan bernilai budaya tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Ia juga menyebut penerapan Chance Find Procedure sebagai bagian dari komitmen perusahaan. Melalui prosedur itu, pekerjaan dihentikan sementara jika ditemukan indikasi benda atau situs bernilai sejarah dan budaya, lalu area diamankan sambil dikoordinasikan dengan pihak terkait.

Bagi warga Kawasi, penjagaan warisan budaya berarti menjaga ingatan, cerita lama, dan hubungan mereka dengan Pulau Obi agar tetap hidup di tengah berkembangnya kawasan industri. Danau Karo dan Benteng De Brill pun terus dipandang sebagai penanda penting yang menghubungkan sejarah lokal dengan masa kini.

Source: www.medcom.id
Exit mobile version