Danantara Soroti Kekosongan Emiten Teknologi, IHSG Masih Tertinggal Dari Taiwan Dan Korea Selatan

Kekurangan emiten teknologi kembali jadi sorotan ketika pasar saham Indonesia melemah dan sulit menawarkan cerita pertumbuhan baru yang meyakinkan. Dari sudut pandang BPI Danantara, persoalannya bukan hanya tekanan pada IHSG, tetapi juga struktur pasar yang masih terlalu bergantung pada sektor lama.

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menilai Indonesia perlu memperkuat daya tarik yang lebih kreatif agar bisa bersaing dengan pasar lain di tengah tekanan geopolitik global. Ia juga menyebut bahwa persoalan penyesuaian indeks global MSCI sudah relatif tertangani oleh regulator pasar modal, sehingga perhatian berikutnya seharusnya tertuju pada lahirnya sumber pertumbuhan baru dari korporasi domestik.

Pasar yang paling menarik justru ada di teknologi

Pandu menilai bursa yang paling menarik di Asia saat ini berada di Taiwan dan Korea Selatan. Menurut dia, kedua pasar itu berhasil menarik minat investor karena punya eksposur kuat terhadap industri teknologi dan kecerdasan buatan atau AI.

Ia melihat tema besar perekonomian global saat ini memang berputar pada AI. Bahkan, pembahasan teknologi disebut sudah bergerak lebih jauh menuju General Intelligence atau AGI, yang membuat pasar dengan emiten teknologi besar semakin dilirik.

Di sisi lain, IHSG justru tercatat terkoreksi sekitar 20 persen secara year to date. Pada saat yang sama, struktur emiten domestik masih didominasi perbankan dan pertambangan, sehingga pasar dinilai belum memiliki pilar baru yang cukup kuat.

Mengapa Taiwan dan Korea Selatan dijadikan pembanding

Perbandingan paling mencolok datang dari Taiwan yang memiliki TSMC sebagai emiten teknologi berkapitalisasi besar. Pandu menyebut nilai pasar perusahaan semikonduktor itu bahkan lebih besar daripada gabungan seluruh perusahaan di Asia Tenggara.

Bagi Danantara, contoh itu penting karena menunjukkan betapa besar pengaruh satu perusahaan teknologi terhadap persepsi investor terhadap sebuah pasar. Indonesia, menurut Pandu, belum memiliki emiten dengan bobot serupa yang bisa menjadi simbol pertumbuhan baru.

Sorotan yang sama juga diarahkan ke Korea Selatan. Kinerja pasar negara itu disebut year to date sekitar 80 persen, dan daya dorongnya erat dengan tema AI yang sedang kuat di pasar global.

Tantangan Indonesia bukan hanya pulih, tetapi menemukan jangkar baru

Minimnya emiten yang mengikuti arus teknologi global dinilai sebagai kelemahan mendasar pasar modal Indonesia. Pandu menegaskan bahwa belum ada perusahaan di Indonesia yang benar-benar ikut dalam tren AI, padahal tema ini sedang menjadi penggerak utama minat investor di banyak pasar.

Ia juga menilai sektor energi nasional sebenarnya punya peluang untuk terhubung dengan perkembangan ekosistem AI. Kebutuhan energi menjadi bagian penting dari kemajuan teknologi tersebut, sehingga sektor itu dinilai seharusnya bisa ikut mengambil peran.

Namun, daya tarik saham perbankan belum bisa sepenuhnya menutup kebutuhan akan cerita pertumbuhan baru. Pandu mencontohkan dividen saham Bank Mandiri yang masih berada di level menarik, dengan imbal hasil sekitar 11 persen, tetapi menurutnya itu tetap belum cukup bila pasar tidak menghadirkan prospek masa depan yang lebih kuat.

Karena itu, pertanyaan yang mengemuka bukan hanya siapa yang bisa membantu IHSG berbalik arah. Lebih jauh, Danantara melihat tantangan utama pasar modal Indonesia ada pada pencarian emiten teknologi masa depan yang bisa menjadi penopang baru, sekaligus menjawab pertanyaan siapa yang akan menjadi TSMC berikutnya di Indonesia.

Baca Juga

Back to top button