Dakwaan Untuk Raul Castro, Trump Makin Menekan Kuba Dari Jalur Hukum Hingga Ekonomi

Dakwaan terhadap Raul Castro menjadi sinyal bahwa Washington tidak lagi hanya mengandalkan tekanan ekonomi untuk menekan Kuba. Pemerintah Amerika Serikat di bawah Donald Trump kini membawa konflik lama itu ke ranah pidana, dengan menyasar salah satu tokoh paling simbolik dalam sejarah pemerintahan Kuba.

Langkah tersebut datang dari Miami dan langsung memicu perhatian karena Raul Castro bukan nama kecil dalam politik Kuba. Meski usianya kini 94 tahun, ia masih dipandang sebagai figur berpengaruh setelah kematian Fidel Castro pada 2016, sehingga dakwaan ini memiliki bobot politik yang besar.

Kasus lama yang dibuka kembali

Dakwaan itu terkait penembakan dua pesawat sipil milik kelompok pengasingan Kuba, Brothers to the Rescue, pada 1996. Dalam insiden itu, empat orang tewas, yakni Carlos Costa, Armando Alejandre Jr, Mario de la Pena, dan Pablo Morales.

Saat peristiwa terjadi, Raul Castro menjabat sebagai menteri pertahanan Kuba. Ia kini didakwa dengan satu tuduhan konspirasi untuk membunuh warga AS, empat tuduhan pembunuhan, dan dua tuduhan penghancuran pesawat.

Pemerintah Kuba saat itu menyebut penembakan itu sebagai respons sah atas pelanggaran berulang wilayah udaranya. Fidel Castro juga menyatakan militer bertindak berdasarkan perintah tetap untuk menembak jatuh pesawat yang memasuki wilayah Kuba.

Namun, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional kemudian menyimpulkan pesawat itu ditembak jatuh di atas perairan internasional. Washington kala itu mengecam serangan tersebut dan menjatuhkan sanksi, meski dakwaan pidana terhadap kedua bersaudara Castro baru muncul belakangan.

Pesan keras dari Washington

Jaksa agung sementara AS Todd Blanche menyebut dakwaan ini sebagai momen bersejarah. Ia mengatakan ini adalah pertama kalinya dalam hampir 70 tahun seorang pimpinan senior rezim Kuba didakwa di Amerika Serikat atas tindakan kekerasan yang menewaskan warga AS.

Pada hari yang sama, Trump juga mengirim pesan politik yang tegas. Ia mengatakan Amerika tidak akan mentolerir negara nakal yang menjalankan operasi militer, intelijen, dan teror asing hanya 90 mil dari wilayah AS.

Nada keras itu sejalan dengan langkah pemerintahannya yang sudah memperketat sanksi terhadap Kuba sejak kembali menjabat untuk masa kedua. Trump juga memberlakukan blokade bahan bakar de facto untuk menekan perubahan kepemimpinan di Havana.

Tekanan ekonomi makin dalam

Dakwaan pidana ini muncul ketika tekanan ekonomi terhadap Kuba juga semakin berat. Sejak 1960-an, Washington mempertahankan embargo dagang terhadap Kuba, yang menjadi embargo terpanjang terhadap negara mana pun dalam sejarah modern.

Pada Januari, Trump memutus pertukaran dana dan bahan bakar antara Venezuela dan Kuba. Setelah itu, ia mengancam sanksi ekonomi terhadap negara mana pun yang memasok bahan bakar ke Kuba, sehingga blokade atas pasokan minyak asing Kuba menjadi semakin kuat.

Ketergantungan Kuba pada impor minyak membuat dampaknya terasa langsung. Infrastruktur yang menua mendorong pulau itu ke pemadaman listrik di seluruh wilayah dalam beberapa bulan terakhir, di tengah krisis ekonomi yang sudah sangat berat.

Marco Rubio, menteri luar negeri AS yang juga keturunan Kuba, ikut merespons lewat pernyataan video di X. Ia menyalahkan kepemimpinan saat ini atas masalah ekonomi dan kemanusiaan di Kuba, serta menegaskan kembali tawaran bantuan kemanusiaan AS senilai 100 juta dolar sebagai imbalan atas reformasi.

Riwayat panjang Raul Castro dan hubungan yang naik turun

Raul Castro lahir pada 1931 dan memainkan peran sentral bersama Fidel dalam gerakan pemberontakan yang menggulingkan Fulgencio Batista, pemimpin yang didukung AS. Ia juga membantu menahan invasi Teluk Babi pada 1961 dan kemudian menjadi salah satu tokoh utama Revolusi Kuba.

Ia menjabat sebagai menteri angkatan bersenjata Kuba dari 1959 hingga 2008. Posisi itu menjadikannya salah satu menteri pertahanan dengan masa jabatan terpanjang di dunia, dan ia juga menjadi anggota Politbiro Partai Komunis dari 1965 hingga 2021.

Setelah menggantikan Fidel sebagai presiden pada 2008, Raul Castro sempat memimpin periode mencairnya hubungan dengan Washington di bawah Barack Obama. Pada 2013, Castro dan Obama berjabat tangan di upacara peringatan Nelson Mandela di Johannesburg.

Setahun kemudian, kedua pemerintah mengumumkan rencana memulihkan hubungan diplomatik dan membuka kembali kedutaan setelah lebih dari lima dekade permusuhan. Obama kemudian mengunjungi Havana pada 2016, menjadi presiden AS yang sedang menjabat pertama yang datang ke Kuba dalam 88 tahun.

Hubungan itu kembali memburuk pada masa jabatan pertama Trump. Pada 2019, Washington menjatuhkan sanksi terhadap Castro dan melarangnya masuk ke AS karena dukungan Kuba terhadap pemerintahan Maduro di Venezuela serta dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Dampak politik yang lebih luas

Pemerintah Kuba mengecam dakwaan baru ini sebagai langkah politis. Presiden Miguel Diaz-Canel menyebut penembakan pesawat pada 1996 sebagai tindakan pembelaan diri yang sah dan menuduh AS mengetahui bahwa tidak ada tindakan ceroboh atau pelanggaran hukum internasional.

Diaz-Canel juga menyebut dakwaan itu sebagai manuver politik tanpa dasar hukum yang bertujuan menyusun berkas untuk membenarkan gagasan agresi militer terhadap Kuba. Ia menegaskan Kuba akan tetap berjalan di jalur kedaulatan menuju pembangunan sosialis meski menghadapi embargo, sanksi, dan ancaman penggunaan kekuatan.

Sejumlah laporan menyebut Trump ingin melihat Diaz-Canel disingkirkan dari jabatan presiden Kuba. Di saat yang sama, pemerintah AS disebut telah berbicara dengan beberapa tokoh, termasuk Raul “Raulito” Rodriguez Castro, cucu Raul Castro, dan Alejandro Castro Espin, putranya.

Jurnalis dan sejarawan Javier Farje menilai Washington mungkin lebih tertarik pada transformasi politik-ekonomi bertahap ketimbang perubahan rezim secara langsung. Ia juga melihat tekanan keras Trump bisa menjadi taktik negosiasi untuk memperoleh konsesi, termasuk pelepasan tahanan dan pembukaan ekonomi untuk minyak.

Farje menambahkan bahwa serangan militer terhadap Kuba berisiko memicu arus besar pengungsi ke Amerika Serikat. Risiko itu bertabrakan dengan agenda pembatasan imigrasi yang menjadi salah satu prioritas Trump, sementara Washington tetap ingin memperkuat sektor swasta Kuba melalui kebijakan yang sudah membuka ekspor solar ke usaha kecil di pulau itu.

Baca Juga

Back to top button