Penyelidikan federal Amerika Serikat kini menyoroti sebuah catatan yang diduga ditulis oleh Cole Tomas Allen, pria berusia 31 tahun yang ditahan usai penembakan di acara White House correspondents’ dinner yang dihadiri Presiden Donald Trump. Dokumen itu tidak hanya memuat dugaan kemarahan terhadap kebijakan pemerintahan Trump, tetapi juga daftar orang dan lembaga yang disusun sebagai target prioritas.
Catatan tersebut menjadi perhatian karena memberi gambaran tentang cara Allen memetakan sasaran, sekaligus alasan yang menurut penyidik melandasi tindakannya. Meski isi lengkapnya masih terus diperiksa, bagian-bagian di dalam tulisan itu sudah cukup menunjukkan adanya kombinasi antara amarah politik, pesan moral, dan ancaman terhadap sejumlah pihak.
Daftar sasaran yang dipisah-pisahkan
Menurut dua pejabat penegak hukum yang berbicara kepada The New York Times, catatan itu disusun dengan urutan target dari jabatan paling tinggi ke paling rendah. Fokus utamanya adalah pejabat pemerintahan, yang ditempatkan di bagian teratas daftar.
Di dalam tulisan itu tertulis “pejabat administrasi (tidak termasuk Mr. Patel)” sebagai target utama. Frasa tersebut diduga merujuk pada Direktur FBI Kash Patel, meski penyidik belum menjelaskan alasan namanya dikecualikan dari daftar sasaran.
Catatan itu juga mengelompokkan unsur keamanan lain dengan batasan berbeda. Secret Service disebut dapat menjadi “target hanya jika diperlukan”, sementara keamanan hotel, Kepolisian Capitol, dan Garda Nasional dikategorikan sebagai “bukan target jika memungkinkan”. Karyawan hotel dan para tamu bahkan ditulis sebagai “bukan target sama sekali”.
Nada pribadi dan pembenaran moral
Selain daftar itu, tulisan setebal sekitar 1.000 kata tersebut memuat permintaan maaf kepada keluarga, teman, dan siswa yang pernah berhubungan dengan Allen. Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan yang pernah diterimanya, sehingga catatan itu tidak hanya berisi ancaman, tetapi juga nada penyesalan yang bercampur dengan pembenaran atas tindakannya.
Dalam salah satu bagian, Allen menulis, “Saya adalah warga negara Amerika Serikat. Apa yang dilakukan perwakilan saya mencerminkan diri saya.” Kalimat itu kemudian diikuti pernyataan yang menyinggung dugaan pelanggaran seksual dan penolakan untuk membiarkan seorang “pengkhianat membebani tangannya dengan kejahatan”.
Nama Trump tidak disebut secara langsung di bagian itu, namun penyidik menduga isi kalimat tersebut merujuk pada Presiden Donald Trump. Dugaan itu memperkuat kesan bahwa kemarahan Allen terhadap kebijakan pemerintah ikut masuk ke dalam catatan yang kini sedang dianalisis aparat.
Kaitan dengan isu yang lebih luas
Allen juga menghubungkan tindakannya dengan isu dugaan pelanggaran hak asasi manusia di kamp penahanan imigran, serangan militer di kawasan Karibia dan Pasifik timur, serta serangan bom di Iran. Rangkaian alasan itu menunjukkan bahwa ia berusaha menempatkan aksinya dalam kerangka politik dan moral yang lebih besar.
Ia bahkan menulis, “Menjadi pasif ketika orang lain tertindas bukanlah perilaku Kristen. Itu adalah keterlibatan dalam kejahatan penindas.” Bagi penyidik, bagian ini penting karena menunjukkan upaya pelaku membingkai tindakan kekerasan sebagai sesuatu yang menurutnya dibenarkan secara religius.
Penyelidikan federal kini berfokus pada hubungan antara isi catatan, motif penembakan, serta ancaman yang mungkin ditujukan kepada pejabat dan pihak keamanan yang tercantum di dalamnya. Aparat juga masih memeriksa bagaimana catatan itu disusun dan sejauh mana daftar target tersebut benar-benar mencerminkan niat Allen. Hingga kini, Allen masih ditahan dan dijadwalkan menghadiri sidang pada Senin untuk menghadapi sejumlah dakwaan, sementara keberadaan pendamping hukum dan keluarga terdekatnya belum diketahui hingga Minggu waktu setempat.
Source: www.beritasatu.com




