Cuaca Arab Saudi Kian Panas, Jemaah Haji Diminta Jaga Stamina Sejak Sekarang

Puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina tinggal menunggu waktu, dan perhatian utama kini tertuju pada kesiapan fisik jemaah. Di tengah cuaca panas ekstrem di Arab Saudi, pemerintah meminta jemaah haji Indonesia mulai menahan diri dari aktivitas yang tidak perlu agar tenaga tetap terjaga.

Kementerian Haji dan Umrah menilai kondisi tubuh akan sangat menentukan kelancaran ibadah pada fase Armuzna. Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaf, mengingatkan jemaah untuk tidak menunggu tubuh benar-benar kelelahan sebelum mengubah pola aktivitas harian.

Menurut Maria, menjaga stamina perlu dilakukan sejak awal, bukan saat tubuh sudah masuk titik lemah. Ia meminta jemaah tidak memaksakan kegiatan fisik yang sebenarnya tidak mendesak.

Imbauan itu juga diarahkan pada pengurangan aktivitas di luar hotel, terutama pada siang hari ketika suhu udara sedang tinggi. Jemaah diminta lebih banyak beristirahat, menjaga pola makan, dan mencukupi asupan cairan agar tidak mengalami dehidrasi.

“Haji bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga ibadah fisik. Karena itu, stamina perlu dijaga sejak sekarang agar jemaah dapat menjalani Armuzna dengan baik,” kata Maria.

Di saat yang sama, layanan bagi jemaah Indonesia disebut tetap berjalan lancar menjelang fase paling padat dalam rangkaian haji. Memasuki hari ke-24 operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M, sebanyak 395 kloter dengan total 152.724 jemaah dan 1.577 petugas telah diberangkatkan ke Arab Saudi.

Dari jumlah itu, 353 kloter dengan 136.422 jemaah dan 1.412 petugas telah tiba di Makkah setelah bergerak bertahap dari Madinah. Sementara gelombang kedua yang mendarat di Bandara King Abdul Aziz International Airport, Jeddah, telah mencapai 120 kloter dengan 45.914 jemaah dan 481 petugas.

Selain jemaah reguler, 10.535 jemaah haji khusus juga sudah berada di Tanah Suci dan mulai menjalani ibadah sesuai jadwal. Pergerakan jemaah terus berlangsung seiring persiapan menuju rangkaian yang membutuhkan ketahanan fisik lebih besar.

Persiapan layanan puncak haji juga terus dipercepat oleh PPIH Arab Saudi melalui Satuan Operasi Armuzna. Fokusnya meliputi akomodasi, konsumsi, dan transportasi jemaah agar pelaksanaan ibadah tetap tertib dan lancar.

Maria menyampaikan kesiapan tenda di Arafah sudah berada di kisaran 90 persen. Selain itu, peninjauan terhadap layanan transportasi bus Masyair terus dilakukan untuk memastikan mobilitas jemaah tetap baik saat perpindahan antar-lokasi puncak haji.

PPIH Arab Saudi juga menyiapkan berbagai skenario mitigasi untuk mengantisipasi kepadatan pergerakan jemaah. Perhatian khusus diberikan pada jalur Arafah menuju Muzdalifah dan Muzdalifah menuju Mina yang kerap menjadi titik padat.

Kelompok jemaah yang rentan juga diminta lebih waspada, terutama lansia, penyandang disabilitas, serta jemaah dengan penyakit penyerta atau risiko tinggi. Mereka diimbau segera berkoordinasi dengan petugas kesehatan, ketua regu, ketua rombongan, atau petugas sektor jika merasakan keluhan kesehatan.

Arahan tersebut diberikan agar keluhan kecil tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius saat fase puncak ibadah dimulai. Di tengah cuaca panas dan mobilitas yang padat, respons cepat dari jemaah maupun petugas dianggap penting untuk menjaga keselamatan bersama.

Dengan Armuzna yang semakin dekat, pemerintah berharap jemaah Indonesia bisa lebih bijak mengatur tenaga dan mengikuti arahan petugas. Langkah itu dinilai penting agar seluruh rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina dapat dijalani dalam kondisi fisik yang lebih siap.

Source: www.medcom.id
Exit mobile version