Colossal Hampir Menuntaskan Rahim Buatan, Target Mamut Masih Jauh Di Balik Sainsnya

Upaya Colossal Biosciences mengembangkan rahim buatan kini disebut sudah berada di tahap akhir. Perusahaan bioteknologi itu menempatkan sistem ini sebagai salah satu lompatan paling penting dalam ambisinya menumbuhkan mamalia sepenuhnya di luar tubuh hewan lain.

CEO Ben Lamm menggambarkan posisi proyek tersebut sudah sangat dekat dengan garis akhir. Ia menyebut hambatan yang tersisa bukan lagi persoalan perangkat keras atau perangkat lunak, melainkan penyempurnaan pada sisi kimia.

Teknologi itu dirancang sebagai ectogenesis system, yakni sistem yang meniru fungsi rahim alami. Fungsinya mencakup penyediaan oksigen, nutrisi, hormon, serta pembuangan limbah bagi embrio atau janin yang berkembang di luar tubuh.

Berbeda dari banyak riset rahim buatan lain yang berfokus menyelamatkan hewan prematur setelah lahir dini, Colossal membawa pendekatan yang lebih luas. Platform mereka dibangun untuk mendukung seluruh proses gestasi, dari embrio hingga kelahiran.

Di balik pengembangan itu, Colossal melihat manfaat yang tidak berhenti pada konservasi satwa. Perusahaan tersebut juga menilai teknologi ini punya peluang dalam bidang kedokteran reproduksi.

Pengujian di Australia

Seluruh pengembangan sistem itu dilakukan di laboratorium Colossal di Australia di bawah Chief Biology Officer Andrew Pask. Platform yang dipakai menggabungkan sistem mirip dialisis dengan model AI dan algoritma milik sendiri.

Kombinasi tersebut digunakan untuk memantau perkembangan embrio secara waktu nyata. Sistem juga menyesuaikan nutrisi, gas, dan sinyal kimia sesuai kebutuhan perkembangan biologis.

Pask menjelaskan bahwa timnya terus menguji dan menyempurnakan sistem “artificial egg” itu sambil menghentikan perkembangan pada tahap tertentu. Tujuannya adalah memastikan pola pembentukan tubuh dan kesehatan embrio tetap mendekati perkembangan alami di dalam telur atau rahim.

Colossal juga mencoba sistem tersebut pada fat-tailed dunnart, marsupial kecil asal Australia dengan masa gestasi 13 hari. Perusahaan menyebut tim berhasil mengarahkan embrio melewati tiga tahap perkembangan utama dengan bantuan AI dan pemantauan fisiologis.

Menurut Pask, tingkat perkembangan yang terlihat meningkat sangat tinggi setelah sistem itu disempurnakan. Ia juga mengatakan teknologi tersebut telah membantu menetaskan 26 anak ayam yang kini masih dipantau pertumbuhannya.

Belum masuk jalur mamut berbulu

Meski kemajuannya dianggap besar, Colossal menegaskan rahim buatan itu belum menjadi bagian dari rencana saat ini untuk menghasilkan anak mamut berbulu pada akhir 2028. Sebelumnya, teknologi itu sempat dipandang sebagai alternatif penggunaan gajah Asia yang terancam punah sebagai induk pengganti.

Perusahaan yang berbasis di Dallas tersebut selama setahun terakhir memang memperluas kerja rekayasa reproduksinya ke beberapa spesies. Pada April 2025, Colossal mengumumkan kelahiran tiga anak serigala purba bernama Romulus, Remus, dan Khaleesi.

Serigala itu dibuat memakai DNA kuno dari gigi berusia 13.000 tahun dan tulang telinga bagian dalam berusia 72.000 tahun yang direkayasa ke dalam sel serigala abu-abu. Pada November, Colossal juga menyatakan telah mengkloning Lua, anjing milik Tom Brady, peraih tujuh gelar Super Bowl.

Brady sebelumnya mengatakan Colossal menggunakan teknologi kloning non-invasif lewat pengambilan darah sederhana dari anjing keluarga yang sudah tua sebelum hewan itu mati. Rangkaian proyek itu memperlihatkan perluasan kapasitas rekayasa reproduksi perusahaan di luar target mamut.

Colossal mengatakan mereka memiliki kekayaan intelektual di balik sistem rahim buatan tersebut. Perusahaan juga membela kerangka etika proyek ini dengan menyebut perkembangan ex-utero yang terkontrol dapat meningkatkan peluang hidup dibanding upaya perkembangbiakan konvensional.

Seorang juru bicara perusahaan menegaskan tujuan utama Colossal adalah memakai teknologinya untuk membantu menyelamatkan spesies yang terancam punah. Perusahaan itu juga menyebut seluruh teknologinya dibuka untuk kepentingan konservasi.

Baca Juga

Back to top button