CNG Dilirik Untuk Kurangi Impor LPG, Tapi Tekanan Tingginya Bikin Waspada

CNG mulai dilirik sebagai jalan keluar untuk menekan ketergantungan Indonesia pada impor LPG. Namun, di balik peluang itu, persoalan keselamatan langsung muncul sebagai ganjalan utama karena gas ini disimpan pada tekanan yang jauh lebih tinggi.

Tekanan CNG berada di kisaran 200–250 bar, sedangkan LPG hanya sekitar 5–10 bar. Perbedaan karakter itu membuat CNG tidak bisa diperlakukan sama seperti LPG, terutama jika hendak dipakai lebih luas di rumah tangga.

Dorongan pemerintah untuk mencari alternatif memang tidak lepas dari angka impor yang besar. Data Kementerian ESDM yang dipaparkan dalam rapat dengar pendapat bersama DPR pada 8 April menunjukkan porsi impor LPG nasional pada 2025 mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan.

Ketergantungan itu bahkan diproyeksikan naik menjadi 83,97 persen pada 2026. Pada saat yang sama, produksi dalam negeri belum cukup kuat untuk menahan laju impor.

Kebutuhan LPG nasional pada 2025 tercatat 25.000 metrik ton per hari. Lalu pada Januari–Februari 2026, kebutuhannya naik menjadi 26.000 metrik ton per hari.

Hingga akhir Februari 2026, total impor LPG sudah menembus 1,31 juta ton. Produksi nasional hanya menyumbang 0,13 juta ton, sehingga ruang untuk mengurangi impor menjadi sangat sempit jika pola konsumsi tetap bertumpu pada LPG.

Situasi global juga ikut memberi tekanan. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran disebut mengganggu rantai pasok energi dunia dan mendorong harga komoditas naik.

Dalam kondisi seperti itu, pemerintah menilai gas alam dalam negeri lebih layak dimanfaatkan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa ketersediaan bahan baku CNG di Indonesia menjadi salah satu alasan penting di balik pengembangannya.

CNG sendiri adalah gas alam yang dikompresi pada tekanan sangat tinggi. Mengutip keterangan Perusahaan Gas Negara, CNG merupakan campuran hidrokarbon dengan metana sebagai komponen dominan, bahkan bisa mencapai lebih dari 95 persen.

Karakter penyimpanannya juga berbeda dari LPG. LPG berbentuk cair di bawah tekanan sedang, sedangkan CNG tetap berupa gas yang dipadatkan dalam tekanan jauh lebih tinggi.

Masalah ukuran, tabung, dan biaya

Perbedaan itu menimbulkan konsekuensi praktis pada bentuk kemasan. Jika CNG dikemas dalam tabung 3 kilogram, ukurannya diperkirakan jauh lebih besar daripada tabung LPG 12 kilogram.

Penyebabnya, densitas energi CNG sekitar 2,5 kali lebih rendah dibanding LPG. Untuk menghasilkan energi yang setara, tabung CNG harus menampung volume gas yang lebih besar.

Tabung CNG juga harus dibuat sangat tebal agar mampu menahan tekanan tinggi. Akibatnya, bobot tabung bisa lebih berat dari isi gasnya sendiri.

Ada opsi memakai bahan carbon fiber supaya tabung lebih ringan dan kuat. Tetapi biayanya diperkirakan bisa mencapai 10 kali lipat lebih mahal.

Perbedaan kalori membuat penggunaannya tidak bisa langsung disamakan dengan LPG. Masyarakat kemungkinan harus memodifikasi atau memakai kompor khusus agar gas itu bisa dipakai dengan aman dan efektif.

Rumah tangga bukan sasaran paling ideal

Moshe Rizal dari Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas menilai CNG tidak tepat untuk rumah tangga. Menurut dia, risiko keamanan terlalu besar jika gas bertekanan tinggi itu dikemas dalam tabung eceran untuk kebutuhan harian.

Ia justru melihat pemakaian CNG lebih cocok untuk industri seperti hotel dan restoran. Sektor ini dinilai lebih siap menyiapkan prosedur keamanan dan area penempatan tabung yang ketat.

Di hotel, tabung CNG bisa ditempatkan di area luar atau ruang khusus untuk mengurangi risiko. Skema seperti itu dianggap sulit diterapkan di rumah tangga karena keterbatasan ruang dan pengawasan.

Jika CNG tetap ingin diarahkan ke masyarakat, Moshe lebih mendukung distribusi lewat Jaringan Gas atau Jargas skala lokal yang dikelola pihak swasta. Sistem pipa dinilai lebih aman karena gas dapat disalurkan dari satu titik penyimpanan pusat.

Model Jargas dianggap cocok untuk kawasan padat hunian seperti rumah susun, apartemen, atau kompleks perumahan. Tekanan yang dipakai untuk mengalirkan gas hanya sekitar 2–3 bar, sehingga jika terjadi kebocoran dampaknya dinilai tidak sebesar tabung CNG.

Pada akhirnya, CNG menawarkan peluang untuk menekan impor LPG dan memanfaatkan gas domestik. Tetapi selama isu keselamatan, distribusi, dan kesiapan perangkat belum terjawab, penggunaan CNG tetap menyisakan banyak pekerjaan rumah, terutama jika diarahkan ke rumah tangga.

Source: www.suara.com
Exit mobile version