China Uji Bahan Bakar Jet Dari CO2, Efisien Di Laboratorium Tapi Belum Siap Mengganti Minyak

Kabar tentang bahan bakar jet dari CO2 memang terdengar seperti lompatan besar, tetapi jalan menuju pemakaian massal masih panjang. Di tengah kebutuhan energi yang terus menekan, terobosan dari China ini lebih tepat dibaca sebagai langkah teknis yang menjanjikan, bukan jawaban instan untuk menggantikan minyak dunia.

Tim ilmuwan dari Shanghai Advanced Research Institute, atau SARI, melaporkan bahwa mereka berhasil membuat hidrokarbon rantai panjang dari CO2 dan air. Hasilnya mencakup rentang molekul C8 hingga C16, yaitu ukuran yang memang identik dengan bahan bakar jet.

Cara kerja yang dipakai

Pendekatan yang digunakan bertumpu pada prinsip reverse combustion, yaitu proses membalik pembakaran untuk mengubah CO2 dan hidrogen menjadi hidrokarbon. Dalam skema SARI, hidrogen itu berasal dari air, karena air membawa dua atom hidrogen di setiap molekulnya.

Secara ilmiah, ide membuat bahan bakar hidrokarbon dari unsur dasar bukan hal baru. Proses Fischer-Tropsch sudah dikenal sejak 1920, tetapi metode tersebut biasanya bergantung pada syngas yang dibuat dari batu bara, gas, atau biomassa.

Kebaruan utama yang ditonjolkan SARI ada pada katalisnya. Mereka memakai katalis berbasis besi dengan tambahan aluminium dan kalium, lalu menghasilkan sekitar 454 ml heavy olefins per gram katalis per jam.

Angka yang membuatnya menonjol

Dalam formulasi katalis bernama FeAlK8, proses itu mengubah hampir separuh CO2 yang masuk, sekitar 49 persen, menjadi hidrokarbon. Capaian ini menarik karena menunjukkan efisiensi yang lebih baik dibanding banyak hambatan lama dalam mengonversi bahan baku menjadi bahan bakar.

Proses tersebut juga berjalan pada suhu yang relatif rendah, yakni 626 derajat Fahrenheit, dengan tekanan sekitar 290 PSI. Sebagai pembanding, tekanan ban mobil rata-rata hanya sekitar 32 hingga 35 PSI, sedangkan proses Fischer-Tropsch berada pada kisaran 150 hingga 600 PSI.

Bahan bakar yang dihasilkan tidak hanya terbentuk, tetapi juga tetap stabil secara termal selama uji 800 jam. Bagi bahan bakar penerbangan, stabilitas seperti ini penting karena produk harus tetap andal dalam kondisi ekstrem di udara maupun di laut.

Masih jauh dari produksi besar-besaran

Walau hasil laboratorium itu menjanjikan, lompatan ke skala industri belum otomatis terjadi. Bahan bakar seperti ini tetap harus melewati sertifikasi dan pengujian keselamatan yang ketat sebelum bisa dipakai luas dalam penerbangan komersial.

Ada pula persoalan energi yang tidak kecil. Meski bahan bakunya berupa CO2 limbah dan air, proses mengubah keduanya menjadi bahan bakar jet membutuhkan listrik dalam jumlah besar.

Jika listrik yang dipakai masih berasal dari sumber fosil, manfaat lingkungannya akan jauh berkurang. Karena itu, pendekatan seperti ini akan lebih masuk akal bila ditopang energi terbarukan atau energi hijau.

Posisi terobosannya hari ini

Di titik ini, hasil SARI lebih pantas disebut sebagai pijakan awal untuk sistem bahan bakar CO2-ke-bahan-bakar yang lebih kompetitif secara ekonomi. Teknologi ini belum akan membuat tanker minyak kehilangan peran dalam waktu dekat, apalagi jika tujuannya adalah memasok sebagian kecil saja dari permintaan global.

Namun, justru di situlah nilai pentingnya. Di tengah tekanan pada rantai pasok energi, terutama untuk bahan bakar penerbangan, riset seperti ini membuka arah baru yang menarik untuk dipantau.

Jika efisiensi, skala produksi, dan sumber listriknya bisa ditingkatkan, China belum menawarkan solusi akhir. Tetapi terobosan ini sudah menunjukkan bahwa bahan bakar jet dari CO2 bukan lagi sekadar gagasan di atas kertas.

Exit mobile version