China Kian Mendekat Ke Bulan, NASA Merombak Strategi Demi Tak Kehilangan Panggung

Dorongan untuk kembali ke Bulan kini bukan lagi sekadar urusan ambisi ilmiah bagi NASA. Persaingan dengan China sudah berubah menjadi perlombaan yang juga menyentuh pengaruh geopolitik dan posisi Amerika Serikat dalam sejarah antariksa modern.

Kepala NASA Jared Isaacman menilai jarak kedua negara dalam perlombaan itu semakin sempit. Dalam pandangannya, selisihnya kini lebih tepat dihitung dalam bulan, bukan lagi tahun, karena China bergerak cepat menuju misi berawak yang dapat mengelilingi Bulan.

Isaacman menyampaikan penilaian tersebut dalam pidato utama di konferensi ASCEND di Washington, AS, pada 19 Mei. Ia menyebut dunia kemungkinan akan kembali menyaksikan penerbangan awak antariksa mengitari Bulan, dan momen itu bisa saja dipimpin taikonaut China.

Hingga saat ini, China memang belum mengumumkan jadwal resmi untuk misi berawak mengelilingi Bulan. Meski begitu, sejumlah laporan dan pengamat antariksa menilai Beijing tengah menyiapkan peta jalan yang terstruktur, dengan sasaran jangka panjang mendaratkan manusia di Bulan sebelum 2030.

Jika target itu tercapai, China akan semakin mendekati pencapaian yang selama puluhan tahun hanya dimiliki Amerika Serikat. Sejauh ini, semua penerbangan berawak yang pernah mencapai wilayah Bulan, baik mengorbit, mengelilingi, maupun mendarat di permukaan Bulan, merupakan misi NASA.

NASA di bawah tekanan jadwal

Tekanan itu membuat NASA harus bergerak lebih agresif lewat program Artemis. Program ini diposisikan sebagai penerus era Apollo, ketika sembilan misi Apollo pada 1968 hingga 1972 berhasil membawa astronaut AS ke permukaan Bulan.

Awalnya, Artemis 3 dijadwalkan meluncur pada 2028 untuk misi pendaratan manusia di Bulan. Namun dalam revisi terbaru, misi itu bergeser ke uji terbang di orbit rendah Bumi pada 2027, lalu Artemis 4 ditetapkan untuk melakukan pendaratan di Bulan pada 2028.

Perubahan jadwal itu memperlihatkan upaya NASA untuk merespons percepatan China. Isaacman bahkan membandingkan situasi sekarang dengan semangat Amerika Serikat saat berlomba melawan Uni Soviet pada era 1960-an.

Ia juga menyebut target Amerika untuk mengembalikan warga AS ke Bulan sebelum masa jabatan Presiden Trump berakhir. Di sisi lain, China tetap membidik pendaratan sebelum 2030, sehingga ruang keterlambatan makin sempit.

Strategi NASA ikut berubah

Dorongan mengejar waktu tidak berhenti pada revisi jadwal. NASA juga mengubah prioritas program agar sumber daya bisa lebih banyak dialihkan ke pembangunan pangkalan di permukaan Bulan dan peningkatan misi pendaratan robot.

Salah satu keputusan besar yang diambil adalah menghentikan pengembangan proyek stasiun antariksa Lunar Gateway. Langkah itu dilakukan untuk memusatkan tenaga pada tujuan yang dinilai lebih mendesak dalam persaingan dengan China.

Perubahan arah tersebut menunjukkan NASA tidak hanya ingin mengejar tanggal peluncuran. Badan antariksa itu juga menyesuaikan fokus agar tetap kompetitif saat Beijing mempercepat ambisi antariksanya.

Dukungan politik ikut mengalir dari Kongres AS. Melalui Komite Anggaran DPR, alokasi dana yang lebih besar untuk program eksplorasi antariksa pada anggaran tahun fiskal 2027 telah disetujui, dengan tujuan menjaga NASA tetap berada di jalur yang tepat.

Di tengah semua penyesuaian itu, persaingan menuju Bulan menjadi semakin nyata dan semakin rapat. Dengan China yang terus mendekat dan NASA yang merombak strategi, pertarungan ini kini berjalan dalam hitungan bulan, bukan lagi hitungan tahun.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button