China Disambangi Jawa Tengah, Proyek EBT dan Sampah Jadi Senjata Tarik Modal

Minat investor China terhadap Jawa Tengah tidak muncul begitu saja. Daerah ini datang dengan modal yang sudah terbukti, mulai dari realisasi investasi yang besar, kawasan industri yang terus bertambah, hingga proyek-proyek hijau yang dirancang untuk langsung masuk ke kebutuhan bisnis.

Di hadapan puluhan pengusaha China dalam jamuan makan malam Pertukaran Tokoh Politik dan Bisnis China-Indonesia di Jakarta, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menawarkan peluang yang sangat spesifik. Bukan sekadar ajakan menanam modal, Jawa Tengah memajang paket proyek energi baru terbarukan, pengolahan sampah, dan limbah sebagai pintu masuk kerja sama ekonomi.

Tujuh proyek energi bersih dibuka sekaligus

Salah satu daya tarik utama yang dibawa Jawa Tengah adalah tujuh proyek strategis di sektor energi baru terbarukan. Paket ini mencakup pembangkit listrik tenaga surya, mikrohidro, biogas, biomassa, dan gas rawa.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa promosi investasi daerah itu kini makin diarahkan ke sektor energi bersih. Pemerintah provinsi ingin proyek-proyek tersebut menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dengan investor China.

Sampah dan limbah ikut diposisikan sebagai peluang bisnis

Selain energi terbarukan, Jawa Tengah juga menyoroti pengolahan sampah sebagai peluang investasi. Ahmad Luthfi menilai sektor ini bisa mendukung pengembangan energi terbarukan di daerah.

Peluang yang sama juga dibuka pada pengelolaan limbah, termasuk proyek waste-to-energy. Sektor ini dianggap menarik karena menyatukan solusi lingkungan dan potensi ekonomi dalam satu skema kerja sama.

Respons pengusaha China cukup positif

Tawaran dari Jawa Tengah mendapat sambutan dari pelaku usaha China yang hadir dalam forum tersebut. Mereka melihat infrastruktur yang memadai serta kebijakan insentif yang kondusif di Indonesia sebagai faktor yang mendukung ekspansi bisnis.

CEO PT WOOK Global Technology, Cu Longhua, menyampaikan perusahaannya siap bergerak di bidang pengelolaan sampah yang diarahkan menjadi pembangkit listrik. Ia menegaskan bahwa perusahaan itu termasuk yang terkemuka di industri tersebut di China.

Dukungan serupa datang dari CEO PT AAC Technologies Holding, Benjamin Pan. Ia menilai peluang kolaborasi terbuka luas, terutama karena kebutuhan teknologi lingkungan di Jawa Tengah dinilai selaras dengan keunggulan manufaktur China.

Hubungan investasi yang sudah berjalan

Upaya menarik modal baru dari China juga bertumpu pada hubungan yang memang sudah ada sebelumnya. China tercatat sebagai salah satu penyumbang investasi terbesar di Jawa Tengah dengan nilai sekitar Rp10,13 triliun.

Ahmad Luthfi menegaskan bahwa relasi tersebut telah berkembang menjadi sinergi ekonomi yang strategis. Posisi itu diperkuat oleh capaian realisasi investasi Jawa Tengah pada 2025 yang mencapai Rp110,02 triliun.

Dari jumlah tersebut, Penanaman Modal Asing menyumbang Rp50,86 triliun. Penanaman Modal Dalam Negeri mencapai Rp37,64 triliun, sedangkan Usaha Mikro dan Kecil menyumbang Rp21,52 triliun.

Kawasan industri terus disiapkan

Untuk menopang arus investasi, Jawa Tengah telah mengoperasikan tujuh kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus. Sebaran kawasan itu berada di berbagai kabupaten dan kota di provinsi tersebut.

Pemerintah daerah juga menyiapkan 12 daerah baru untuk pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus tambahan. Ekspansi ini ditujukan untuk menjawab kebutuhan lahan industri sekaligus mendorong pemerataan ekonomi regional.

Capaian ekonomi memperkuat posisi tawar

Pada Kuartal I/2026, realisasi investasi Jawa Tengah kembali mencapai Rp23,02 triliun. Dalam periode yang sama, laju pertumbuhan ekonomi daerah itu tercatat 5,89%.

Kombinasi angka investasi, pertumbuhan ekonomi, dan ketersediaan kawasan industri menjadi bekal penting saat Jawa Tengah bersaing merebut modal asing. Dengan paket proyek EBT, pengolahan sampah, dan pengelolaan limbah, pemerintah provinsi berharap investor China melihat daerah ini sebagai lokasi ekspansi yang siap pakai.

Source: semarang.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button