Nama Xabi Alonso langsung menarik perhatian setelah Chelsea mengambil keputusan besar di tengah musim yang kacau. Penunjukan itu datang sesaat setelah kekalahan tipis 0-1 dari Manchester City di final Piala FA, hasil yang ikut mempercepat langkah manajemen untuk memulai proyek baru di Stamford Bridge.
Bagi Chelsea, ini bukan sekadar pergantian pelatih biasa. Situasi tim sepanjang musim 2025-2026 sudah menunjukkan tanda-tanda krisis, dan final di Wembley hanya menjadi penutup pahit dari rangkaian hasil buruk yang lebih dulu menumpuk.
Musim sulit yang memicu perubahan
Chelsea menjalani musim yang jauh dari harapan. Klub asal London Barat itu sempat ditangani tiga pelatih berbeda, namun perubahan di kursi pelatih tidak juga menghentikan penurunan performa tim.
Posisi mereka yang kini tertahan di peringkat ke-10 klasemen sementara Liga Inggris membuat target empat besar atau enam besar semakin jauh. Dalam situasi seperti itu, manajemen tampak tidak ingin menunggu lebih lama untuk mengubah arah tim.
Rangkaian tujuh laga tanpa kemenangan di kompetisi domestik memperburuk keadaan. Catatan tersebut sekaligus membuat peluang Chelsea untuk merebut tiket Liga Europa ikut menguap.
Final Wembley jadi pemicu tambahan
Kekalahan dari Manchester City di final Piala FA memberi dampak lebih besar dari sekadar hilangnya trofi. Hasil itu membuat tekanan terhadap klub semakin terasa dan membuka jalan bagi keputusan cepat di level manajemen.
Chelsea lalu menunjuk Alonso untuk musim 2026-2027. Langkah tersebut menunjukkan bahwa klub sudah menyiapkan perombakan besar sebelum musim berikutnya dimulai.
Alonso diproyeksikan memimpin skuad Chelsea mulai musim depan. Mantan pelatih Real Madrid dan Bayer Leverkusen itu diharapkan bisa memperbaiki arah permainan tim sekaligus menghadirkan stabilitas yang selama ini hilang.
Pekerjaan besar menanti di Stamford Bridge
Penunjukan Alonso juga menggambarkan besarnya tantangan yang menunggu di Stamford Bridge. Masalah Chelsea bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga soal konsistensi yang tidak kunjung ditemukan sepanjang musim.
Pergantian tiga pelatih dalam satu musim menjadi tanda bahwa klub belum menemukan formula yang tepat. Dalam konteks itu, Alonso diposisikan sebagai titik awal baru untuk membangun ulang fondasi tim.
Manajemen Chelsea tampaknya ingin mengubah akhir musim yang buruk menjadi awal proyek yang lebih tertata. Keputusan ini memberi sinyal bahwa klub menaruh harapan besar pada figur Alonso untuk memulihkan arah perjalanan tim.
Manchester City menutup musim dengan gelar
Di sisi lain, Manchester City justru menikmati penutup musim yang positif. Tim asuhan Pep Guardiola itu meraih gelar ganda domestik setelah sebelumnya menjuarai Piala Liga Inggris dengan kemenangan 2-0 atas Arsenal pada Maret lalu.
Trofi Piala FA membuat koleksi gelar Manchester City di ajang tersebut menjadi dua dalam empat tahun terakhir. Dominasi mereka di kompetisi domestik kembali terlihat kuat pada momen-momen penting akhir musim.
Fokus City kini bergeser ke perebutan gelar Liga Inggris. Mereka hanya tertinggal dua poin dari Arsenal di puncak klasemen dengan dua laga tersisa.
Guardiola masih jadi sorotan
Di tengah performa apik itu, masa depan Pep Guardiola tetap ikut menjadi bahan pembicaraan. Kontraknya di Etihad Stadium belum diperpanjang dan baru akan habis pada Juni 2027.
Meski begitu, Guardiola menegaskan bahwa dirinya berkomitmen untuk bertahan sampai kontraknya selesai. Kepastian itu setidaknya meredam spekulasi yang sempat mengiringi musim sukses Manchester City.





