Di banyak rumah, perhatian terhadap air minum masih sering berhenti pada urusan rasa haus. Padahal, tubuh bisa mengalami kekurangan cairan tanpa memberi sinyal yang jelas, sementara asupan air yang tidak cukup dapat berlangsung pelan-pelan dan memengaruhi kesehatan keluarga.
Kondisi ini penting dicermati karena kebutuhan cairan tidak selalu terpenuhi hanya karena seseorang merasa sudah minum. Pada anak dan remaja, risiko menjadi lebih besar sebab tubuh mereka masih tumbuh dan berkembang, sehingga kekurangan cairan dapat berdampak lebih luas pada kesehatan harian.
Kebutuhan cairan sering tidak disadari
Praktisi kesehatan RS Mitra Keluarga Bintaro, Adelina Haryono, menilai kesadaran minum air di masyarakat masih perlu diperkuat. Ia mengingatkan bahwa banyak orang merasa asupan cairannya sudah cukup, padahal kebutuhan harian tubuh belum benar-benar terpenuhi.
Data yang dirujuk menunjukkan sekitar 1 dari 5 anak dan remaja serta 1 dari 4 orang dewasa masih mengalami kekurangan cairan. Angka ini memperlihatkan bahwa dehidrasi ringan bisa terjadi tanpa disadari, terutama bila kebiasaan minum tidak teratur.
Air juga memiliki fungsi yang sangat mendasar bagi tubuh. Cairan ini menyusun sekitar 50% hingga 60% komposisi tubuh manusia dan membantu pembentukan sel serta menjaga keseimbangan agar organ dapat bekerja dengan baik.
Menurut Adelina, kebutuhan cairan anak umumnya berada pada kisaran 1,2 hingga 1,5 liter per hari. Sementara itu, orang dewasa membutuhkan sekitar 1,8 hingga 2 liter per hari.
Ia juga menekankan agar masyarakat tidak menunggu haus baru minum. Rasa haus biasanya muncul saat tubuh sudah mulai kekurangan cairan, sehingga asupan air perlu dijaga tetap stabil sepanjang hari.
Masalah lain datang dari kualitas air
Persoalan air minum tidak hanya soal jumlah yang dikonsumsi, tetapi juga soal keamanan sumbernya. Di banyak rumah tangga, air yang terlihat bersih belum tentu aman untuk diminum setiap hari.
Dipl in Nutrition, MKK, Nutrition Design & Hydration Science Research and Innovation Aqua, Tria Rosemiarti, menyebut masih banyak rumah tangga yang mengonsumsi air yang tidak aman. Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga menunjukkan sekitar 7 dari 10 rumah tangga mengonsumsi air yang terkontaminasi bakteri Escherichia coli.
Tria juga menjelaskan bahwa hanya sebagian kecil masyarakat yang sudah memiliki akses ke air minum aman. Situasi ini membuat paparan sumber air tercemar masih cukup tinggi di banyak rumah tangga.
Sebagian warga memilih merebus air sebelum diminum, tetapi langkah itu tidak selalu menyelesaikan semua masalah. Perebusan memang dapat membunuh sebagian besar bakteri, namun tidak menghilangkan logam berat atau senyawa berbahaya lain yang mungkin masih ikut terbawa di dalam air.
Anak menjadi kelompok yang paling rentan
Dampak air minum yang tidak aman bisa terasa langsung pada anak. Salah satu risikonya adalah gangguan penyerapan nutrisi, yang kemudian dapat memengaruhi proses tumbuh kembang.
Publikasi internasional yang dirujuk menyebut anak yang terpapar air minum tidak aman dengan kontaminasi mikrobiologis memiliki risiko stunting hingga 4,14 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang mengonsumsi air aman. Temuan itu berasal dari studi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk penelitian di 13 provinsi dan studi lapangan di Deli Serdang, Sumatera Utara.
Pengaruhnya tidak berhenti pada pertumbuhan fisik. Referensi itu juga menyebut paparan air yang tidak aman dapat berkaitan dengan gangguan daya ingat, kemampuan bahasa, dan performa akademik anak.
Karena itu, perhatian terhadap air minum perlu mencakup dua hal sekaligus. Kecukupan cairan harus dijaga, dan sumber air yang digunakan juga harus lebih cermat dipilih agar benar-benar aman dikonsumsi sehari-hari.
Risiko yang kerap tersembunyi di rumah
Banyak keluarga lebih sibuk menghitung jumlah gelas air daripada memastikan kualitas air yang diminum. Padahal, risiko bisa datang dari kebiasaan minum yang kurang sesuai kebutuhan tubuh sekaligus dari sumber air yang tercemar.
Jika dua hal ini dibiarkan berjalan bersamaan, dehidrasi ringan dan paparan zat berbahaya dapat sama-sama mengancam kesehatan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memberi beban tambahan bagi keluarga, terutama anak yang lebih sensitif terhadap kekurangan cairan dan air minum yang tidak aman.
Perhatian pada kebiasaan minum dan mutu air perlu menjadi bagian dari rutinitas rumah tangga. Di tengah temuan bahwa banyak air rumah tangga masih terkontaminasi, langkah sederhana untuk memastikan air yang cukup dan aman dapat membantu melindungi kesehatan anggota keluarga sejak dini.
Source: lifestyle.bisnis.com




