Cadangan Devisa Masih Aman, Rupiah Tetap Rentan Di Tengah Defisit Transaksi Berjalan Membesar

Tekanan pada rupiah belum menunjukkan tanda mereda setelah pasar menilai pelebaran defisit transaksi berjalan sebagai sinyal yang paling mengganggu. Di tengah sentimen itu, mata uang Garuda ditutup melemah ke Rp17.716 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026) di Jakarta.

Pelemahan tersebut terjadi meski Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada pekan yang sama. Respons pasar tampak lebih dipengaruhi kekhawatiran atas ketahanan eksternal Indonesia dan kondisi domestik yang dinilai sedang melemah.

Defisit terdalam dalam lebih dari enam tahun

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan rupiah terutama datang dari dalam negeri, terutama karena defisit transaksi berjalan yang terus melebar. Ia menyebut data terbaru menunjukkan kondisi yang lebih buruk dari perkiraan pasar dan lebih lebar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data Indo Premier Sekuritas juga memperlihatkan defisit transaksi berjalan Indonesia berada pada level terdalam dalam lebih dari enam tahun. Angka itu memperkuat kekhawatiran investor terhadap keseimbangan eksternal Indonesia di tengah tekanan ekonomi global.

Bank Indonesia melaporkan defisit transaksi berjalan pada triwulan I 2026 sebesar 4 miliar dolar AS. Dengan kurs Rp17.500 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp70 triliun dan lebih besar dibandingkan defisit 2,5 miliar dolar AS pada triwulan IV 2025.

Sumber tekanan dari perdagangan hingga pendapatan primer

BI menjelaskan bahwa neraca perdagangan nonmigas masih surplus, tetapi nilainya mengecil dibandingkan kuartal sebelumnya. Perlambatan ekonomi dunia ikut menekan aktivitas perdagangan Indonesia dan mengurangi kekuatan surplus tersebut.

Selain perdagangan, defisit neraca pendapatan primer juga membesar. BI menyebut kenaikan pembayaran kupon dan bunga utang menjadi salah satu faktor penekan, meski neraca jasa membaik karena impor jasa freight menurun.

Tekanan tidak hanya muncul pada transaksi berjalan. Pada triwulan I 2026, transaksi modal dan finansial juga mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS, berbalik dari surplus 9 miliar dolar AS pada akhir 2025.

Cadangan devisa masih jadi penyangga

Di tengah defisit neraca pembayaran, BI menegaskan cadangan devisa masih berada pada level aman. Posisi cadangan devisa tercatat 148,2 miliar dolar AS dan dinilai cukup untuk membiayai 5,8 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

BI juga mencatat investasi langsung ke Indonesia masih membukukan surplus meski pasar keuangan global bergejolak. Kondisi ini menunjukkan minat investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia belum sepenuhnya hilang.

Namun, pasar belum memberikan respons yang menenangkan. Lukman menambahkan sentimen risk off di pasar ekuitas domestik ikut memberi tekanan tambahan pada rupiah dan membuat risiko pelemahan jangka pendek tetap terbuka.

Arah rupiah pekan depan masih rentan

Untuk pekan depan, Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah dan bisa bergerak ke Rp17.800 per dolar AS. Pada perdagangan awal pekan, rupiah juga disebut akan dipengaruhi perkembangan situasi di Timur Tengah, termasuk respons Iran terhadap proposal AS.

Di sisi lain, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan sepanjang 2026 masih berada dalam batas aman, yakni di kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen terhadap PDB. Meski begitu, ketidakpastian global tetap menjadi tantangan utama yang membuat rupiah rentan terhadap guncangan eksternal.

Source: www.suara.com
Exit mobile version