Malam ini, perhatian pengamat langit tertuju pada satu purnama yang datang dengan dua karakter sekaligus: tampak sangat terang, tetapi ukuran semunya sedikit lebih kecil dari biasanya. Fenomena itu dikenal sebagai Full Flower Moon atau Bulan Bunga, purnama Mei yang mulai terlihat jelas setelah matahari terbenam.
Perbedaan ukuran tersebut muncul karena bulan sedang berada dekat titik terjauh dari Bumi dalam orbit elipsnya. Karena posisi itu, bulan masuk kategori bulan mikro, meski selisih tampilannya tidak mencolok bagi mata telanjang.
Purnama Mei dan asal nama Bulan Bunga
Nama Bulan Bunga sudah lama melekat pada purnama Mei. Sebutan ini berasal dari mekarnya bunga yang melimpah di belahan bumi utara saat musim semi.
Tradisi penamaan purnama seperti ini masih dipakai hingga sekarang. Di antara banyak nama purnama lain, Bulan Bunga tetap menjadi salah satu yang paling dikenal karena erat dengan perubahan musim.
Waktu puncak dan cara melihatnya
Puncak penerangan bulan terjadi pada pukul 13.23 EDT atau 1723 GMT pada 1 Mei. Meski begitu, waktu terbit dan terbenamnya berbeda di tiap wilayah, sehingga tampilan terbaik di lapangan tetap bergantung pada lokasi pengamatan.
Cahaya bulan biasanya mulai terlihat jelas saat langit menggelap. Ketika baru muncul rendah di cakrawala, bulan juga bisa tampak kuning-oranye karena cahaya pantulannya melewati lapisan atmosfer Bumi yang lebih padat.
Perubahan warna itu terkait proses hamburan Rayleigh. Efek serupa sering membuat benda langit di dekat horizon terlihat lebih hangat warnanya dibanding saat sudah tinggi di langit.
Mengapa bulan terlihat lebih kecil
Observatorium Las Cumbres mencatat ukuran tampak bulan sekitar 29,72 menit busur pada momen ini. Angka itu lebih kecil dari rata-rata sekitar 31 menit busur, sehingga wajar jika bulan terlihat sedikit lebih mungil dari biasanya.
Meski demikian, perbedaannya tidak besar. Karena itu, kesan “lebih kecil” biasanya baru terasa jika dibandingkan dengan purnama lain atau saat bulan sedang tampak lebih dekat ke Bumi.
Langit malam di sekitar purnama
Selain bulan, langit malam juga menampilkan beberapa objek terang lain yang patut dicermati. Spica dan Arcturus terlihat bersinar di atas cahaya bulan, sementara bintang-bintang yang lebih redup di rasi Libra tertutupi oleh terang purnama ini.
Arah barat ikut menambah daya tarik pemandangan langit malam. Venus tampak sangat terang saat matahari terbenam, Jupiter berada tepat di atasnya, dan Castor serta Pollux terlihat lebih tinggi di konstelasi Gemini.
Gerak bulan sepanjang malam
Sepanjang malam, bulan bergerak rendah melengkung di atas cakrawala selatan. Menjelang fajar 2 Mei, posisinya bergeser ke barat daya sebelum akhirnya terbenam.
Pola gerak ini menjadi salah satu ciri purnama yang mudah diamati tanpa peralatan khusus. Kombinasi bulan yang terang, posisi planet yang mudah dikenali, dan tampilan bulan mikro membuat malam awal Mei menawarkan pemandangan langit yang menarik untuk diikuti.
Fenomena purnama sendiri terjadi karena bulan memerlukan sekitar 29,5 hari untuk melewati empat fase utamanya. Karena durasinya mendekati panjang satu bulan kalender, biasanya hanya ada 12 bulan purnama dalam satu tahun.
Namun, sekitar setiap 2,5 tahun, pergeseran waktu siklus bulan dapat menghasilkan 13 bulan purnama dalam satu tahun kalender. Jika dua purnama muncul dalam satu bulan, purnama pertama memakai nama tradisional bulan itu, sedangkan yang kedua disebut Bulan Biru.
Source: teknologi.bisnis.com




