Menjelang Idul Adha, perhatian terhadap hewan kurban tidak cukup berhenti pada tampilan tubuh yang terlihat besar. Cara memberi pakan justru ikut menentukan apakah hewan berada dalam kondisi sehat, tenang, dan menghasilkan daging dengan mutu yang baik.
Pengelolaan pakan yang asal kenyang dapat berbalik merugikan. Pola makan yang tidak teratur dapat memicu stres, meningkatkan risiko penyakit, dan menurunkan kualitas daging pada hewan kurban.
Pakan harus disusun, bukan sekadar dibanyakkan
Pengelola peternakan sapi di Kabupaten Banjarnegara, Faisal Husen, menegaskan bahwa sapi penggemukan tidak bisa hanya mengandalkan rumput. Menurut dia, rumput saja membuat pertumbuhan sapi lebih lambat, sehingga perlu dukungan pakan tambahan agar bobotnya berkembang lebih optimal.
Dalam masa penggemukan jelang kurban, ia menyebut comboran menjadi bagian penting dari menu harian. Campuran itu dibuat dari konsentrat, ampas tahu, singkong, molase, remix, polar, dan garam.
Komposisi yang seimbang bukan hanya ditujukan untuk menaikkan bobot tubuh. Susunan pakan seperti itu juga membantu menjaga kesehatan hewan secara keseluruhan dan ikut mendukung mutu daging kurban yang lebih baik.
Sebaliknya, pemberian pakan secara sembarangan justru membuka risiko yang tidak kecil. Hewan bisa mengalami gangguan kesehatan, sementara hasil akhirnya tidak selalu sebaik yang diharapkan saat hari penyembelihan tiba.
Jam makan yang konsisten ikut menentukan hasil
Selain isi pakannya, waktu pemberian juga perlu dijaga. Faisal menyebut sapi berbobot 300 kilogram membutuhkan sekitar 3 sampai 4 kilogram pakan setiap kali makan, dengan frekuensi dua kali sehari pada pagi dan sore.
Jadwal yang sama setiap hari membantu ritme makan hewan tetap stabil. Karena itu, perubahan jam yang terlalu sering sebaiknya dihindari agar kondisi tubuh sapi tidak mudah terganggu.
Urutan pemberian pakan juga tidak bisa dibalik begitu saja. Pada pagi hari, tempat makan dikosongkan lebih dulu, lalu sapi diberi comboran sebelum akhirnya menerima rumput atau jerami sebagai pelengkap serat.
Pola ini membuat sapi lebih dulu mendapat pakan bergizi tinggi. Setelah itu, hijauan diberikan untuk melengkapi kebutuhan serat dalam sistem pencernaannya.
Air minum bersih juga harus tersedia terus-menerus di samping kandang. Ketersediaan air selama 24 jam penuh penting agar kebutuhan cairan hewan tetap terpenuhi dan tubuhnya tidak mudah stres.
Domba memerlukan pola yang berbeda
Pendekatan untuk domba tidak bisa disamakan dengan sapi. Pada hewan ini, pakan fermentasi dinilai membantu mengoptimalkan nilai nutrisi karena mikroorganisme bekerja mengurai sekaligus memperkaya kandungan gizi bahan pakan.
Komposisi yang disebut terdiri dari hijauan 50 persen, dedak 30 persen, dan jagung giling 20 persen. Meski begitu, proporsi itu masih dapat disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan kondisi domba.
Pakan fermentasi juga tidak boleh langsung diberikan dalam jumlah besar kepada domba yang belum terbiasa. Pemberian harus dimulai dari porsi kecil yang dicampur dengan pakan biasa supaya pencernaan bisa beradaptasi secara bertahap.
Setelah beberapa hari tidak muncul masalah, porsinya dapat dinaikkan sedikit demi sedikit sambil terus memantau kondisi fisik dan pencernaan. Pakan fermentasi sendiri bukan pengganti total pakan utama, melainkan pelengkap untuk menutup kebutuhan nutrisi yang belum tercukupi dari hijauan segar atau konsentrat.
Proses fermentasi pakan domba disebut membutuhkan waktu 7 hingga 14 hari. Lamanya proses itu bergantung pada suhu ruangan dan jenis bahan yang digunakan.
Tanda hewan layak pilih juga perlu dibaca dengan cermat
Pengaturan pakan yang tepat akhirnya terlihat dari bentuk tubuh hewan. Karena itu, calon pembeli juga perlu memahami cara membaca bobot dan kualitas sapi secara lebih akurat.
Faisal merekomendasikan sapi pegon sebagai pilihan yang dinilai menguntungkan. Jenis ini dianggap tidak terlalu mahal dan pertumbuhannya dapat memenuhi standar yang diharapkan.
Ia juga mengingatkan bahwa perut besar bukan satu-satunya penanda sapi gemuk. Ukuran perut bisa dipengaruhi penumpukan gas atau pakan yang belum dicerna, sehingga tidak selalu menunjukkan kondisi tubuh yang ideal.
Bagian yang lebih tepat diamati justru dada dan pantat sapi. Dada yang lebar dan penuh serta pantat yang berisi dan padat menunjukkan massa otot dan lemak berkembang dengan baik.
Indikator itu penting karena mencerminkan hasil nutrisi yang optimal dan perawatan yang konsisten. Dengan pakan yang terukur dan pemantauan fisik yang cermat, hewan kurban bisa dipersiapkan dalam kondisi yang lebih sehat dan berkualitas.





