Bukan Flu Biasa, Hantavirus Bisa Berawal di Ruang Tertutup dan Berujung Fatal

Di balik kasus kematian tiga penumpang di sebuah kapal pesiar, perhatian kini tertuju pada hantavirus yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan wilayah pedesaan. Situasi itu menegaskan bahwa risiko penularan tidak selalu terbatas pada area terbuka, sebab ruang tertutup dengan sanitasi yang lemah juga dapat menjadi titik rawan.

Yang membuat hantavirus sulit dikenali adalah gejalanya kerap menyerupai flu biasa pada fase awal. Padahal, dalam beberapa kasus, kondisi dapat memburuk cepat dan berujung pada gangguan napas yang mengancam nyawa.

Virus ini berasal dari hewan pengerat dan tergolong penyakit zoonosis. Centers for Disease Control and Prevention atau CDC menjelaskan bahwa hantavirus terutama ditularkan oleh rodensia dan dapat memicu penyakit berat di berbagai wilayah dunia.

Penularan yang sering disalahpahami

Banyak orang masih mengira hantavirus menyebar seperti flu, tetapi jalurnya berbeda. American Lung Association menyebut penularan utama terjadi lewat paparan material dari tikus yang terinfeksi.

Partikel dari kotoran tikus yang sudah mengering dapat terhirup dan masuk ke saluran napas. Penularan juga dapat terjadi saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah, sementara gigitan tikus walau jarang tetap mungkin menjadi jalur penularan.

Sebagian besar jenis hantavirus tidak menular antarmanusia. Pengecualian yang jarang disebut antara lain Andes virus di Amerika Selatan.

Mengapa kapal pesiar ikut disorot

Investigasi atas kematian tiga penumpang memunculkan dugaan adanya paparan di ruang tertutup dengan ventilasi bersama. Para ahli menilai risiko dapat meningkat bila ada infestasi hewan pengerat di area tertentu, termasuk ruang penyimpanan atau jalur teknis kapal.

Kondisi seperti itu menjadi perhatian karena kotoran atau urine tikus yang mengering bisa berubah menjadi partikel halus di udara. Jika partikel tersebut terhirup, penularan dapat terjadi, sehingga sanitasi di fasilitas transportasi dan pariwisata menjadi sangat penting.

Gejala awal yang mudah disangka flu

Masa inkubasi hantavirus biasanya berlangsung satu hingga delapan minggu setelah paparan. Setelah itu, keluhan awal muncul bertahap dan sering membuat pasien mengira hanya mengalami infeksi saluran napas biasa.

Tanda awal yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi, menggigil, nyeri otot berat terutama di punggung, pinggul, dan paha, kelelahan, sakit kepala, serta pusing. Pada sebagian pasien, mual, muntah, atau diare juga dapat muncul pada fase awal.

Setelah sekitar 4–10 hari, kondisi dapat berkembang menjadi sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru. Pada tahap ini, pertolongan darurat dibutuhkan karena risiko gagal napas meningkat tajam.

Ancaman yang tidak bisa dianggap kecil

Nama hantavirus berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan. Virus ini pertama kali diisolasi oleh Ho Wang Lee pada 1978 setelah banyak tentara jatuh sakit selama Perang Korea.

Dalam kasus yang teridentifikasi, hantavirus pulmonary syndrome atau HPS memiliki tingkat kematian sekitar 38 persen. Data National Institutes of Health atau NIH juga menunjukkan beban penyakit ini tidak kecil, dengan perkiraan sekitar 150.000 kasus hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS setiap tahun di seluruh dunia.

Sebaran kasus HFRS paling banyak berada di Asia dan Eropa. Tiongkok menyumbang lebih dari 50 persen total kasus global, sementara di Amerika Serikat pemantauan sejak 1993 hingga 2023 mencatat 890 kasus.

Keberadaan strain seperti Seoul virus juga menambah perhatian. Virus ini dibawa tikus Norwegia atau tikus cokelat dan tersebar secara global, termasuk di kawasan padat penduduk.

Penanganan dan langkah pencegahan

World Health Organization atau WHO menekankan pentingnya deteksi dini dan perawatan intensif. Hingga kini belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus.

Pasien biasanya dirawat di unit perawatan intensif dengan dukungan oksigen atau ventilasi jika gangguan napas memburuk. Penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central juga menunjukkan bahwa penanganan lebih awal dapat meningkatkan peluang pemulihan.

Pencegahan berfokus pada meminimalkan kontak dengan hewan pengerat. Langkah yang disarankan mencakup membersihkan area terkontaminasi dengan aman tanpa menyapu kotoran tikus kering, menutup celah masuk tikus ke bangunan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat, dan membersihkan filter udara secara rutin di fasilitas umum.

WHO juga mengingatkan bahwa perubahan iklim dan urbanisasi dapat memperbesar interaksi manusia dengan hewan pengerat. Karena itu, kewaspadaan terhadap hantavirus tetap relevan di pedesaan, perkotaan, dan fasilitas publik dengan sanitasi yang kurang ketat.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button