Bukan Dari Antarmanusia, Hantavirus Mengancam Lewat Tikus Dan Lingkungan Terkontaminasi

Yang membuat hantavirus kembali jadi perhatian bukan hanya karena namanya terdengar asing bagi banyak orang, tetapi karena sumber risikonya sangat dekat dengan lingkungan sehari-hari. Virus ini berkaitan erat dengan hewan pengerat dan umumnya muncul ketika manusia terpapar area yang terkontaminasi urine, saliva, atau feses hewan pembawa virus.

Di tengah kekhawatiran publik, penting untuk memahami bahwa hantavirus tidak bekerja seperti penyakit pernapasan yang mudah menular antarmanusia. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menegaskan virus ini bersifat zoonosis, sehingga jalur utama penularannya tetap berhubungan dengan kontak manusia dan hewan pengerat, bukan penyebaran biasa dari orang ke orang.

Mengapa kasus ini kembali ramai

Sorotan dunia menguat setelah sedikitnya tiga kematian dikaitkan dengan peristiwa di kapal pesiar MV Hondius. Insiden itu terjadi saat kapal berlayar di Samudera Atlantik dan langsung memunculkan kekhawatiran bahwa ancamannya bisa meluas lebih jauh.

WHO kemudian turun tangan untuk melakukan investigasi atas dugaan keterkaitan kasus tersebut dengan hantavirus. Situasi ini membuat publik menaruh perhatian lebih besar pada virus yang selama ini jarang dibahas secara luas.

Tidak semua hantavirus punya dampak yang sama

Hantavirus berada dalam keluarga Hantaviridae pada ordo Bunyavirales. Setiap jenis biasanya punya hewan pengerat tertentu sebagai reservoir alami, tempat virus hidup tanpa selalu menimbulkan gejala pada hewan pembawanya.

WHO menyebut hanya sebagian kecil jenis hantavirus yang diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Artinya, keberadaan virus ini di alam tidak otomatis berujung pada kasus manusia, meski risiko tetap ada jika paparan terjadi dalam kondisi yang tepat.

Gejala dan dampak bisa berbeda antarwilayah

Tingkat keparahan hantavirus bergantung pada jenis virus dan lokasi penularannya. Di Amerika, hantavirus dapat memicu hantavirus cardiopulmonary syndrome atau HCPS yang menyerang paru-paru dan jantung dengan perkembangan cepat.

Sementara itu, di Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering menyebabkan hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS. Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah, sehingga penanganannya membutuhkan pengawasan medis yang ketat.

Beban penyakit jarang, tetapi tetap serius

Secara global, hantavirus memang tergolong jarang, tetapi dampaknya tidak bisa dipandang ringan. WHO memperkirakan ada 10.000 hingga lebih dari 100.000 infeksi setiap tahun di seluruh dunia.

Di Asia Timur seperti China dan Korea Selatan, HFRS masih menyebabkan ribuan kasus setiap tahun meski trennya cenderung menurun. Di Eropa, beberapa ribu kasus juga dilaporkan setiap tahun, terutama di wilayah utara dan tengah.

Di Amerika, HCPS tercatat lebih jarang dengan ratusan kasus per tahun. Namun tingkat kematiannya sekitar 20% hingga 40%, sehingga penyakit ini tetap masuk kategori yang serius.

Apa yang diketahui di Indonesia

Kementerian Kesehatan menegaskan strain hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus di MV Hondius. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut strain di Indonesia didominasi Seoul virus, bukan Andes virus yang dapat menular antarmanusia.

Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr Andi Saguni, juga menegaskan belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Menurutnya, kasus yang terdeteksi adalah tipe HFRS dan terus dipantau melalui sistem surveilans nasional.

Indonesia juga sempat menerima notifikasi resmi dari International Health Regulation National Focal Point Inggris terkait seorang warga negara asing berusia sekitar 60 tahun yang tinggal di Jakarta Pusat. Orang itu memiliki riwayat kontak erat dengan pasien klaster MV Hondius, sehingga investigasi epidemiologi dilakukan untuk mencegah risiko penyebaran lebih lanjut.

Sumber risiko utama tetap ada di sekitar tikus

Kemenkes menyebut hantavirus banyak ditemukan pada hewan pengerat seperti tikus, tupai, hamster, dan marmut. Di Indonesia, beberapa tikus yang sudah terkonfirmasi sebagai pembawa antara lain Rattus norvegicus, Rattus tanezumi, Rattus tiomanicus, Rattus exulans, Rattus argentiventer, Mus musculus, Bandicota indica, dan Maxomys surifer.

Penularan biasanya terjadi lewat urine, saliva, atau feses hewan terinfeksi. Virus bisa masuk melalui luka di kulit atau melalui membran mukosa seperti mata, hidung, dan mulut.

Risiko paling sering muncul saat membersihkan area yang menjadi sarang tikus, seperti gudang atau rumah kosong. Partikel udara yang terkontaminasi dapat terhirup, dan gigitan tikus juga bisa menjadi jalur penularan meski kasus seperti ini jarang terjadi.

Hingga saat ini, belum ada laporan penularan hantavirus antarmanusia di Indonesia. Karena itu, kewaspadaan tetap ditekankan melalui kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan area yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button