Peluang hujan lebat masih belum benar-benar hilang dari banyak wilayah Indonesia, meski suhu udara di sejumlah daerah sempat terasa sangat panas. BMKG memperkirakan kondisi hujan tetap mendominasi cuaca nasional hingga 21 Mei 2026, terutama ketika udara lembap masih cukup kuat untuk membentuk awan hujan pada sore hingga malam hari.
Situasi ini membuat suhu maksimum yang sempat melampaui 36 derajat Celcius tidak bisa dijadikan patokan bahwa langit akan cerah dan kering. Dalam masa peralihan musim seperti sekarang, pemanasan permukaan justru dapat berjalan bersamaan dengan meningkatnya peluang hujan, sehingga masyarakat tetap perlu siaga terhadap cuaca ekstrem.
BMKG mencatat suhu maksimum pada 11 hingga 13 Mei 2026 berada di atas 36 hingga 37,1 derajat Celcius di Sumatra Utara, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur. Namun, pemanasan yang kuat itu tidak otomatis mengurangi kelembapan udara, dan kondisi tersebut tetap membuka ruang bagi pertumbuhan awan hujan.
Dari sisi curah hujan, sejumlah wilayah bahkan menunjukkan intensitas yang tinggi. Sulawesi Barat tercatat sebagai daerah dengan curah hujan tertinggi, yaitu 139 mm per hari, disusul Sulawesi Tenggara 81,4 mm per hari, Papua Barat 80 mm per hari, Papua Tengah 71 mm per hari, dan Sumatra Barat 70,9 mm per hari.
Potensi hujan lebat juga muncul di wilayah lain seperti Kalimantan Barat yang mencapai 66,3 mm per hari. Selain itu, Papua Pegunungan tercatat 62,4 mm per hari, sedangkan Kalimantan Tengah berada di angka 57,4 mm per hari.
BMKG menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi beberapa fenomena atmosfer yang aktif bersamaan. Monsun Australia diperkirakan melemah sedikit seiring meningkatnya aktivitas Medan Julian Oscillation atau MJO di wilayah Samudra Hindia.
Aktivitas MJO itu diperkirakan bergerak melintasi sebagian Sumatera, Jawa, Sulawesi bagian selatan, hingga Papua. Pada saat yang sama, gelombang tropis juga ikut memperbesar peluang hujan di Indonesia dalam beberapa hari ke depan.
Gelombang Kelvin diperkirakan aktif di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Sementara itu, gelombang Rossby Equatorial diperkirakan memengaruhi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
BMKG juga mencatat adanya sirkulasi siklonik di sekitar Selat Karimata dan Selat Makassar bagian selatan. Kondisi ini dapat memicu pertemuan angin dan membantu pembentukan awan hujan di wilayah sekitarnya.
Untuk periode 15 hingga 17 Mei 2026, cuaca Indonesia umumnya diperkirakan didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. Pada fase ini, beberapa wilayah masuk kategori siaga karena hujan lebat berpotensi disertai kilat atau petir serta angin kencang.
Wilayah yang berada dalam status siaga antara lain Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. BMKG juga memprediksi angin kencang dapat terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Timur.
Memasuki periode 18 hingga 21 Mei 2026, intensitas hujan di sebagian wilayah diperkirakan menurun, tetapi cuaca basah masih mendominasi dengan hujan ringan hingga hujan sedang. Meski begitu, hujan lebat yang disertai kilat atau petir serta angin kencang masih berpotensi terjadi dengan status siaga di Maluku Utara, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Dengan pola atmosfer yang masih dinamis, BMKG meminta masyarakat dan pemangku kepentingan tetap memperhatikan perkembangan cuaca. Kewaspadaan dinilai penting karena hujan yang terus berulang dapat memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah.
Source: www.idntimes.com




