Asus ExpertBook Ultra menempatkan keamanan dan ketahanan sebagai bagian utama dari desainnya, bukan sekadar pelengkap. Laptop ini dibangun untuk kebutuhan bisnis premium yang menuntut perangkat tetap aman, kuat, dan siap dipakai dalam jangka panjang.
Pendekatan itu terlihat dari kombinasi sertifikasi ketahanan militer, sistem keamanan, dan layanan purna jual yang disiapkan Asus. Di saat banyak laptop bisnis hanya menonjol di satu sisi, perangkat ini mencoba menggabungkan perlindungan fisik, proteksi data, dan dukungan operasional dalam satu bodi yang tetap ringkas.
Dirancang untuk bertahan di kondisi berat
Asus membekali ExpertBook Ultra dengan standar pengujian MIL-STD-810H. Laptop ini disebut lolos 24 prosedur pengujian dalam 11 kategori berbeda, mulai dari suhu ekstrem, kelembapan tinggi, hingga benturan fisik keras.
Ketahanan yang diklaim mencakup rentang suhu dari minus 51 derajat Celsius sampai 60 derajat Celsius. Perangkat ini juga disebut sanggup menghadapi benturan hingga 40G, sehingga cocok untuk kebutuhan kerja yang menuntut mobilitas tinggi.
Untuk penggunaan harian, Asus menambahkan keyboard yang tahan tumpahan cairan dan pelindung logam pada port I/O. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi risiko kerusakan akibat insiden kecil yang sering terjadi di lingkungan kerja.
Ringan, tipis, dan tetap diprioritaskan untuk mobilitas
Di luar soal ketahanan, ExpertBook Ultra tetap mengejar kepraktisan. Bobotnya sekitar 0,99 kilogram dengan ketebalan hanya 10,9 mm, sehingga mudah dibawa untuk pekerja yang sering berpindah lokasi.
Asus memakai material magnesium-aluminium AZ31B kelas kedirgantaraan agar bodinya tetap ringan namun kokoh. Meski ramping, laptop ini membawa baterai 70Wh yang diklaim mampu bertahan hingga 26 jam pemakaian.
Kombinasi tersebut membuatnya relevan untuk profesional yang membutuhkan perangkat kerja tanpa beban berlebih saat dibawa bepergian. Asus juga menyertakan garansi bisnis hingga lima tahun dan layanan on-site service untuk memperkuat posisinya di segmen enterprise premium.
Performa AI jadi fokus utama
Di sisi dapur pacu, ExpertBook Ultra mengandalkan Intel Core Ultra X9 Series 3 dengan teknologi AI terbaru. NPU-nya diklaim mampu mencapai hingga 50 TOPS, sementara total platform komputasi AI disebut mencapai 180 TOPS.
Kemampuan ini diarahkan untuk mendukung pemrosesan AI generatif, penerjemahan real-time, dan eksekusi Large Language Model atau LLM secara lokal. Pendekatan lokal ini memberi keleluasaan lebih besar bagi pengguna bisnis yang membutuhkan kecepatan dan respons tanpa terlalu bergantung pada cloud.
Asus juga menanamkan sistem pendingin ExpertCool Pro untuk menjaga TDP prosesor tetap stabil di angka 50W tanpa throttling. Stabilitas ini penting saat laptop dipakai untuk rendering, pengolahan data besar, dan multitasking berat dalam durasi panjang.
Layar, memori, dan keamanan ikut diperkuat
Untuk mendukung kerja visual, Asus menyematkan layar sentuh Tandem OLED 14 inci dengan resolusi 3K. Panel ini memiliki refresh rate adaptif 30Hz hingga 120Hz dan kecerahan sampai 1.400 nits HDR.
Lapisan Gorilla Glass Matte anti-glare dipasang agar layar tetap nyaman dipakai di berbagai kondisi pencahayaan. Di sisi audio, perangkat ini membawa enam speaker dengan dukungan Dolby Atmos.
Konfigurasi memorinya juga dibuat tinggi untuk kelas premium. ExpertBook Ultra dibekali RAM LPDDR5x hingga 64GB dengan kecepatan 9600 MT/s, serta SSD PCIe Gen5 x4 hingga 2TB dengan kecepatan baca mencapai 14.000 MB/s.
Aspek keamanan mendapat perhatian besar melalui standar NIST SP 800-193, fitur BIOS self-healing, sensor sidik jari, dan IR facial recognition. Asus juga menyiapkan suite MyExpert AI agar sejumlah fitur kecerdasan buatan bisa berjalan secara lokal tanpa biaya langganan tambahan.
Dengan fokus pada bobot ringan, daya tahan militer, baterai besar, dan tenaga AI yang tinggi, Asus ExpertBook Ultra tampil sebagai laptop bisnis premium yang diarahkan untuk kebutuhan kerja modern yang makin kompleks. Perangkat ini mencoba memberi jawaban bagi pengguna yang membutuhkan mobilitas tinggi tanpa mengorbankan performa maupun perlindungan data.
Source: mediaindonesia.com




