BLK, Industri, dan Vokasi Jawa Barat Disatukan, Pengangguran Terdidik Didorong Turun

Pendidikan vokasi di Jawa Barat kini diarahkan untuk keluar dari kebiasaan lama yang terlalu sempit membaca kebutuhan kerja. Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menempatkan revitalisasi vokasi sebagai upaya agar lulusan lebih dekat dengan industri dan pasar kerja yang benar-benar menyerap tenaga kerja.

Masalah yang ingin dijawab bukan sekadar jumlah lulusan, melainkan arah pendidikan yang selama ini kerap mendorong banyak orang muda masuk ke jalur kerja formal yang terbatas. Kondisi itu ikut membuat pengangguran terbuka banyak berasal dari kelompok berpendidikan, sementara ruang kerja lain yang sebenarnya tersedia belum digarap optimal.

Membaca ulang arah pendidikan vokasi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai pendidikan selama ini terlalu kuat membentuk orientasi kerja pada sektor formal. Akibatnya, banyak lulusan menumpuk di perusahaan, aparatur sipil negara, honorer, hingga jalur P3K.

Menurut Dedi, vokasi perlu lebih berani melihat peluang ekonomi yang selama ini sering dianggap pinggiran. Ia mencontohkan industri anyaman, pangan tradisional, perkebunan kopi, dan teh sebagai bidang yang memiliki pasar stabil dan masih bisa dikembangkan lebih jauh.

“Sekolah selalu membangun pikiran untuk kerja pada sektor formal,” ujar Dedi di Gedung Pakuan Bandung, Rabu. Dari sudut pandang itu, pendidikan kejuruan tidak cukup hanya menyiapkan pencari kerja, tetapi juga perlu membuka ruang inovasi dan peluang usaha baru.

BLK dan dunia usaha harus bergerak lebih dekat

Dari sisi pemerintah pusat, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menekankan pentingnya hubungan yang lebih erat antara Balai Latihan Kerja dan pemberi kerja. Ia menilai pendidikan harus mengikuti dinamika peluang kerja yang ada, bukan berhenti pada satu sektor tertentu saja.

Pratikno juga mengingatkan bahwa bonus demografi perlu dimanfaatkan melalui pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Peluang kerja, menurut dia, tidak hanya muncul di bidang teknologi, tetapi juga di pariwisata, kebudayaan, dan pemanfaatan kekuatan alam.

Karena itu, sinergi antara lembaga vokasi, BLK, dan industri dipandang penting agar lulusan lebih siap masuk ke berbagai jenis pekerjaan. Dengan hubungan yang lebih rapat, pendidikan vokasi dapat bergeser dari sekadar jalur mencari kerja menjadi pembentuk tenaga kerja yang kreatif dan adaptif.

Pariwisata disiapkan dengan standar kompetensi

Penguatan arah vokasi juga terlihat dari sektor pariwisata. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan fondasi berupa standar kompetensi yang jelas untuk bidang ini.

Widiyanti menyebut ada 483 skema okupasi untuk pariwisata yang telah diluncurkan sebagai acuan profesi baru. Ia juga menegaskan bahwa Politeknik Pariwisata NHI Bandung menjadi bagian dari ekosistem penguatan vokasi tersebut.

Standarisasi ini dinilai penting agar tenaga kerja lokal punya pijakan yang jelas saat bersaing lebih luas, termasuk di pasar global. Jika pembelajaran vokasi selaras dengan kebutuhan industri jasa, peluang lulusan untuk terserap ke sektor yang berkembang juga menjadi lebih besar.

Potensi lokal menjadi penentu arah

Revitalisasi vokasi di Jawa Barat pada dasarnya sedang diarahkan untuk menjembatani potensi daerah dengan kebutuhan kerja. Pendidikan kejuruan tidak lagi diposisikan sekadar sebagai penyedia ijazah, melainkan sebagai penggerak ekonomi lokal yang bisa membuka lapangan kerja baru.

Pendekatan ini dinilai relevan karena pasar kerja di daerah tidak selalu bertumpu pada sektor formal yang sempit. Ketika vokasi mampu membaca kekuatan lokal seperti pariwisata, budaya, pangan, perkebunan, dan sumber daya alam, lulusan memiliki pilihan yang lebih beragam untuk masuk ke dunia kerja.

Hubungan yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BLK, lembaga pendidikan, dan industri menjadi fondasi perubahan tersebut. Jika kerja sama itu berjalan rapat, revitalisasi vokasi di Jawa Barat dapat menjadi jalan baru untuk menekan pengangguran terdidik sekaligus memperluas ruang kerja bagi generasi muda.

Source: jabar.antaranews.com
Exit mobile version