Lonjakan minat pada Zcash menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar kripto tidak hanya mengejar aset besar yang mudah dilacak, tetapi juga alat simpan nilai yang lebih sulit dibaca publik. Di tengah pasar yang makin terbuka pengawasannya, privacy token seperti Zcash kembali mendapat tempat karena menawarkan lapisan kerahasiaan yang tidak dimiliki aset arus utama.
Perubahan arah ini menarik karena terjadi saat Bitcoin justru makin diterima di jalur keuangan resmi. Aset yang dulu dipandang sebagai simbol kebebasan tanpa pengawasan kini hadir di Bloomberg terminal, dipegang perusahaan publik, dan semakin sering berada di bawah sorotan regulator.
Daya tarik privasi kembali menguat
Zcash menjadi salah satu nama yang paling menonjol dalam pergeseran itu. Aset ini diluncurkan pada Oktober 2016 dan dikembangkan oleh peneliti dari Johns Hopkins University serta Tel Aviv University untuk menambah privasi di atas protokol Bitcoin.
Sebagai privacy token, Zcash memakai kriptografi canggih untuk menyembunyikan penggunanya hampir sepenuhnya. Karakter inilah yang membuatnya kembali diburu sebagian pengguna yang ingin meninggalkan jejak transaksi sesedikit mungkin.
Di ruang yang sama, Monero lebih dulu hadir pada 2014 dan sudah lama dikenal sebagai pilihan bagi pengguna yang mengejar privasi ekstrem. Namun kedua aset ini juga membawa reputasi yang rumit karena kerap dikaitkan dengan aktivitas ilegal.
Monero, misalnya, disebut makin sering dipakai untuk pembayaran ransomware, transaksi internasional, dan jual beli narkotika di darknet market. Sorotan seperti ini ikut menegaskan bahwa aset privasi selalu berada di persimpangan antara kerahasiaan finansial dan penyalahgunaan.
Modal besar ikut masuk
Ketertarikan pada Zcash tidak hanya datang dari pengguna individu. The Wall Street Journal melaporkan Tyler dan Cameron Winklevoss, dua pendukung awal Bitcoin, menanamkan $50 juta ke startup kripto Cypherpunk Technologies yang akan menyimpan banyak Zcash dalam portofolionya.
Keduanya juga disebut telah menyuntikkan $100 juta dari kepemilikan Bitcoin mereka sendiri untuk menopang Gemini, perusahaan kripto lama yang mereka miliki. Sejauh yang diketahui, mereka sudah menimbun lebih dari 300.000 token Zcash dengan nilai lebih dari $157 juta pada saat penulisan.
Arus modal itu ikut mendorong harga Zcash naik tajam dalam sebulan terakhir. Volume perdagangannya juga mencapai level tertinggi dalam tiga tahun, seiring lonjakan transaksi besar pada akhir 2025.
Bitcoin makin terbuka, privasi makin dicari
Pergeseran minat ini juga memperlihatkan kontras yang makin jelas antara Bitcoin dan privacy token. Bitcoin kini semakin sah sebagai instrumen keuangan, tetapi transparansi blockchain membuat transaksi tetap dapat dilihat dalam catatan publik.
Bagi sebagian pelaku kejahatan, kondisi itu memaksa adanya langkah tambahan untuk menyamarkan dana yang digunakan. Di sisi lain, investor dan pengguna yang mengejar privasi melihat celah di mana transaksi tidak seharusnya mudah dibaca semua pihak.
Karena itulah modal institusional yang mulai masuk ke ruang privacy token memunculkan pertanyaan baru. Semakin banyak uang resmi mengalir ke aset seperti Zcash, semakin besar pula risiko dana digunakan untuk bersembunyi dari otoritas pajak dan regulator.
Sorotan regulator belum reda
Kekhawatiran terhadap privacy token tidak berhenti pada urusan pasar. Sejumlah pelaku siber sudah menerima Zcash sebagai alat pembayaran, sementara Jepang, Korea Selatan, dan India memberlakukan larangan langsung.
Sedikitnya 10 negara juga membatasi privacy token di bursa yang teregulasi. Pembatasan ini menunjukkan bahwa minat investor dan tekanan kepatuhan bergerak bersamaan, bukan saling menggantikan.
Tushar Jain, cofounder firma modal ventura Multicoin Capital, mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa “Zcash is what Bitcoin should be. It’s what Bitcoin was originally meant to be.” Pandangan itu menggambarkan masih adanya kelompok yang memandang privasi ekstrem sebagai inti dari visi awal aset digital.
Namun bagi banyak pengamat, alasan yang sama justru membuat Zcash dan Monero sulit dipisahkan dari dunia kejahatan terorganisasi. Di tengah arus uang besar yang masuk, perdebatan soal batas antara kebebasan finansial dan penyamaran aset pun semakin tajam.





