Peta ancaman terhadap kripto kembali berubah setelah Justin Drake menempatkan Q-day sebagai skenario yang jauh lebih dekat dari perkiraan banyak orang. Peneliti Ethereum itu menilai peluang momen ketika komputer kuantum mampu memecahkan kriptografi produksi yang masih dipakai saat ini sudah mencapai 50% pada 2032.
Drake juga memperkirakan peluang Q-day berada di level 10% pada 2030. Hitungan itu membuat waktu yang tersisa untuk perpindahan ke kriptografi tahan kuantum terasa makin sempit bagi ekosistem aset digital.
Sorotan utama dalam penilaian Drake datang dari pergerakan teknis yang terus mengikis asumsi lama. Salah satunya adalah riset Google Quantum AI yang pada 31 Maret mengumumkan percepatan 10 kali lipat untuk algoritma Shor terhadap kriptografi kurva eliptik.
Demonstrasi itu dilakukan pada secp256k1, skema yang dipakai untuk tanda tangan Bitcoin dan Ethereum. Drake tercatat sebagai salah satu penulis makalah tersebut, sehingga pandangannya ikut mendapat bobot dari perkembangan yang dia bantu bahas sendiri.
Ia juga menyoroti perubahan pada bagian optimisasi kunci yang sempat dikunci di balik zero-knowledge proof setelah yang disebut Google sebagai keterlibatan dengan pemerintah Amerika Serikat. Drake memandang langkah itu bukan sekadar kehati-hatian riset, melainkan bentuk sensor akademik yang pertama kali muncul dalam konteks ini.
Namun upaya menahan optimisasi itu tidak bertahan lama. Drake menyebut peneliti kuantum Prancis André Schrottenloher berhasil menemukan ulang optimisasi utama tersebut secara independen dan mengunggahnya ke arXiv.
Craig Gidney dari Google juga mengakui dalam sebuah blog bahwa ia menyimpan teknik yang sama selama setahun. Ia mengatakan keputusan itu terjadi di bawah tekanan untuk tetap diam, dan pengakuan ini ikut memperlihatkan bahwa hambatan teknis menuju serangan kuantum tampak tidak setebal dugaan awal.
Perhatian Drake tidak berhenti pada riset akademik dan laboratorium besar. Ia juga menyoroti startup stealth bernama Oratomic yang mengklaim hanya 10.000 qubit fisik sudah cukup untuk menjalankan Shor pada secp256k1 dengan perangkat keras atom netral.
Angka itu dinilai sangat rendah oleh Drake sampai sulit dipercaya pada awalnya. Setelah meneliti teknologinya selama beberapa ratus jam, ia mengatakan klaim tersebut nyata dan layak diperhitungkan.
Di titik ini, kekhawatiran bergeser dari sekadar teori menjadi soal kesiapan industri. Jika jalur teknis menuju kemampuan itu memang lebih pendek, maka perangkat keras atom netral berpotensi mempercepat skenario yang sebelumnya dianggap masih jauh.
Bitcoin dan Ethereum menjadi contoh paling jelas dalam pembahasan ini karena keduanya masih bergantung pada secp256k1 untuk tanda tangan. Bila komputer kuantum mampu memecahkan skema tersebut, tekanan terhadap fondasi keamanan banyak aset digital dan sistem produksi lain akan ikut membesar.
Karena itu, Drake menilai jendela migrasi ke kriptografi berbasis hash yang tahan kuantum kian tidak nyaman. Semakin lama transisi ditunda, semakin kecil ruang yang tersedia bagi ekosistem untuk beradaptasi sebelum ancaman itu benar-benar hadir.





