Ubi kayu sedang diposisikan sebagai komoditas yang tidak berhenti di meja makan. Dari bahan pangan, tanaman ini kini masuk ke pembahasan energi nasional karena peluang hilirisasi menjadi bioetanol dinilai mampu menambah nilai ekonomi yang lebih besar.
Arah pengembangannya juga tidak lagi berdiri di satu titik. PT Perkebunan Nusantara III (Persero) mendorong pengelolaan ubi kayu dari kebun sampai pabrik agar manfaatnya mengalir ke petani, industri, dan kebutuhan energi sekaligus.
Dari lahan ke industri
Direktur Utama PTPN III, Denaldy Mulino Mauna, menekankan bahwa pengembangan ubi kayu harus dimulai dari peningkatan produktivitas di lahan. Fokus itu mencakup optimalisasi lahan, kenaikan hasil panen, dan pengembangan varietas unggul yang lebih adaptif.
Pendekatan tersebut penting karena ubi kayu kini dilihat bukan sekadar komoditas pertanian biasa. Di sisi lain, tanaman ini punya peran sebagai bahan baku energi yang membuka ruang lebih besar bagi kebutuhan industri nasional.
Bioetanol menjadi tujuan hilirisasi
Pada tahap pengolahan, PTPN III mengarahkan ubi kayu ke industri bioetanol melalui kerja sama operasional di fasilitas pabrik di Lampung. Langkah ini disebut sebagai bagian dari pembangunan ekosistem agroindustri masa depan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan.
Denaldy menegaskan bahwa rantai nilai harus efisien agar potensi ubi kayu dapat dimanfaatkan maksimal. Tanpa hubungan yang kuat antara produksi bahan baku dan pengolahan industri, nilai ekonomi komoditas ini dinilai belum akan optimal.
Pasokan bahan baku harus dijaga bersama
Pengembangan ubi kayu tidak dapat berjalan jika hanya mengandalkan satu pihak. Karena itu, PTPN III menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah, petani, dan pelaku industri untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku.
Di Lampung, perusahaan juga telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi, asosiasi petani, dan mitra industri pengolahan. Pola kolaborasi ini dianggap penting karena kebutuhan industri hanya bisa dipenuhi jika ketersediaan bahan baku, kelancaran produksi, dan kepastian pasar dibangun bersama secara terukur.
Riset ikut menentukan kualitas pengembangan
Selain kerja sama lapangan, riset juga menjadi penopang penting dalam pengembangan ubi kayu. PTPN III mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk memperkuat produktivitas dari hulu.
Fokus riset itu berada pada pengembangan varietas dan teknik budidaya. Kebutuhan industri berbeda dari budidaya biasa, sehingga hasil riset diharapkan membantu menjaga pasokan sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Nilai tambah yang menjangkau lebih luas
Ketika ubi kayu masuk ke jalur bioetanol, dampaknya tidak hanya berhenti pada satu sektor. Denaldy menyebut pengembangan ini dapat memberi efek pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan nilai tambah komoditas pertanian.
Dalam kerangka tersebut, ubi kayu bergerak dari bahan mentah ke ekosistem ekonomi yang lebih besar. Komoditas ini tetap relevan sebagai pangan, tetapi juga membuka jalur menuju energi terbarukan yang mendukung industri turunan dan memberi manfaat bagi petani maupun sektor manufaktur.
Peran ganda itulah yang membuat ubi kayu semakin strategis. Jika hulu, hilir, riset, petani, pemerintah daerah, dan industri bergerak serempak, komoditas ini berpeluang menjadi bagian penting dari penguatan ketahanan pangan dan energi nasional.
Source: www.viva.co.id