Tekanan pada tahu dan tempe tidak datang hanya dari mahalnya kedelai. Pelemahan rupiah membuat ruang gerak produsen makin sempit karena bahan baku utama mereka masih sangat bergantung pada impor.
Saat kurs menyentuh Rp17.601 per dollar AS, biaya produksi ikut terangkat dan ancaman kenaikan harga di pasar semakin dekat. Kondisi ini langsung terasa bagi pelaku usaha yang sulit menyesuaikan harga jual karena kedelai menyumbang 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi tahu dan tempe.
Ketergantungan pada impor masih sangat besar
Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menyebut konsumsi kedelai nasional berada di kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi lokal hanya sekitar 200.000 sampai 300.000 ton, sehingga lebih dari 85 persen kebutuhan masih dipenuhi dari impor.
Dengan struktur seperti itu, depresiasi rupiah di kisaran Rp17.000 per dollar AS langsung menambah biaya bahan baku. Rizal menilai tidak ada penyangga yang cukup dari produksi domestik untuk meredam tekanan tersebut.
Ketergantungan terbesar masih datang dari kedelai asal Amerika Serikat. Badan Pusat Statistik mencatat impor kedelai pada 2025 mencapai 2,56 juta ton, dan 90 persen di antaranya berasal dari Amerika Serikat.
Pasokan dalam negeri belum memberi ruang aman
Di sisi lain, produksi lokal belum menunjukkan kemampuan untuk menutup kebutuhan industri olahan kedelai. Rizal menjelaskan, produksi dalam negeri diprediksi terus turun hingga 320.000 ton pada 2026 karena banyak petani beralih menanam padi atau jagung.
Kondisi itu membuat pasar domestik makin rentan terhadap gejolak nilai tukar dan harga global. Begitu rupiah melemah, biaya impor naik dan tekanannya segera merambat ke produsen tahu serta tempe yang bergantung pada bahan baku tersebut.
Biaya produksi terdorong dari berbagai arah
Kedelai bukan satu-satunya komponen yang membebani pelaku usaha. Rizal juga menyoroti harga plastik kemasan yang ikut terdorong naik akibat lonjakan harga minyak mentah global.
Ia menjelaskan, plastik berbasis resin yang diturunkan dari minyak mengalami kenaikan harga seiring Indonesian Crude Price atau ICP yang sudah menembus di atas 100 dollar AS per barrel. Bagi UMKM, kenaikan ini tidak bisa dianggap kecil karena kemasan tetap menjadi bagian biaya yang penting.
Tekanan itu sudah dirasakan di lapangan oleh para perajin. Hadi Prayitno, perajin di Ponorogo, mengaku terpaksa mengubah dimensi produknya akibat harga bahan baku yang tidak stabil selama satu bulan terakhir.
Hadi juga menyebut biaya kemasan tempe ikut terdampak. Ia menilai komponen itu sering dianggap kecil, padahal cukup signifikan bagi UMKM yang harus menjaga biaya produksi tetap terkendali.
Sejumlah perajin kini masih memantau harga distributor untuk menentukan langkah berikutnya. Opsi yang dipertimbangkan adalah menaikkan harga jual atau mengecilkan ukuran produk agar usaha tetap berjalan.
Dorongan menjaga pasokan tetap mengalir
Di tengah tekanan kurs dan biaya produksi, Asosiasi Kedelai Indonesia atau Akindo mendorong penguatan kerja sama dagang dengan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade. Kesepakatan itu mencakup komitmen pasokan kedelai 3,5 juta ton per tahun untuk lima tahun ke depan.
Ketua Akindo, Hidayatullah Suralaga, menilai komitmen pembelian itu penting untuk menjaga kepastian pasokan dan kelancaran distribusi nasional. Menurut dia, jaminan stok dapat memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing.
Hidayatullah menegaskan bahwa kepastian pasokan bisa memperkuat ekosistem industri kedelai nasional. Di tengah rupiah yang melemah, jaminan itu menjadi salah satu penahan utama agar tekanan biaya tidak langsung berubah menjadi lonjakan tajam pada tahu dan tempe di pasar.