Biaya Risiko Perang Di Selat Hormuz Melambung, Rantai Pasok Energi Dunia Makin Tertekan

Selat Hormuz kembali menunjukkan betapa mahalnya risiko sebuah jalur pelayaran yang tidak stabil. Di kawasan ini, premi asuransi risiko perang untuk kapal kini naik hingga 10 persen saat melintas, jauh di atas kondisi normal yang sebelumnya berada di bawah 1 persen.

Kenaikan biaya itu muncul ketika perang Iran memicu ketidakpastian keamanan di salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Dampaknya langsung terasa pada operator kapal, pengirim barang, dan arus komoditas energi yang bergantung pada perlintasan di kawasan tersebut.

Profesor manajemen rantai pasok University of Texas, Ed Anderson, menyebut premi asuransi risiko perang saat ini berada di kisaran 3 persen hingga 10 persen dari nilai barang yang diangkut. Menurut dia, sebagian kapal memang sudah kembali bergerak, tetapi kondisi itu belum cukup untuk memulihkan industri pelayaran secara menyeluruh.

Anderson menilai beban asuransi sudah bergeser jauh dari situasi normal. Ia menekankan bahwa kekhawatiran utama tetap berada pada aspek keamanan, sehingga kehadiran sejumlah kapal yang melintas belum mampu mengubah gambaran besar pasar.

Arus kapal masih jauh dari normal

Selat Hormuz memegang peran penting dalam distribusi minyak mentah, pupuk, dan produk energi lainnya ke pasar global. Karena fungsi itu, setiap gangguan di jalur ini cepat merambat ke rantai pasok internasional dan menambah tekanan bagi perdagangan.

Data Lloyd’s List Intelligence menunjukkan lalu lintas kapal di kawasan tersebut anjlok tajam dari rata-rata 100 hingga 135 kapal per hari sebelum perang. Kini, kapal yang melintas harus menghadapi pemeriksaan ketat dan wajib mengikuti rute yang berisiko melanggar sanksi internasional.

Situasi itu membuat pelayaran di Teluk berlangsung dalam suasana sangat hati-hati. Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, juga melaporkan bahwa ribuan pelaut masih tertahan di kawasan tersebut.

Sean Pribyl dari firma hukum maritim Holland & Knight menilai inti persoalan tetap sama, yaitu keselamatan awak dan muatan. Ia mengatakan navigasi aman masih sulit dicapai dan belum ada tanda lalu lintas akan kembali normal.

Pengawalan militer belum cukup meredakan pasar

Ketegangan sempat naik lagi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan operasi “Project Freedom” pada Minggu (4/5/2026). Operasi itu sempat memandu dua kapal keluar, lalu dihentikan dua hari kemudian untuk memberi ruang bagi proses diplomasi.

Namun, pengawalan militer belum berhasil memulihkan keyakinan pasar. Analis energi Verisk Maplecroft, Kaho Yu, menilai keterlibatan diplomatik tidak otomatis membuat pasar energi kembali ke kondisi sebelum krisis.

Maersk juga mengonfirmasi kapal Alliance Fairfax yang mengangkut kendaraan berhasil keluar dari Teluk Persia dengan pengawalan militer Amerika Serikat. Meski demikian, satu perjalanan itu belum mengubah pandangan pelaku pasar yang masih berhati-hati saat menilai risiko di kawasan tersebut.

Biaya besar bagi operator pelayaran

Tekanan finansial mulai terasa pada perusahaan pelayaran besar. Hapag Lloyd AG asal Jerman mencatat kerugian sekitar 60 juta dollar AS atau setara Rp1,04 triliun setiap pekan dan mulai mencari rute darat sebagai alternatif.

Perusahaan itu menyatakan kapasitas jalur darat tetap terbatas dan tidak bisa sepenuhnya menggantikan rute maritim reguler melalui wilayah tersebut. Kondisi ini membuat operator harus menanggung biaya lebih tinggi sambil tetap menghadapi ketidakpastian keamanan.

CEO Kinaxis, Razat Gaurav, menilai pemulihan jalur pelayaran akan memakan waktu lama. Ia melihat operator, perusahaan asuransi, dan pengirim barang sama-sama membutuhkan kepastian bahwa stabilitas akan bertahan sebelum biaya risiko bisa turun.

Selama kepastian itu belum kuat, premi asuransi diperkirakan tetap menjadi salah satu biaya paling mahal dalam perdagangan melalui Selat Hormuz. Jalur vital ini pun masih berada di pusat perhatian karena setiap gangguannya langsung memukul rantai pasok energi dan logistik dunia.

Exit mobile version