Biaya Perang Iran Menanjak Ke $25 Miliar, USS Gerald R. Ford Bersiap Tinggalkan Timur Tengah

Beban perang Iran terus melebar ke banyak arah, mulai dari anggaran militer Amerika Serikat, pasar energi, hingga kebuntuan diplomasi. Di tengah situasi itu, kapal induk USS Gerald R. Ford dan kelompok serangnya diperkirakan segera meninggalkan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.

Keputusan itu menjadi sinyal penting karena Ford selama ini menjadi salah satu kekuatan utama AS yang dikerahkan di kawasan tersebut sejak Juni. Saat kapal itu bersiap pulang, konflik yang berkaitan dengan perang Iran justru masih meninggalkan tekanan besar di Washington.

Di hadapan Kongres, seorang pejabat Pentagon menyebut biaya perang Iran sejauh ini sudah mencapai sekitar $25 miliar. Jules Hurst III, pelaksana tugas wakil menteri perang untuk urusan keuangan, mengatakan pengeluaran terbesar berasal dari amunisi, disusul biaya operasi militer dan penggantian peralatan yang dipakai dalam konflik.

Hurst juga menyampaikan bahwa Gedung Putih akan menyiapkan tambahan anggaran setelah penilaian penuh atas biaya perang selesai. Pernyataan itu muncul di tengah pembahasan anggaran Departemen Pertahanan yang mengajukan permintaan dana sebesar $1,5 triliun kepada Komite Angkatan Bersenjata DPR.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth pun menghadapi tekanan langsung dari anggota parlemen untuk pertama kalinya sejak perang dimulai. Sejumlah legislator meminta penjelasan soal strategi AS, durasi operasi, dan beban ekonomi yang harus ditanggung publik.

Namun, ketika ditanya berapa lama operasi akan berlangsung dan berapa besar tambahan dana yang masih dibutuhkan, Hegseth menolak memberi rincian. Ia menegaskan militer tidak akan memberi tahu musuh soal berapa lama komitmen itu akan dijalankan.

Dalam sesi yang sama, seorang anggota Partai Demokrat menyinggung dampak perang terhadap masyarakat, termasuk potensi pengaruhnya pada harga bensin dan pangan. Hegseth lalu membalas dengan pertanyaan, “Apa biaya dari bom nuklir Iran?”

Tekanan perang juga makin terasa di pasar energi. Kekhawatiran investor meningkat karena negosiasi AS-Iran belum juga menemukan jalan keluar, sementara harga minyak kembali bergerak naik.

Brent sempat menembus $125 per barel pada perdagangan awal Kamis, sedangkan minyak mentah patokan AS juga ikut menguat. Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, Brent masih berada di sekitar $70 per barel, sehingga kenaikan yang terjadi tergolong tajam.

Dampaknya merembet ke konsumen di AS. Rata-rata harga bensin tercatat mencapai $4,18 per galon, lalu naik lagi menjadi $4,23 per galon.

Analis energi Patrick De Haan dari GasBuddy menilai belum jelasnya jalur menuju perdamaian ikut mendorong harga minyak naik kembali. Menurutnya, pasar sedang mengambil kembali sebagian kenaikan yang sempat hilang setelah adanya gencatan senjata.

Di saat yang sama, Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif dalam konflik ini. AS masih menjalankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sedangkan Iran hanya mengizinkan sedikit kapal tangki melintas dalam beberapa hari terakhir.

U.S. Central Command menyebut blokade tersebut telah memaksa 41 kapal berbalik arah. Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan ada 41 tanker dengan 69 juta barel minyak yang tidak bisa dijual Iran, sehingga menimbulkan kerugian lebih dari $6 miliar bagi penguasa negara itu.

Gedung Putih menyebut langkah itu memberi AS “maximum leverage” terhadap Teheran. Seorang pejabat tinggi Gedung Putih juga mengatakan opsi mempertahankan blokade selama berbulan-bulan sempat dibahas bersama para eksekutif energi.

Di jalur diplomasi, belum ada tanda terobosan berarti. Presiden Donald Trump mengatakan ia berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin soal Iran, termasuk tawaran Rusia untuk membantu memindahkan uranium yang diperkaya dari Iran.

Kremlin, melalui penasihat Yuri Ushakov, menyebut Putin memperingatkan Trump soal “konsekuensi yang tak terhindarkan dan sangat merusak” jika AS dan Israel kembali memakai kekuatan militer terhadap Iran. Trump sendiri menyebut konflik Iran dan Ukraina bisa berakhir dengan “jadwal yang mirip.”

Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif juga mengatakan upaya negaranya untuk membantu mendorong kesepakatan damai masih berlangsung. Ia menilai perang itu telah menghentikan momentum pembangunan ekonomi dan membuat harga minyak “melambung ke langit.”

Meski USS Gerald R. Ford segera pulang dari Timur Tengah, tekanan politik, ekonomi, dan militer yang lahir dari perang Iran masih jauh dari reda. Fokus kini bergeser ke arah langkah Washington berikutnya, sementara risiko eskalasi tetap membayangi.

Baca Juga

Back to top button