Biaya Avtur Membengkak, Maskapai Nigeria Sempat Di Ambang Setop Terbang

Ancaman penghentian penerbangan di Nigeria sempat membuat situasi transportasi udara memanas setelah harga avtur naik tajam. Tekanan itu muncul ketika pasar minyak dunia ikut terguncang usai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang memicu kekhawatiran pasokan energi dan mendorong harga minyak melonjak.

Meski ketegangan sempat meningkat, maskapai-maskapai di Nigeria tetap terbang pada Kamis. Langkah itu meredakan kekhawatiran bahwa penerbangan domestik akan berhenti total, setidaknya untuk sementara.

Lonjakan minyak langsung menekan biaya maskapai

Kenaikan harga minyak global segera dirasakan oleh industri penerbangan karena bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar. Pada Kamis, harga minyak sempat menembus lebih dari $126 per barel, level tertingginya sejak 2022.

Lonjakan tersebut terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. Kondisi itu membuat pasar energi bergejolak dan dampaknya cepat merambat ke sektor transportasi udara.

Sejumlah maskapai di Eropa juga disebut memangkas jadwal penerbangan akibat biaya bahan bakar yang meningkat. Selain itu, kekhawatiran soal pasokan yang makin ketat menambah tekanan pada operasional penerbangan di berbagai negara.

Nigeria masih rentan meski produksi minyak naik

Sebagai negara produsen minyak terbesar di Afrika, Nigeria sebenarnya memiliki produksi domestik yang meningkat. Namun, kondisi itu belum cukup kuat untuk melindungi maskapai di dalam negeri dari dampak gejolak harga minyak dunia.

Kilang besar Dangote disebut telah meningkatkan produksi avtur, tetapi data Kpler yang ditinjau AFP menunjukkan pengaruhnya belum mampu meredam tekanan di pasar domestik. Dengan situasi seperti ini, kenaikan pasokan lokal belum sepenuhnya menjadi bantalan bagi industri penerbangan.

Asosiasi Operator Maskapai Nigeria atau Airline Operators of Nigeria bahkan sempat mengancam menghentikan penerbangan pada Kamis. Namun data pelacakan penerbangan yang dilihat AFP menunjukkan Air Peace, Max Air, dan Rano Air tetap beroperasi.

Dialog dengan pemerintah menahan eskalasi

Ancaman mogok itu akhirnya bisa diredam untuk sementara setelah pemerintah menggelar pembicaraan dengan para operator. Dalam dialog tersebut, pemerintah juga menjanjikan keringanan utang, yang membantu menenangkan situasi dalam jangka pendek.

Ini menjadi kali kedua dalam dua pekan ancaman penghentian operasi maskapai berhasil dihindari. Meski begitu, kondisi ini belum menghapus tekanan biaya yang terus membayangi perusahaan penerbangan di Nigeria.

Bagi maskapai, kenaikan avtur berarti beban operasional yang semakin berat di tengah pasar energi yang belum stabil. Selama harga minyak masih mudah bergejolak, risiko gangguan operasi tetap terbuka dan bisa muncul kembali kapan saja.

Penerbangan masih sangat penting bagi mobilitas warga

Dampak dari isu ini tidak berhenti pada sisi bisnis penerbangan. Di Nigeria, pesawat masih menjadi pilihan penting bagi banyak warga karena perjalanan darat di sejumlah wilayah dinilai berisiko.

Gangguan keamanan, termasuk aksi kelompok bersenjata dan kasus penculikan, membuat jalur darat kerap dihindari. Karena itu, warga yang mampu lebih memilih terbang untuk perjalanan antarkota dibanding menempuh rute darat yang lebih rawan.

Situasi tersebut membuat ancaman penghentian penerbangan menjadi isu yang sensitif. Setiap gangguan layanan dapat langsung memengaruhi mobilitas masyarakat, konektivitas antarkota, dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada transportasi udara.

Exit mobile version