Kasus kepulangan Gim Suyati ke Batang menunjukkan bahwa persoalan pekerja migran bermasalah tidak selalu berhenti pada rindu keluarga. Di balik perjalanan pulang setelah 31 tahun hilang di Malaysia, ada urusan dokumen yang berlarut dan bantuan dari sahabat yang rela turun tangan langsung.
Gim akhirnya bisa kembali ke Desa Adinuso, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, setelah lama tak diketahui nasibnya. Bagi keluarga, momen itu menjadi jawaban dari penantian panjang yang selama bertahun-tahun hanya disandarkan pada harapan dan doa.
Perjalanan Gim ke Malaysia bermula pada 1995 lewat agen tenaga kerja yang tidak resmi. Kontak dengan keluarga masih sempat terjalin sampai sekitar 1997, lalu semuanya terputus tanpa jejak yang jelas.
Sebelum kabar kepulangan muncul, Gim sempat menyampaikan keinginan untuk pulang ke Indonesia. Setelah itu, tidak ada lagi kabar yang masuk, dan keluarga kehilangan pegangan untuk melacak keberadaannya.
Pencarian yang tak pernah benar-benar berhenti
Keluarga tidak tinggal diam selama puluhan tahun. Anto, putra kedua Gim, bahkan dua kali bekerja di Malaysia untuk mencari jejak ibunya, masing-masing pada periode 2002 sampai 2004 dan 2005 sampai 2008.
Meski sudah berusaha langsung ke lapangan, pencarian itu tetap buntu karena keluarga tidak memiliki alamat atau petunjuk lain. Dalam situasi seperti itu, harapan menjadi satu-satunya modal yang mereka simpan.
Titik terang baru muncul saat Kamarudin bin Harun datang langsung ke Desa Adinuso. Menurut Anto, pria asal Malaysia itu datang meski kondisi kesehatannya tidak begitu baik, dan kedatangannya memberi harapan baru bagi keluarga yang sudah lama tak punya kabar apa pun.
Dokumen menjadi hambatan terbesar
Meski keberadaan Gim akhirnya diketahui, proses pemulangannya tidak langsung mulus. Status kewarganegaraannya sempat diragukan karena ia berangkat ke Malaysia sebelum era e-KTP dan hanya memiliki dokumen yang terbatas.
Masalah administrasi membuat kepulangan itu tersendat cukup lama. Anto menyebut pengurusan dokumen berjalan sangat lambat, bahkan ia hampir kehabisan masa tinggal di Malaysia sebelum keluarga meminta bantuan anggota DPR RI asal Batang, Yoyok Riyo Sudibyo.
Setelah bantuan itu masuk, proses yang sebelumnya tidak kunjung selesai berubah jauh lebih cepat. Anto mengatakan urusan yang ia tunggu selama dua minggu akhirnya rampung hanya dalam tiga hari.
Keluarga kemudian menemukan keberadaan Gim pada 14 April 2026. Anto lalu berangkat ke Malaysia pada 21 April 2026 untuk menjemput ibunya, meski pemulangan masih harus menunggu penyelesaian administratif.
Bagi keluarga, jeda waktu itu terasa berat karena kabar baik sudah muncul, tetapi kepastian belum datang sepenuhnya. Namun mereka tetap mengikuti seluruh proses sampai Gim benar-benar bisa pulang ke Batang.
Pulang dengan rasa lega dan duka
Kini Gim sudah kembali menginjak tanah kelahirannya setelah 31 tahun jauh dari rumah. Kepulangan itu disambut haru, tetapi juga menyisakan luka karena suaminya telah meninggal dunia pada 2005 dan tidak sempat bertemu dengannya lagi.
Anto tak menutupi rasa emosinya saat sang ibu berhasil dibawa pulang ke kampung halaman. Ia menilai perjuangan itu tidak mudah karena birokrasi berjalan tanpa tenggat yang jelas dan sempat membuat proses berlarut.
Dari pengalaman itu, Anto juga menyoroti persoalan yang lebih luas di balik nasib pekerja migran bermasalah. Menurutnya, identitas dan asal-usul seseorang seharusnya bisa lebih mudah diverifikasi lewat desa atau jaringan keluarga, sehingga kasus serupa tidak perlu terjebak terlalu lama dalam kebuntuan administrasi.
Source: www.merdeka.com