Belum Paham Pasar Modal, Purbaya Sarankan Gen Z Belajar Dulu Sebelum Kelola Dana

Meningkatnya jumlah investor muda di pasar modal ternyata tidak otomatis membuat mereka siap menghadapi risiko. Purbaya Yudhi Sadewa menilai antusiasme Gen Z untuk masuk ke instrumen investasi memang patut diapresiasi, tetapi bekal pengetahuannya tetap harus diperkuat terlebih dahulu.

Sorotan utama Purbaya bukan pada keberanian anak muda membeli saham, melainkan pada kecenderungan merasa sudah paham hanya karena sudah mulai bertransaksi. Menurutnya, pasar modal menuntut pemahaman yang lebih luas, terutama soal risiko saat harga bergerak naik turun.

Gen Z jadi porsi besar di pasar modal

Purbaya mengungkapkan sekitar 57 persen partisipan di pasar modal berasal dari kalangan Gen Z. Data itu menunjukkan investor muda kini memegang peran besar dalam aktivitas investasi domestik.

Kondisi tersebut memberi sinyal positif bagi pertumbuhan pasar. Namun, besarnya keterlibatan investor muda juga membuat persoalan literasi keuangan semakin penting untuk diperhatikan.

Purbaya menilai sebagian investor muda datang dengan rasa percaya diri tinggi. Meski begitu, rasa percaya diri itu belum tentu diiringi pemahaman yang cukup tentang mekanisme investasi.

Pentingnya belajar sebelum memegang kendali penuh

Dalam pandangan Purbaya, investor yang belum benar-benar memahami seluk-beluk pasar sebaiknya tidak buru-buru mengelola dana sendiri. Ia menilai lebih aman bila dana ditangani dulu oleh pihak profesional sambil proses belajar terus berjalan.

Ia menegaskan bahwa keberanian masuk ke pasar modal tidak cukup jika tidak disertai kemampuan membaca risiko. Keputusan yang lahir dari pemahaman dinilai jauh lebih sehat dibanding langkah spekulatif yang hanya mengandalkan keyakinan diri.

“Kalau Anda memang jago. Tapi kalau enggak, ikutin saja dulu sambil belajar,” kata Purbaya.

Pernyataan itu menempatkan proses belajar sebagai bagian penting, bukan sekadar pelengkap. Bagi investor baru, pendekatan hati-hati bisa membantu menekan potensi kerugian saat pasar bergerak tidak menentu.

PINTAR Reksa Dana disebut bantu disiplin investasi

Di tengah pembahasan soal kehati-hatian, Purbaya juga menyinggung Program Investasi Terencana dan Berkala atau PINTAR Reksa Dana. Program ini disebut sebagai salah satu cara untuk membantu pengelolaan risiko secara lebih disiplin.

Melalui pendekatan investasi bertahap atau rupiah cost averaging, investor tidak perlu terus mencari waktu terbaik untuk masuk pasar. Cara ini dipandang bisa mengurangi tekanan dari market timing, yaitu usaha menebak momen paling tepat untuk membeli agar mendapat harga paling menguntungkan.

“PINTAR memitigasi risiko market timing. Anda tidak perlu lagi pusing kapan waktu terbaik untuk masuk ke pasar,” ujar Purbaya.

Bagi investor muda yang mudah terpengaruh pergerakan harga, pendekatan seperti ini dinilai relevan. Dana yang dikelola secara terencana juga bisa membantu mengurangi keputusan emosional saat pasar bergerak liar.

Literasi keuangan masih jadi fondasi utama

Purbaya menegaskan bahwa pertumbuhan jumlah investor muda tidak cukup dilihat dari sisi kuantitas. Ia menilai peningkatan partisipasi harus berjalan seiring dengan literasi keuangan agar investasi benar-benar menjadi sarana membangun aset masa depan.

Ia juga menyoroti pentingnya menempatkan dana pada pihak yang memang punya keahlian di bidangnya. Dalam konteks pasar modal, pesan itu berarti investor perlu tahu batas kemampuan sendiri sebelum menentukan strategi.

“Jadi anggapnya semuanya tidak tahu. Taruh di ahlinya, biar mereka kelola,” kata Purbaya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pasar modal bukan ruang untuk sekadar ikut tren. Bagi Gen Z dan investor pemula lainnya, disiplin belajar, memahami risiko, dan memilih pengelolaan dana yang tepat tetap menjadi bekal utama agar investasi berjalan sehat dan berkelanjutan.

Exit mobile version