Belarus Dilirik untuk Traktor Hingga Dump Truck, Indonesia Cari Mitra Pangan dan Industri

Pembicaraan Indonesia dengan Belarus kini bergerak ke arah yang lebih konkret karena menyentuh kebutuhan langsung di lapangan, mulai dari pertanian hingga pertambangan. Fokusnya bukan hanya membeli alat berat, melainkan juga mencari teknologi, opsi perakitan, dan peluang hilirisasi yang bisa memperkuat industri nasional.

Dalam rangka Sidang Komisi Bersama ke-8 RI–Belarus, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meninjau sejumlah industri manufaktur unggulan di Minsk. Langkah ini menunjukkan bahwa kerja sama kedua negara sedang diarahkan pada barang strategis yang relevan untuk mekanisasi pertanian, industrialisasi, dan modernisasi sektor-sektor penting di Indonesia.

Tiga perusahaan, tiga kebutuhan berbeda

Airlangga didampingi Wakil Menteri Industri Belarus, Leonid Ryzkovsky, saat mengunjungi tiga perusahaan besar yang menjadi tulang punggung industri alat berat dan otomotif Belarus. Masing-masing perusahaan menawarkan ruang kerja sama yang berbeda, tetapi semuanya terkait erat dengan kebutuhan Indonesia.

Minsk Tractor Works atau MTZ menawarkan teknologi traktor dan mesin pertanian modern. Perusahaan ini juga disebut siap menyesuaikan spesifikasi produk dan membuka ruang transfer teknologi untuk mendukung program food estate serta peningkatan produktivitas pertanian.

Minsk Automobile Plant atau MAZ membahas peluang pengembangan kendaraan komersial, bus, dan kendaraan khusus industri. Opsi perakitan lokal dan kendaraan rendah emisi juga ikut masuk dalam pembahasan sebagai bagian dari penguatan industri otomotif dan transportasi.

BelAZ Holding Management Company menjadi sorotan karena bergerak di sektor alat berat pertambangan. Pembahasannya diarahkan pada kebutuhan dump truck yang efisien, sejalan dengan kebutuhan armada yang andal di sektor tambang Indonesia.

Belarus dilihat sebagai mitra yang relevan

Ketertarikan Indonesia terhadap Belarus tidak muncul tanpa alasan. Negara itu memiliki basis manufaktur yang kuat, dengan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB mencapai 20,3 persen berdasarkan data 2024.

Di sisi lain, tingkat swasembada pangan Belarus berada di sekitar 96 persen. Kondisi tersebut membuat Belarus menarik untuk dijajaki sebagai mitra teknologi dan industri, terutama ketika Indonesia juga ingin memperluas pilihan pemasok alat berat yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Kerja sama semacam ini dipandang penting untuk mendukung produksi dalam negeri. Pada saat yang sama, Indonesia juga membutuhkan mitra yang bisa membantu modernisasi sektor strategis tanpa berhenti pada transaksi barang semata.

Pertanian dan tambang jadi dua titik utama

Di sektor pertanian, teknologi yang sesuai dinilai dapat mempercepat pengolahan lahan dan meningkatkan produktivitas. Jika kebutuhan teknis di lapangan cocok, mesin dan teknologi dari Belarus berpotensi membantu program mekanisasi pertanian modern di Indonesia.

Sektor pertambangan juga mendapat perhatian besar karena kebutuhan logistik dan produksi di sektor ini terus menuntut armada yang efisien. Airlangga menilai perusahaan-perusahaan Belarus memiliki pengalaman memproduksi berbagai alat berat yang dapat mendukung industrialisasi dan mekanisasi di Indonesia.

Pembahasan dump truck di BelAZ terkait langsung dengan skala kebutuhan tambang nasional. Indonesia mengekspor sekitar 800 juta ton batu bara per tahun, sehingga armada yang andal menjadi faktor penting dalam operasi sektor tersebut.

Hilirisasi dan teknologi hijau ikut masuk meja pembahasan

Kerja sama yang dijajaki tidak hanya berhenti pada pengadaan alat. Kedua pihak juga membicarakan peluang inovasi yang lebih berkelanjutan, termasuk studi penggunaan baterai nikel untuk modernisasi alat pertanian dan pertambangan agar lebih efisien dan ramah lingkungan.

Ada juga penjajakan pengembangan singkong atau cassava menjadi etanol sebagai sumber energi terbarukan. Arah ini memperlihatkan bahwa pembahasan kedua negara mulai menyentuh pemanfaatan sumber daya bernilai tambah yang lebih luas.

Bagi Indonesia, pendekatan seperti ini sejalan dengan agenda hilirisasi. Bagi Belarus, peluangnya ada pada pengembangan kerja sama industri yang lebih dalam, bukan sekadar penjualan produk jadi.

Pemetaan kebutuhan jadi langkah lanjutan

Airlangga menilai komunikasi yang lebih intensif antar pelaku industri kedua negara perlu diperkuat agar pembahasan tidak berhenti di tingkat wacana. Pemerintah Belarus disebut aktif mempelajari pasar Indonesia, tetapi masih memerlukan informasi yang lebih rinci tentang kebutuhan teknis di lapangan.

Karena itu, kedua negara sepakat melakukan pemetaan kebutuhan bersama melalui forum konsultasi reguler. Cara ini diharapkan membuat solusi teknologi dari Belarus lebih cocok dengan kondisi geografis Indonesia, kebutuhan industri, dan arah pembangunan nasional yang menempatkan ketahanan pangan serta penguatan basis manufaktur sebagai prioritas.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button