Belanja Pusat Melaju Kencang Di Awal 2026, Defisit APBN Ikut Membesar

Tekanan fiskal pada awal 2026 terlihat dari dua arah sekaligus: belanja negara melonjak cepat, sementara defisit anggaran ikut membesar. Hingga 31 Maret 2026, total belanja negara sudah mencapai Rp815 triliun dan naik 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pergerakan ini membuat awal tahun berjalan lebih agresif dibandingkan awal tahun lalu. Meski pendapatan negara masih tumbuh, laju pengeluaran bergerak lebih kencang sehingga neraca anggaran mencatat pelebaran defisit yang cukup tajam.

Belanja pusat jadi penggerak utama

Kenaikan terbesar datang dari belanja Pemerintah Pusat yang terealisasi Rp610,3 triliun. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan Rp413,2 triliun pada Januari hingga Maret tahun lalu.

Di dalamnya, belanja Kementerian dan Lembaga mencapai Rp281,2 triliun. Pos ini tumbuh 43,4 persen secara tahunan dan menandakan akselerasi pengeluaran yang kuat pada tiga bulan pertama tahun ini.

Belanja non-K/L juga bergerak lebih cepat. Realisasinya mencapai Rp329,1 triliun, atau naik 51,5 persen dibandingkan kuartal pertama tahun lalu.

Transfer ke daerah justru sedikit turun

Berbeda dengan belanja pusat yang menguat, Transfer ke Daerah tercatat Rp204,8 triliun. Nilai itu sedikit lebih rendah dibandingkan Rp207,1 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Koreksi 1,1 persen ini membuat komposisi belanja negara di awal tahun lebih berat ke pemerintah pusat. Dengan begitu, dorongan fiskal pada kuartal I-2026 lebih banyak ditopang oleh pengeluaran pusat ketimbang penyaluran ke daerah.

Defisit ikut melebar lebih dalam

Lonjakan belanja tersebut beriringan dengan defisit anggaran yang membengkak. Hingga 31 Maret 2026, defisit tercatat Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto.

Pada periode yang sama tahun lalu, defisit masih berada di Rp99,8 triliun atau 0,41 persen dari PDB. Perbandingan itu menunjukkan tekanan pada anggaran negara jauh lebih besar pada awal 2026.

Meski defisit melebar, pemerintah tetap menjaga batas defisit tahunan di level 2,68 persen terhadap PDB. Target tersebut menjadi rambu utama dalam pengelolaan fiskal sepanjang tahun berjalan.

Pendapatan negara masih bertahan di jalur tumbuh

Di sisi penerimaan, pendapatan negara hingga akhir Maret 2026 tercatat Rp574,9 triliun. Realisasi itu setara 18,2 persen dari target pendapatan APBN setahun penuh yang dipatok Rp3.153 triliun.

Pendapatan negara juga masih tumbuh 10,5 persen secara tahunan. Artinya, sisi penerimaan tetap memberi kontribusi positif bagi kas negara meski laju belanja bergerak lebih cepat.

Kombinasi belanja yang melompat, transfer ke daerah yang sedikit menurun, dan defisit yang melebar menggambarkan awal tahun fiskal yang cukup agresif. Dalam situasi ini, belanja pusat tampil sebagai motor utama, sementara pendapatan negara masih menjaga momentum di tengah tekanan anggaran yang meningkat.

Exit mobile version