Lonjakan kebutuhan pokok menjelang Idul Adha membuat pangan murah kembali menjadi perhatian warga di Jawa Barat. Untuk meredam tekanan harga, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat menggelar Pasar Murah 2026 secara serentak di enam kabupaten dan kota.
Program itu menyasar Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bandung, Kota Bogor, Kota Cirebon, dan Kota Tasikmalaya. Dengan mekanisme subsidi distribusi dan pemangkasan rantai pasok, sejumlah komoditas dijual di bawah harga pasar agar lebih mudah dijangkau masyarakat.
Antusiasme warga terlihat dari jumlah pengunjung yang datang ke berbagai titik pelaksanaan. Kepala Disperindag Provinsi Jabar Nining Yuliastiani menyebut sekitar 6.000 orang memanfaatkan pasar murah tersebut, dengan mayoritas pengunjung adalah ibu rumah tangga.
Pasokan besar untuk menahan harga
Disperindag Jabar menyalurkan pangan murah langsung dari produsen dan distributor. Langkah ini dipakai untuk meredam gejolak harga di lapangan saat kebutuhan pokok cenderung meningkat menjelang hari besar keagamaan.
Pasokan yang disiapkan mencapai belasan ton untuk beragam komoditas penting. Rinciannya meliputi 12 ton beras SPHP, 2,75 ton beras medium, 5,93 ton beras premium, 10.320 liter minyak goreng MinyaKita, dan 2.430 liter minyak premium.
Beras, minyak, dan bahan dapur lain diburu warga
Selain dua komoditas utama itu, warga juga mencari gula pasir, tepung terigu, cabai, bawang merah, dan bawang putih. Komoditas tersebut memang kerap menjadi kebutuhan harian yang paling sensitif terhadap perubahan harga.
Adapun pasokan yang disediakan mencakup 2.638 kilogram gula pasir, 1.070 kilogram tepung terigu, 345 kilogram aneka cabai, 1.352,5 kilogram bawang merah, dan 202,5 kilogram bawang putih. Untuk kebutuhan protein, panitia juga menyiapkan 1.140 kilogram telur ayam, 650 kilogram daging ayam ras, dan 350 kilogram daging sapi.
Belanja harian bisa dilengkapi dalam satu tempat
Pasar murah ini tidak hanya berisi kebutuhan dapur pokok. Sebanyak 1.610 kilogram sayuran segar, 190 kilogram buah-buahan, produk perikanan, dan pangan olahan dari 38 UMKM binaan juga ikut tersedia.
Kombinasi itu membuat warga bisa memenuhi lebih banyak kebutuhan rumah tangga dalam satu kali kunjungan. Kehadiran produk UMKM binaan juga memperluas pilihan belanja sekaligus mendukung pelaku usaha lokal yang ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Dukungan lintas lembaga untuk harga lebih terjangkau
Nining menjelaskan, harga yang lebih murah dapat terwujud lewat kerja sama lintas sektor. Program ini melibatkan Bank Indonesia, Perum Bulog, ID Food, Aprindo, serta Gerakan Pangan Murah dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar.
Disperindag Jabar berharap Pasar Murah 2026 menjadi langkah nyata untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok. Program ini juga diarahkan untuk memperkuat keterjangkauan pangan masyarakat sekaligus membantu pengendalian inflasi daerah menjelang Iduladha.
Source: jabar.antaranews.com