Pemerintah mulai mempercepat laju belanja negara agar efek APBN lebih cepat terasa ke perekonomian. Perubahan ini diarahkan untuk menghindari pola lama yang biasanya menumpuk di akhir tahun, lalu mendorong penyerapan anggaran menjadi lebih merata sepanjang periode berjalan.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut realisasi belanja negara pada kuartal I-2026 sudah mencapai Rp815 triliun. Nilai itu setara 21,2 persen dari total pagu APBN 2026 yang sebesar Rp3.842,7 triliun, sehingga pemerintah menilai dorongan fiskal sudah bergerak sejak awal.
Pola belanja dibuat lebih seimbang
Dalam acara Kick Off PINISI di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Juda menjelaskan bahwa pemerintah sedang mengubah pola distribusi anggaran. Ia menegaskan bahwa ketergantungan pada Triwulan IV sebagai puncak belanja ingin dikurangi agar belanja negara tidak lagi terkonsentrasi di penghujung tahun.
“Dulunya di Triwulan IV itu adalah pertumbuhan yang tertinggi, sekarang ini dicoba untuk diratakan,” ujar Juda Agung. Pemerintah menargetkan penyerapan sekitar 21 persen di Triwulan I, lalu 26 persen pada Triwulan II, dan 26 persen pada Triwulan IV.
Pola tersebut menunjukkan keinginan pemerintah menjaga belanja tetap aktif sepanjang tahun. Dengan ritme yang lebih merata, stimulus fiskal diharapkan bisa dirasakan masyarakat lebih cepat tanpa harus menunggu akhir tahun anggaran.
Serapan anggaran melaju lebih cepat
Kinerja belanja negara pada kuartal I-2026 juga tumbuh lebih kuat dibandingkan periode yang sama sebelumnya. Secara tahunan, realisasinya naik 31,4 persen, jauh di atas laju pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 1,4 persen.
Pada periode pembanding itu, serapan belanja negara baru mencapai Rp620,3 triliun dari total pagu APBN 2025. Selisih ini menunjukkan adanya akselerasi penyerapan anggaran yang cukup besar dalam satu tahun anggaran berjalan.
Kenaikan tersebut juga menjadi sinyal bahwa pemerintah lebih agresif mendorong perputaran ekonomi sejak awal tahun. Di daerah, belanja negara yang bergerak lebih cepat diharapkan ikut menghidupkan aktivitas ekonomi tanpa harus menunggu dorongan besar di akhir periode.
Penerimaan naik, defisit tetap terjaga
Dari sisi penerimaan, pendapatan negara yang berasal dari pajak, penerimaan negara bukan pajak atau PNBP, serta cukai tercatat meningkat 10,5 persen. Perkembangan ini ikut membantu menjaga posisi fiskal tetap dalam pengawasan pada awal tahun.
Kementerian Keuangan juga mencatat defisit anggaran pada kuartal pertama berada di level 0,93 persen terhadap produk domestik bruto atau PDB. Angka tersebut menunjukkan keseimbangan fiskal masih berada dalam batas yang diawasi ketat di tengah percepatan belanja negara.
Juda menilai kombinasi antara percepatan belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat yang masih kuat memberi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah memandang kondisi itu sebagai modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi global.
Target pertumbuhan tetap dipasang 5,5%
Dengan ritme belanja yang lebih cepat, pemerintah optimistis ekonomi pada Triwulan I dapat tumbuh 5,5%. Keyakinan itu bertumpu pada harapan bahwa APBN yang lebih awal bergerak akan memperkuat permintaan domestik dan menjaga aktivitas ekonomi tetap tinggi.
Kementerian Keuangan menilai konsistensi penyerapan anggaran akan sangat menentukan kemampuan pertumbuhan bertahan pada kuartal berikutnya. Jika belanja terus menyebar merata, stimulus fiskal bisa tetap menopang ekonomi tanpa menunggu dorongan besar di akhir tahun.
Realisasi belanja yang telah melampaui seperlima total APBN pada kuartal I memberi gambaran bahwa kebijakan fiskal kini bergerak lebih agresif sejak awal tahun. Pemerintah berharap pola ini mampu menjaga daya dorong APBN terhadap ekonomi nasional sepanjang 2026 secara lebih stabil dan merata.