Sorotan pasar terhadap raksasa teknologi kini tidak lagi berhenti pada seberapa besar mereka menggelontorkan dana untuk kecerdasan buatan, tetapi juga pada seberapa cepat uang itu kembali menjadi pendapatan. Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon berada di bawah tekanan karena belanja AI mereka diperkirakan menembus sekitar US$600 miliar atau lebih dari Rp10.000 triliun pada tahun ini.
Kenaikan belanja sebesar itu membuat investor menuntut pembuktian yang jauh lebih konkret. Pasar ingin melihat apakah investasi masif tersebut benar-benar menguatkan bisnis inti, terutama dari layanan cloud dan iklan digital yang selama ini jadi penopang utama valuasi perusahaan teknologi besar.
Pasar mulai lebih keras menilai belanja AI
Selama tiga tahun terakhir, pengeluaran untuk teknologi AI bergerak sangat agresif dan mengubah cara investor membaca laporan keuangan perusahaan. Arus kas yang sebelumnya terbilang kuat kini banyak tersedot ke belanja modal, sehingga fokus pasar bergeser dari janji pertumbuhan ke hasil yang bisa dihitung.
Joe Maginot, manajer portofolio saham kapitalisasi di Madison Investments, menyoroti perubahan itu dengan nada skeptis. Ia mempertanyakan nilai pengembalian dari biaya yang sudah dikeluarkan, terutama pada perusahaan yang dulu dikenal memiliki arus kas bebas tinggi tetapi kini hampir seluruh arus kas operasionalnya habis untuk capex.
Bagi investor, pertanyaannya kini tidak lagi sebatas seberapa besar perusahaan mampu membelanjakan dana. Yang lebih penting adalah apakah pengeluaran sebesar itu bisa menghasilkan pertumbuhan yang sepadan dengan risikonya.
Cloud jadi tempat pertama pembuktian
Di antara berbagai bisnis teknologi, layanan cloud menjadi area yang paling cepat terlihat sebagai jalur monetisasi AI. Pada kuartal Januari-Maret, pasar memperkirakan pertumbuhannya masih kuat, dengan Amazon Web Services naik 25%, Microsoft Azure tumbuh 40%, dan Google Cloud melesat 50,1%.
Angka itu menunjukkan kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi AI masih tinggi. Namun pasar tidak berhenti pada pertumbuhan semata, karena yang ingin dibuktikan juga adalah apakah cloud cukup besar kontribusinya untuk menutup belanja agresif yang dilakukan perusahaan.
Kinerja pendapatan para pemain besar ini pun masih terlihat solid. Penjualan Alphabet diperkirakan naik 18,7% menjadi US$107,06 miliar, Amazon tumbuh 13,9% menjadi US$177,30 miliar, dan Microsoft meningkat 16,2% menjadi US$81,39 miliar.
Meta unggul di iklan, Microsoft justru paling disorot
Di antara nama-nama besar itu, Meta diperkirakan mencatat lonjakan pendapatan paling tinggi. Pendapatannya diproyeksikan naik 31% menjadi US$55,45 miliar, didorong efektivitas iklan berbasis AI dan posisi kuat perusahaan itu di pasar digital.
Meski demikian, tekanan pasar paling besar justru mengarah ke Microsoft. Saham perusahaan itu tertinggal dibanding para pesaing dan mencatat kinerja kuartalan terburuk sejak krisis keuangan 2008, sehingga ekspektasi terhadap hasil bisnisnya semakin tinggi.
Fokus investor juga tertuju pada kemampuan Microsoft memonetisasi Copilot. Dari lebih dari 450 juta pelanggan enterprise, hanya 3,3% yang berlangganan asisten AI tersebut dengan biaya US$30 per bulan.
Copilot, OpenAI, dan pertanyaan soal daya saing
Rendahnya tingkat adopsi Copilot membuat pertanyaan tentang kecepatan monetisasi AI semakin tajam. Investor ingin mengetahui seberapa cepat Microsoft bisa mengubah minat terhadap AI menjadi pendapatan nyata yang berdampak pada bisnis inti.
Di saat yang sama, muncul kekhawatiran bahwa model AI dari mitra Microsoft, seperti Anthropic, dapat menggeser perangkat lunak tradisional yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama. Microsoft merespons perubahan itu dengan membuka ekosistemnya untuk model AI dari berbagai pihak.
Hubungan dengan OpenAI juga tidak lagi sepenuhnya eksklusif. Meski Microsoft masih akan menerima bagian 20% dari pendapatan OpenAI hingga 2030, OpenAI kini dapat bekerja sama dengan penyedia cloud lain seperti Amazon.
Melissa Otto, kepala riset di S&P Global Visible Alpha, mengatakan perusahaan perlu menjelaskan mengapa model bisnis mereka tidak akan terdampak besar oleh AI. Ia juga menekankan bahwa pasar ingin memahami bagaimana investasi besar dan hubungan strategis dengan OpenAI tetap bisa menjaga daya saing Microsoft di tengah kompetisi yang makin ketat.
Situasi ini membuat pembahasan mengenai AI bergeser dari euforia ke fase pembuktian. Setelah dana triliunan rupiah dialokasikan untuk pengembangan kecerdasan buatan, investor kini menunggu tanda yang lebih jelas bahwa belanja besar itu benar-benar mengalir kembali ke cloud, iklan digital, dan pendapatan inti lain yang menopang saham-saham teknologi besar.
Source: www.cnbcindonesia.com




