Perdagangan saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) kembali dibuka setelah sempat dihentikan sementara oleh Bursa Efek Indonesia. Langkah ini muncul di tengah perhatian pasar terhadap lonjakan harga yang cepat dan dinilai tidak biasa, sehingga bursa mengambil posisi siaga untuk menjaga keteraturan transaksi.
Sebelum suspensi dicabut, BEI lebih dulu menetapkan MDIA dalam status unusual market activity atau UMA. Penetapan itu menjadi sinyal bahwa pergerakan saham emiten milik Grup Bakrie tersebut sedang dipantau lebih ketat karena mengalami kenaikan yang tajam dalam waktu singkat.
Pengawasan bursa tetap ketat
BEI menghentikan sementara perdagangan MDIA pada 23 April 2026 di pasar reguler dan tunai. Keputusan tersebut diambil setelah bursa melihat pergerakan harga yang melonjak cepat dan menimbulkan kekhawatiran atas kewajaran transaksi.
Dalam kondisi seperti ini, penghentian sementara kerap dipakai sebagai ruang jeda agar pasar punya waktu untuk menilai kembali perubahan harga. Bagi investor, langkah tersebut juga berfungsi sebagai perlindungan agar perdagangan tetap berjalan tertib.
Lonjakan harga yang menarik perhatian
Direktur Utama Intermedia Capital, Ahmad Rahadian Widarmana, menjelaskan bahwa saham MDIA memang sempat bergerak sangat agresif dalam waktu singkat. Ia menyebut pada 22 April 2026 harga saham sempat menyentuh Rp 156 per saham, lalu ditutup pada level Rp 144 per saham di hari yang sama.
Pergerakan semacam itu menjadi alasan utama mengapa saham MDIA masuk pengamatan bursa. Lonjakan yang terlalu cepat sering kali memicu penilaian bahwa pasar perlu diberi waktu untuk mencerna perubahan harga sebelum transaksi kembali berjalan normal.
Perusahaan klaim sudah penuhi kewajiban informasi
Manajemen Intermedia Capital menyatakan telah menjalankan keterbukaan informasi sesuai aturan pasar modal. Dari sisi perusahaan, perhatian pasar terhadap MDIA juga dinilai tidak lepas dari mulai terlihatnya perbaikan operasional dalam kinerja perseroan.
Rahadian berharap sentimen positif yang muncul dari perbaikan itu bisa terus bertahan. Ia juga menyinggung penguatan TV share dan peningkatan profitabilitas yang sebelumnya telah disampaikan ke publik sebagai bagian dari pembentuk persepsi investor.
Kinerja operasional mulai membaik
Di sisi laporan keuangan, Direktur Intermedia Capital Yufli Gunawan memaparkan hasil sembilan bulan yang berakhir pada September 2025. Pendapatan perseroan tercatat Rp 465,3 miliar, turun 3,8 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar Rp 483,5 miliar.
Meski pendapatan masih melemah, sejumlah indikator lain justru menunjukkan arah yang lebih kuat. Laba usaha melonjak 224,4 persen menjadi Rp 97,2 miliar, sedangkan EBITDA tumbuh 107,2 persen menjadi Rp 135 miliar.
Peningkatan itu terutama didorong oleh efisiensi biaya pada beberapa pos penting. Beban program dan penyiaran turun 16,8 persen menjadi Rp 204 miliar, sementara beban umum dan administrasi menyusut 21,2 persen menjadi Rp 164,1 miliar.
Rugi bersih masih tertekan selisih kurs
Meski efisiensi internal membaik, Intermedia Capital masih membukukan rugi bersih Rp 10,9 miliar pada periode tersebut. Yufli menyebut tekanan terbesar datang dari rugi selisih kurs sebesar Rp 58,2 miliar akibat fluktuasi nilai tukar rupiah.
Kondisi itu menunjukkan bahwa perbaikan di level operasional belum sepenuhnya terbebas dari risiko eksternal. Namun, pertumbuhan laba usaha dan EBITDA tetap memberi sinyal bahwa pengendalian biaya berhasil memperkuat fondasi kinerja perusahaan.
Dengan perdagangan yang sudah dibuka kembali, saham MDIA kini kembali berada dalam pantauan pelaku pasar. Status UMA, lonjakan harga, dan data kinerja yang menunjukkan efisiensi membuat saham ini tetap menjadi perhatian, terutama selama volatilitas masih tinggi.