Menumpuk cadangan BBM di rumah atau di kendaraan sering terasa aman karena dianggap siap dipakai kapan saja. Namun, bahan bakar yang terlalu lama disimpan justru bisa berubah kualitas dan membawa risiko ke sistem bahan bakar, termasuk injektor yang menjadi lebih mudah kotor.
Masalah ini tidak hanya soal apakah mesin masih bisa menyala atau tidak. Saat komposisi BBM berubah, aliran bahan bakar ke mesin ikut terganggu dan efeknya bisa terasa pada performa kendaraan secara keseluruhan.
Batas simpan BBM tidak bisa dianggap sama untuk semua jenis
Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa BBM yang disimpan konsumen umumnya masih bisa ditoleransi selama 3 sampai 6 bulan. Meski begitu, ketahanan itu sangat bergantung pada jenis bahan bakar dan cara penyimpanannya.
Jayan menegaskan bahwa BBM tetap mengalami penurunan mutu seiring waktu. Jika wadah penyimpanan tidak ideal, proses itu bisa berjalan lebih cepat, apalagi karena tangki kendaraan tidak sepenuhnya kedap udara.
Campuran nabati lebih rentan berubah
Risiko penyimpanan menjadi lebih besar pada BBM yang mengandung unsur nabati seperti biodiesel dan etanol. Pada jenis ini, degradasi bisa terjadi lebih cepat dibanding bahan bakar yang tidak memiliki campuran tersebut.
Guru Besar Institut Teknologi Bandung sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengingatkan bahwa campuran seperti B40 sebaiknya tidak disimpan lebih dari 3 bulan. Menurut dia, campuran itu tidak menyatu secara kimiawi, melainkan hanya tercampur secara fisik.
Dalam penyimpanan yang terlalu lama, solar dan biodiesel bisa terpisah. Solar cenderung berada di bagian atas karena lebih ringan, sedangkan biodiesel mengendap di bawah karena massa jenisnya lebih berat.
Air dalam bahan bakar dapat memicu endapan
Tri juga menjelaskan bahwa biodiesel bersifat higroskopis, sehingga mudah menyerap uap air dari udara. Jika disimpan terlalu lama, kadar air di dalam bahan bakar dapat naik dan membentuk emulsi antara bahan bakar dan air.
Kondisi seperti itu dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri, lumut, dan jamur. Dari sini, gel bisa terbentuk dan ikut tersedot ke sistem pembakaran.
Ketika endapan itu masuk ke aliran bahan bakar, filter berisiko tersumbat. Jika suplai bahan bakar tersendat, mobil dapat kehilangan tenaga dan hanya mampu berjalan pada gigi rendah.
Injektor ikut menerima dampak
Selain filter, injektor juga menjadi bagian yang rentan terkena efek BBM lama simpan. Penyimpanan yang terlalu lama dapat memunculkan lebih banyak kotoran dan deposit, lalu endapan itu menumpuk pada injektor.
Akibatnya, volume bahan bakar yang masuk ke ruang bakar menjadi lebih sedikit. Tri menyebut kondisi tersebut tetap berujung pada penurunan daya mesin, terutama pada kendaraan dengan campuran biodiesel dalam kadar tinggi.
Jayan juga mengingatkan adanya potensi kerusakan pada komponen seperti injektor jika BBM sudah terlalu lama disimpan. Artinya, masalah yang tampak sederhana di awal bisa berkembang menjadi gangguan yang lebih mahal jika terus diabaikan.
Cadangan yang terlihat aman belum tentu layak pakai
Bagi sebagian pemilik kendaraan, BBM cadangan disiapkan hanya untuk keadaan darurat. Namun, lama penyimpanan dan jenis campuran bahan bakar menentukan apakah BBM itu masih layak digunakan atau justru mulai merusak sistem kendaraan.
Perubahan kualitas, pemisahan komponen, kenaikan kadar air, serta munculnya endapan membentuk rangkaian masalah yang saling terkait. Saat bahan bakar masuk ke mesin dalam kondisi tidak stabil, performa kendaraan turun dan injektor ikut terancam.
Source: otomotif.kompas.com




