Bagi banyak pembeli, keputusan antara Ray-Ban Meta Glasses Gen 1 dan Gen 2 tampaknya tidak sesederhana memilih model yang lebih baru. Gen 2 memang membawa peningkatan yang terasa, tetapi jarak harga yang jauh membuat Gen 1 tetap sulit dicoret dari pertimbangan.
Yang menarik, kedua kacamata pintar ini masih berdiri di atas fondasi yang sangat mirip. Keduanya sama-sama memakai prosesor Qualcomm Snapdragon AR1 Gen 1, sehingga dorongan untuk naik ke Gen 2 lebih banyak datang dari penyempurnaan fitur tertentu, bukan perubahan platform besar.
Harga menjadi pembeda pertama
Di pasaran, Gen 1 dijual mulai 224 USD hingga 284 USD. Sementara itu, Gen 2 berada di kisaran 379 USD hingga 499 USD, tergantung gaya frame dan pilihan lensa seperti transition atau polarized.
Selisih harga tersebut terasa cukup lebar karena pengalaman dasar yang ditawarkan keduanya masih berdekatan. Untuk pengguna yang hanya ingin masuk ke ekosistem Ray-Ban Meta tanpa mengeluarkan biaya lebih tinggi, Gen 1 masih terlihat masuk akal.
Baterai memberi alasan kuat untuk Gen 2
Peningkatan paling jelas memang ada pada daya tahan baterai. Dalam pemakaian sedang, Gen 1 diklaim bertahan sekitar 4 jam, sedangkan Gen 2 bisa mencapai sekitar 8 jam.
Perbedaan ini penting untuk perangkat yang dipakai saat beraktivitas di luar ruangan. Gen 1 lebih berisiko habis di tengah sesi penggunaan, sedangkan Gen 2 menawarkan ruang pakai yang jauh lebih lega.
Charging case juga ikut mengalami peningkatan. Case Gen 1 menyediakan sekitar 32 jam tambahan daya, sedangkan case Gen 2 memberi sekitar 48 jam tambahan daya.
Meski angka-angka itu lebih meyakinkan, hasil akhirnya tetap bergantung pada pola penggunaan. Volume musik yang tinggi, sering memakai kamera, dan menjalankan fitur AI dapat mempercepat habisnya baterai pada kedua model.
Video jadi area yang paling terasa berubah
Kedua generasi sama-sama menggunakan kamera ultra-wide 12 MP. Namun, Gen 2 disebut membawa sensor yang ditingkatkan, dan efeknya paling terasa saat merekam video.
Gen 1 merekam video pada 1440×1920 piksel di 30 fps. Gen 2 menawarkan 1080p pada 30 atau 60 fps, serta hingga 3K pada 30 fps.
Bagi pengguna yang sering merekam dari sudut pandang orang pertama, opsi video di Gen 2 jelas lebih fleksibel. Model ini juga lebih menarik untuk kebutuhan konten dengan kualitas lebih tinggi atau footage yang membutuhkan opsi slow-motion.
Untuk foto, keduanya sama-sama berada di resolusi 3024×4032 piksel. Karena itu, pembeda terkuat bukan pada hasil foto statis, melainkan pada kualitas dan keluwesan video.
Desain dan spesifikasi inti tetap dekat
Secara tampilan, tidak ada perubahan desain antara Gen 1 dan Gen 2. Keduanya sama-sama tersedia dalam pilihan Wayfarer, Headliner, dan Skyler.
Pendekatan ini menjaga identitas visual produk tetap konsisten. Perubahan yang lebih mudah dilihat justru ada pada case Gen 2, yang dinilai tampil lebih baik dibanding pendahulunya.
Di bagian penyimpanan, keduanya juga sama-sama membawa kapasitas internal 32 GB. Untuk kebutuhan audio dan interaksi suara, keduanya memakai custom 5-microphone array.
Konektivitas Gen 1 mencakup Wi‑Fi 6 dan Bluetooth 5.2. Pada Gen 2, dukungannya naik ke Wi‑Fi 6E dan Bluetooth 5.3, sementara kompatibilitas sistem operasinya tetap sama, yakni iOS 14.4 atau Android 10 ke atas.
Masih layak untuk pemilik Gen 1
Dari sisi teknis, Gen 2 memang lebih unggul di bagian yang paling sering dirasakan pengguna, terutama baterai dan video. Namun, itu belum otomatis berarti Gen 1 sudah tertinggal jauh.
Karena desainnya sama, prosesor yang dipakai identik, dan spesifikasi dasar masih kompetitif, Gen 1 tetap relevan untuk penggunaan harian. Bagi pemilik yang hanya memerlukan audio, kamera dasar, dan fitur pintar umum, dorongan untuk upgrade belum terasa mendesak.
Dengan kata lain, Gen 2 lebih cocok bagi pengguna yang ingin memaksimalkan pengalaman memakai kamera wearable dan butuh daya tahan lebih panjang. Gen 1 masih sulit disarankan untuk diganti jika prioritas utamanya adalah efisiensi biaya dan kebutuhan harian yang tidak terlalu menuntut.
Source: tech.sportskeeda.com