Bagi jaringan masa depan, tantangan terbesar tidak selalu soal menambah daya pancar. Yang lebih sulit justru menjaga sinyal tetap stabil saat frekuensi naik ke wilayah terahertz yang selama ini terkenal rapuh.
Di titik itulah pencapaian peneliti Jepang ini menarik perhatian. Mereka berhasil mengirimkan data nirkabel 112 Gbps pada frekuensi 560 GHz, sebuah wilayah yang jauh di atas batas yang selama ini menyulitkan sistem elektronik tradisional karena phase noise dan stabilitasnya mudah terganggu.
Keberhasilan itu datang dari pendekatan fotonik yang memakai soliton microcombs. Teknologi ini membelah cahaya laser menjadi garis frekuensi yang sangat stabil dan berjarak sama, lalu menghasilkan carrier dengan noise sangat rendah untuk komunikasi terahertz.
Tim dari Tokushima University, University of Tokyo, dan Gifu University menguji sistem tersebut pada carrier frequency 560 GHz. Hasilnya, laju 84 Gbps tercapai dengan modulasi QPSK, lalu meningkat menjadi 112 Gbps saat sistem memakai 16QAM.
Menurut publikasi di Communications Engineering milik Nature, ini menjadi pertama kalinya laju di atas 100 Gbps dicapai pada frekuensi di atas 420 GHz. Pencapaian itu membuat riset ini menonjol bukan hanya karena cepat, tetapi juga karena berhasil bekerja di area frekuensi yang selama ini dikenal sebagai hambatan teknis besar.
Fokusnya bukan ponsel, melainkan jaringan inti
Teknologi ini tidak diarahkan langsung untuk perangkat ponsel. Target utamanya adalah infrastruktur backbone, terutama sambungan antartitik yang menopang jaringan seluler generasi berikutnya.
Skenario yang dibidik mencakup small cell di kawasan urban padat, jaringan sementara untuk acara besar, dan instalasi di lokasi terpencil. Semua kebutuhan itu memerlukan kapasitas setara fiber, tetapi tanpa selalu harus menarik kabel fisik.
Dampaknya paling terasa di level jaringan, bukan di perangkat konsumen. Backhaul yang lebih cepat dapat membantu layanan multi-gigabit yang lebih stabil, termasuk cloud gaming real-time dan streaming 8K.
Dirancang lebih tahan dipakai di luar laboratorium
Nilai penting lain dari riset ini ada pada upaya membuat sistemnya lebih siap untuk penggunaan nyata. Serat optik dipasang secara permanen ke microcombs berbahan silicon nitride agar penyelarasan tidak mudah bergeser.
Tim juga menambahkan regulasi termal dan perlindungan terhadap perubahan iklim. Dengan rancangan itu, perangkat berukuran kira-kira sebesar kuku tersebut tetap dibuat stabil untuk kebutuhan infrastruktur.
Langkah ini penting karena sistem THz sangat sensitif terhadap gangguan kecil. Tanpa desain yang tangguh, performa tinggi sering berhenti sebagai demonstrasi singkat di meja eksperimen.
Prof. Takeshi Yasui dari Tokushima University menyebut hasil ini sebagai langkah besar menuju sistem wireless 6G yang praktis dan backhaul mobile berkecepatan sangat tinggi. Penekanan pada sisi praktis itu relevan karena banyak demonstrasi THz sebelumnya kuat di laboratorium, tetapi rapuh saat diarahkan ke pemakaian nyata.
Meski begitu, jalan menuju penerapan luas masih panjang. Standar 6G diperkirakan belum final sebelum akhir 2020-an, dan implementasi komersial biasanya menyusul beberapa tahun setelahnya.
Karena itu, 560 GHz belum akan langsung menggantikan koneksi konsumen dalam waktu dekat. Namun, capaian 112 Gbps ini memberi fondasi penting bagi jaringan masa depan saat trafik data terus meningkat dan kebutuhan konektivitas makin menekan batas teknologi wireless.





