Bandung Dipilih Jadi Benteng Lawan Hoaks, Anak Muda Dituntut Aktif Menjaga Ruang Digital

Di ruang digital yang terus dipenuhi arus informasi, anak muda Bandung didorong untuk tidak hanya menjadi pengonsumsi konten, tetapi juga penjaga kualitas informasi yang beredar. Pesan itu menguat dalam Gaskeun Camp: Kolab Jadi Jawara yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital di Bandung, saat hoaks, disinformasi, dan apatisme digital dipandang sebagai ancaman yang kian dekat dengan keseharian pengguna gawai.

Forum bertema “#GaskeunJagaInfo: Kolaborasi Ala Muda, Bela Negara Ala Bandung” itu menempatkan literasi digital sebagai bagian dari bela negara. Dorongannya jelas, generasi Z tidak cukup sekadar aktif di media sosial, tetapi perlu peka saat menghadapi konten yang menyesatkan.

Ancaman digital tidak lagi tampak sederhana

Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Nursodik Gunarjo, menilai medan bela negara kini sudah bergeser ke perangkat digital. Menurut dia, ancaman yang perlu diwaspadai tidak berhenti pada hoaks dan disinformasi, tetapi juga malinformasi dan sikap abai ketika berhadapan dengan informasi.

Ia mengingatkan bahwa serangan di dunia maya tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. “Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk bom atau peluru, tapi bisa berupa tautan, meme, atau komentar yang dirancang untuk memecah belah kita,” ujarnya.

Nursodik juga menegaskan bahwa setiap unggahan memiliki konsekuensi. Dalam pandangannya, keputusan sederhana seperti menyebarkan, menahan, atau memeriksa ulang informasi ikut menentukan seberapa kuat ruang publik digital yang dimiliki bersama.

Bandung dipilih karena pengaruhnya besar di kalangan Gen Z

Pemilihan Bandung sebagai lokasi kegiatan memiliki alasan strategis. Nursodik menjelaskan bahwa kota ini memiliki lebih dari 300.000 mahasiswa dan ribuan kreator digital, sehingga dianggap sebagai laboratorium hidup perilaku Gen Z nasional.

Dari kota ini, tren digital dinilai dapat menjalar cepat ke daerah lain. Karena itu, penguatan literasi dan kolaborasi di Bandung dipandang bisa memberi efek berantai melalui konten yang dibuat para anak muda.

Dengan pendekatan itu, peserta tidak ditempatkan sebagai penonton pasif. Mereka justru diarahkan menjadi pihak yang aktif memverifikasi, mengoreksi, dan menyebarkan informasi yang benar saat berada di tengah banjir konten.

Perubahan algoritma dan AI mempercepat risiko

Ancaman yang disorot dalam forum ini juga berkaitan dengan perkembangan teknologi. Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Badan Siber dan Sandi Negara, Brigjen TNI Berty B.W. Sumakud, menilai perkembangan algoritma dan kecerdasan buatan membuat risiko siber bergerak lebih cepat.

Ia menyebut foreign information manipulation and interference atau FIMI sebagai salah satu ancaman yang dapat mengganggu persatuan. Dalam pandangannya, informasi palsu kini menyebar jauh lebih cepat dibandingkan fakta.

Karena itu, Berty mendorong generasi muda untuk menjadi filter aktif, bukan sekadar penonton yang membiarkan informasi mengalir tanpa pemeriksaan. Peringatan tersebut menegaskan bahwa keamanan digital tidak hanya bergantung pada sistem dan perangkat, tetapi juga pada kedisiplinan publik menjaga ruang informasi agar tidak berubah menjadi alat provokasi.

Kolaborasi lintas komunitas jadi kekuatan utama

Semangat kolaborasi juga muncul dari perwakilan Pandawara Group, Mochamad Agung Permana. Ia mengingatkan bahwa persoalan lingkungan masih besar, dengan Indonesia disebut menghasilkan 22 juta ton sampah tak terkelola per tahun.

Agung menyampaikan bahwa Pandawara tidak ingin bergerak sendirian. Ia mendorong kesadaran kolektif karena sampah dan hoaks, menurut dia, sama-sama mencemari negeri dan sama-sama membutuhkan aksi bersama.

Kehadiran berbagai unsur anak muda dalam Gaskeun Camp memperkuat pesan itu. Forum tersebut menghadirkan mahasiswa dari Universitas Pasundan, Universitas Padjadjaran, Universitas Islam Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Gunung Jati, dan Universitas Komputer Indonesia, lalu dipadukan dengan komunitas seperti Bandung Creative City Forum, MAFINDO, serta puluhan kreator konten lokal.

Komposisi peserta itu menunjukkan bahwa melawan hoaks tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Di tengah derasnya informasi, anak muda Bandung diposisikan sebagai bagian penting dari pertahanan informasi nasional yang menjaga percakapan publik tetap sehat, kritis, dan tidak mudah dipecah oleh konten yang menyesatkan.

Source: www.medcom.id
Exit mobile version