Pembentukan Asosiasi Polo Air Indonesia dipandang sebagai jawaban atas kebutuhan pembinaan yang selama ini tersebar di bawah satu payung bersama cabang akuatik lain. Di tengah upaya merapikan arah pengembangan, fokus utama kini tertuju pada penyusunan sistem yang lebih sesuai dengan karakter polo air.
Sekretaris Jenderal Akuatik Indonesia, Ali A. Patiwiri, menilai polo air tidak bisa diperlakukan sama seperti renang, renang indah, loncat indah, dan open water swimming. Karena kebutuhan pembinaannya berbeda, cabang ini dinilai memerlukan ruang kerja yang lebih khusus agar program yang disusun tidak tercampur dengan kepentingan cabang lain.
Dorongan untuk kompetisi yang lebih teratur
Salah satu kebutuhan yang paling mendesak adalah hadirnya kompetisi yang berjalan rutin. Ali menyoroti pentingnya liga nasional dan kejuaraan kelompok umur sebagai bagian dari sistem berjenjang yang dapat menjaga kesinambungan pembinaan.
Skema seperti itu dinilai penting agar pemain tidak hanya berlatih tanpa tolok ukur pertandingan. Dengan agenda kompetisi yang konsisten, atlet dapat lebih sering merasakan tekanan laga, mengenali ritme permainan yang sesungguhnya, dan mengasah kemampuan secara bertahap.
Regenerasi tidak bisa dilepas dari ajang usia muda
Kejuaraan kelompok umur juga ditempatkan sebagai pintu awal regenerasi. Dari ajang tersebut, atlet-atlet potensial bisa dipantau lebih dini lalu diarahkan naik ke level yang lebih tinggi sesuai tahap perkembangan mereka.
Ali menilai pembinaan yang tertata akan berdampak langsung pada kualitas pemain. Ketika kompetisi berjalan teratur, perkembangan atlet cenderung lebih cepat karena mereka terbiasa menghadapi situasi pertandingan yang nyata, bukan hanya latihan rutin.
Daerah masih menjadi pekerjaan rumah besar
Di luar penguatan di tingkat nasional, persoalan lain yang ikut disorot adalah perkembangan polo air di daerah. Ali menyebut pertumbuhan cabang ini di wilayah regional masih minim, salah satunya karena keterbatasan fasilitas yang tersedia.
Dalam FGD pembentukan Asosiasi Polo Air Indonesia di Stadion Akuatik GBK, Jakarta, Ali menyampaikan harapan agar wadah baru ini bisa mendorong lahirnya klub-klub polo air dan pembangunan sarana di daerah. Arah tersebut menunjukkan bahwa pembenahan tidak hanya ditujukan untuk pusat, tetapi juga untuk memperluas ekosistem di daerah.
Prestasi sudah ada, tetapi sistem perlu diperkuat
Indonesia sejatinya tidak memulai dari nol. Polo air pernah menyumbang medali emas pada SEA Games 2019 dan medali perak pada edisi berikutnya, sehingga modal prestasi memang sudah tersedia.
Namun, capaian itu dinilai belum cukup jika tidak dibarengi sistem pembinaan yang kuat dan berkesinambungan. Karena itu, pembentukan asosiasi diposisikan sebagai upaya agar prestasi tidak bergantung pada momentum sesaat, melainkan lahir dari proses yang lebih terstruktur.
Langkah organisasi masih dalam kajian
Setelah pembentukan ini bergulir, Akuatik Indonesia masih perlu mengkaji struktur organisasi, mekanisme pemilihan kepengurusan, dan koordinasi dengan induk organisasi. Tahap tersebut penting untuk memastikan tidak muncul tumpang tindih kewenangan dalam pengelolaan polo air.
Bila arah pembinaan, kompetisi, dan pengembangan daerah bisa disatukan dalam satu sistem yang lebih jelas, asosiasi ini berpeluang menjadi fondasi baru bagi polo air Indonesia. Dari sana, target jangka panjang tidak hanya sebatas bersaing di Asia Tenggara, tetapi juga menatap level Asia hingga Olimpiade.
Source: www.viva.co.id