Tekanan terhadap saham perbankan besar kembali menjadi penentu arah IHSG saat indeks ditutup melemah ke 7.072,392 pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Di saat yang sama, asing membukukan jual bersih Rp 2,35 triliun dan membuat pasar bergerak dengan nada yang lebih rapuh.
Arus keluar dana itu tidak hanya muncul di satu kelompok saham, tetapi menyebar ke beberapa emiten berkapitalisasi besar. Namun, masih ada saham tertentu yang justru tetap diburu asing sehingga penurunan indeks tidak berlangsung lebih dalam.
Jual bersih asing masih sangat dominan
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai jual bersih asing tercatat Rp 1,24 triliun di pasar reguler. Sementara itu, penjualan juga mencapai Rp 1,10 triliun di pasar tunai dan negosiasi.
Komposisi itu menandakan investor asing masih cenderung berhati-hati terhadap arah pasar domestik. Dalam kondisi seperti ini, saham-saham besar yang biasa menjadi penopang IHSG justru lebih mudah terseret ketika tekanan jual muncul.
Bank besar kembali berada di garis depan tekanan
Sektor perbankan menjadi sasaran utama aksi jual bersih asing. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI mencatat jual bersih asing terbesar dengan nilai Rp 351 miliar.
Di belakangnya, PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA dilepas asing senilai Rp 170 miliar, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI mencatat jual bersih Rp 137 miliar. Meski begitu, ketiganya tetap mampu bertahan di zona hijau pada akhir perdagangan.
BMRI naik 0,68 persen ke level 4.430, BBCA menguat tipis 0,42 persen ke Rp 6.000, dan BBRI bertambah 0,66 persen ke Rp 3.070. BBRI bahkan sempat turun ke level terendah harian di Rp 3.020 sebelum kembali pulih menjelang penutupan.
Komoditas ikut terkena imbas
Tekanan tidak berhenti di saham bank, karena sektor komoditas juga ikut mendapat porsi jual dari asing. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau ANTM mencatat jual bersih asing Rp 117 miliar, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN dilepas senilai Rp 61 miliar.
Berbeda dengan saham bank besar yang masih bisa bertahan, dua emiten ini tidak berhasil keluar dari tekanan hingga penutupan. ANTM turun 1,94 persen ke Rp 4.040, sementara CUAN terkoreksi 2,28 persen ke Rp 1.285 per saham.
Masih ada saham yang menarik minat asing
Di tengah dominasi penjualan, asing juga tetap masuk ke beberapa saham pilihan. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat beli bersih Rp 54 miliar, disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI sebesar Rp 34 miliar.
Pembelian bersih asing juga terlihat pada PT Elnusa Tbk (ELSA) senilai Rp 31 miliar, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar Rp 28 miliar, dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang mencapai Rp 18 miliar. Pola ini menunjukkan pasar belum kehilangan seluruh minat beli, meski sentimen umum masih tertekan.
Level 7.000 tetap jadi area yang diuji pasar
Perpaduan antara pelepasan besar di saham bank dan tekanan pada emiten komoditas membuat IHSG bergerak lebih rentan. Pasar juga masih sangat sensitif terhadap arus dana asing, terutama pada saham yang punya bobot besar dalam perhitungan indeks.
Selama jual bersih asing tetap dominan di pasar reguler maupun pasar tunai dan negosiasi, IHSG berpeluang terus berfluktuasi di sekitar level psikologis 7.000. Di sisi lain, adanya pembelian asing pada sejumlah saham pilihan memberi penyangga terbatas bagi pasar yang sedang diuji tekanan jual.